
“Aduh!” Anna menyentuh kening sambil meringis menahan sakit.
Alan spontan balik badan lalu menghambur menghampiri Anna. “Kamu kenapa?”
“Nggak tau. Kepalaku mendadak pusing banget.”
Akting Anna benar-benar dahsyat. Bahkan tidak ada yang tahu jika Anna hanyalah berpura-pura demi menahan Alan supaya tidak pergi menemui Cintya. Anna sedikit merasa dirinya egois dengan sikapnya itu. Melarang suaminya menemui istrinya yang lain dengan tujuan supaya Cintya marah dan hubungan antara Alan dengan Cintya akan memburuk. Ya, Anna merasa sangat jahat, egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Untuk saat ini mungkin ia akan menjadi sangat kejam, tapi untuk menuju ikhlas itu sangat berat. Sehingga inilah yang ia lakukan.
“Ayo, kamu istirahat di kamar. biar kupanggil dokter keluarga,” tukas Alan cemas.
“Enggak usah. Nggak perlu panggil dokter.” Anna menatap ekspresi wajah Alan yang terlihat sangat khawatir.
Sementara lampu ponsel di saku celana Alan tampak terus kedap-kedip. Alan terlihat semakin gelisah, bingung harus mengambil keputusan. Antara Anna atau Cintya. Disini Anna membutuhkannya, mustahil ia pergi meninggalkan Anna dalam keadaan sakit, apa kata William dan Laura nanti? Di sisi lain ada Cintya yang sejak tadi sudah ngambek ingin ditemui.
“Jangan-jangan, Mama mau punya cucu,” tukas Laura dengan wajah mengira-ngira.
Stefi dan Clarita bertukar pandang lalu tersenyum gembira.
“Waw... Kalu iya bener, berarti aku mau punya keponakan, dong. Asiiik...” ceplos Clarita.
Alan dan Anna saling pandang. Alan menghela nafas, bagaimana mungkin Anna bisa hamil, sedangkan sampai detik ini Alan belum pernah menyentuh Anna.
“Mungkin Anna malu dicek di rumah. Ya udah Alan, bawa aja Anna ke dokter. Kita harus tahu apa yang terjadi dengan Anna sejak dini,” lanjut Laura yang mendadak perhatian pada Anna.
Alan garuk-garuk kepala. Bingung. Bagaimana caranya ia membawa Anna ke dokter sementara ia harus menemui Cintya?
“Baiklah. Ayo, kita ke dokter.” Alan meraih bahu Anna dan membimbingnya menuju ke luar.
***
“Apa masih pusing?” tanya Alan saat ia sudah duduk di mobil yang melaju bersama Anna.
Anna tidak nyaman dengan tatapan Alan yang tampak berbeda, serius sekali memperhatikan wajahnya.
“Kamu nggak pucat, wajahmu keliatan bugar,” ucap Alan penuh penelitian.
“Maksudmu?” Anna mulai cemas jika Alan curiga.
“Sejak tadi kamu baik-baik aja, dan tiba-tiba kamu sakit kepala. Dan sekarang kelihatan tetap bugar. Kurasa nggak ada yang serius dari sakitmu. Kamu bisa ke dokter sendiri, kan?”
Anna mengernyit. “Kamu tega suruh aku pergi sendirian?”
“Aku ada janji dengan Cintya, ini masalah serius, Anna. Plis, bantu aku kali ini aja.”
Anna terdiam, mukanya mendadak memucat. Alan melirik muka Anna yang memelas kemudian mengusap wajah dengan satu tangan.
“Baiklah, aku akan antar kamu. Apa sekarang masih pusing?”
“Masih,” lirih Anna.
Mobil melaju sangat kencang, Alan terlihat terburu-buru menyetir mobilnya. Saat ponselnya kembali kedap-kedip, Alan menyambar ponsel dan menjawab telepon.
“Halo, Cintya!”
Jantung Anna serasa ditusuk mendengar Alan menyebut nama wanita itu. Anna memalingkan wajah ke luar jendela, menyembunyikan wajahnya yang memanas. Menatap gedung-gedung yang dilintasi.
“Cintya plis, jangan pancing masalah. Oke oke, aku akan menemuimu. Iya iya, aku nggak akan lama. Tunggu aku.” Alan tampak frustasi, kelajuan mobil semakin tinggi.
TBC