Holy Marriage

Holy Marriage
Refreshing



Anna mengajak Alan melihat penyu raksasa di Pulau Penyu dengan menaiki perahu di Tanjung Benoa, namun Alan menolak. Ia takut Anna kecapekan. Setelah sederet kegiatan yang ia lalui, Anna tidak mau diajak kembali ke hotel.


Tak puas sampai di situ, sorenya Anna mengajak Alan ke pantai Kuta. Ia ingin menikmati senja di pantai itu, ingin menikmati panorama matahari tenggelam yang indah.


Sambil menunggu senja tiba, Anna menatap hamparan luas pasir di hadapannya. Ia merentangkan tangan menikmati angin sepoi-sepoi yang memainkan pakaian dan ujung jilbabnya. Deburan ombak terdengar riuh.


Alan meraih pinggang Anna dan memeluknya dari belakang.


Masih dalam posisi mata terpejam, Anna berkata, “Di sini banyak orang. Nggak liat apa banyak turis berjemur, banyak orang main ombak? Kamu main peluk-peluk aja.”


“Ini nggak porno. Kamu buru-buru ngajakin aku ke sini. Aku belum sempet minta anu.” Jari-jari Alan menggelitiki pinggang Anna.


“Jangan nakal.”


Alan melirik dua orang remaja yang melintas sambil berbisik.


“Apa liat-liat?” sergah Alan membuat dua remaja itu langsung memalingkan wajah.


Mendengar sewotan Alan, Anna langsung menyikut perut Alan.


“Mereka ngegosip aja kerjaannya, wajar ditegur.” Alan melepas pelukan dan berdiri di samping Anna.


“Aku mau main ombak. Udah lama nggak mandi ombak. Mau ikut?”


“Enggak. Pergilah sana!”


Anna melepas kedua tangan Alan yang melingkar di pinggangnya. Ia membalikkan badan dan berkacak pinggang sembari menatap penampilan suaminya yang mengenakan singlet putih, diluarnya dilapisi kemeja yang seluruh kancingnya terbuka, serta celana pendek selutut.


“Kamu ganteng pakai itu!” Anna menunjuk Alan dengan posisi jari seperti pistol.


Alan tersenyum lebar.


Anna kemudian berlari meninggalkan Alan dan menjemput ombak besar yang bergulung ke arahnya. Anna menjerit kecil diiringi tawa renyah ketika ombak menerjang dan menelan separuh tubuh kecilnya. Sudah lama ia tidak bermain ombak, sesekali ia perlu meluapkan kebahagiaan dengan cara itu. Rasanya, sangat menyenangkan. Jeritannya mampu melepas beban, mampu membuat hatinya semakin plong.


Anna menoleh ke suara yang memanggil. Seorang gadis remaja tersenyum di dekatnya.


“Kau memanggilku?” tanya Anna sembari menendang-nendang bibir air yang naik turun.


“Ini buat Mbak,” seru gadis itu.


Anna kembali menoleh dan mendapati sekuntum bunga disodorkan ke arahnya.


“Bunga? Untuk apa? Dari siapa?”


“Dari Mas yang itu.”


Pandangan Anna mengikuti telunjuk gadis itu. Alan yang duduk di kejauhan sana melambaikan tangan sementara mulutnya asik menyedot minuman.


Anna tersenyum dan geleng-geleng kepala. Harus, ya? Pikirnya geli.


Satu hal yang memacu adrenalin, Anna mengemudikan skyboat dan Alan di belakang memeluknya sangat erat. Dengan kecepatan tinggi, Anna berputar-putar mengelilingi permukaan air. Menyenangkan!


Senja tiba.


Inilah saat yang ditunggu-tunggu, matahari hampir tenggelam.


Warna jingga mendominasi sebagian permukaan bumi. Anna menatap wajah Alan yang juga menjadi jingga akibat diterpa cahaya matahari di ufuk barat sana. Benar-benar indah.


Anna mengabadikan momen jingga itu ke dalam bidikan kamera ponsel Alan berkali-kali. Ia juga sempat meminta bantu orang lewat untuk memotretnya yang bergandengan bersama Alan.


Saat maghrib, Anna dalam perjalanan pulang ke hotel. Setelah keramas dan membasuh seluruh badan di kamar mandi, Anna shalat maghrib berjamaah bersama Alan.


Alan langsung bangkit begitu selesai shalat. Sementara Anna membuka mushaf kecil dan mengaji. Selama mengaji, Anna sempat mendengar suara gembruduk yang kedengaran sibuk di belakangnya, tapi ia malas menoleh. Pandangannya fokus ke bacaan.


TBC