
Anna tersentak saat mobil menyerempet sesuatu dan detik berikutnya mobil bergerak tak tentu arah. Seiring dengan cicitan rem, Anna menjerit histeris saat tubuhnya terhuyung maju. Tangannya berpegangan kuat-kuat, namun itu saja tidak cukup membuat keningnya selamat dari antukan di dashboard.
“Aw!” Anna merintih memegangi kening, hanya butuh beberapa detik saja untuk keningnya berubah menjadi lebam.
Muka Alan berubah cemas saat menatap lebam di kening Anna. Dengan ekspresi merasa bersalah, Alan meraba sisi kening tersebut. Hembusan nafasnya yang terdengar kasar, raut mukanya yang khawatir ditambah sorot matanya yang penuh kecemasan membuat Anna cukup mengerti betapa suaminya itu merasa sangat bersalah.
“Oh my God, kamu terluka. Tunggu di sini. Aku akan carikan kompres.” Alan turun dari mobil yang telah menepi dan ia menghilang entah kemana.
Anna menghela nafas. Setengah hati ia tidak tega membuat Alan jadi serba salah dan merasa di posisi yang salah, padahal Anna yang menjadi penyebab kecelakaan itu terjadi. Jika ia tidak membohongi Alan, tentu Alan tidak akan sefrustasi itu.
Anna turun dari mobil. Duduk di bangku terbuat dari semen yang ada di tepi jalan. Sorot matanya mengarah ke mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya duduk. Mobil hampir terguling akibat menyerempet trotoar, efek dari kebohongan Anna benar-benar bisa membahayakan nyawanya sendiri.
Anna menoleh saat mendengar suara klakson. Mobil silver berhenti di tepi jalan. Anna menangkap wajah sesosok pria saat kaca mobil dibuka. Aldi, dosen muda yang mengajar salah satu mata kuliah di kampus tempat Anna menuntut ilmu. Dulu, Aldi adalah tetangga Anna saat Anna tinggal di rumah lama. Waktu itu Anna baru memasuki awal SMP, dan Aldi sudah kuliah. Hubungan mereka sangat dekat saat itu. Mereka sering berkunjung dan bahkan Anna sering main ke rumah Aldi, memijiti pria itu saat dia mengeluh kelelahan. Mereka berpisah ketika Anna pindah rumah. Dan kini mereka dipertemukan kembali di kampus sebagai mahasiswi dan dosen. Terpisah cukup lama dan terpaut usia lumayan jauh tidak lantas membuat keduanya menjaga jarak, hubungan keduanya langsung akrab begitu bertemu di kampus, meskipun Aldi bukanlah dosen pembimbing Anna.
“Aldi!” irih Anna menatap pria itu. Anna tidak mau memanggil Aldi dengan sebutan Bapak seperti mahasiswi lainnya, lidahnya sudah terlanjur kental dengan memanggil langsung nama. Ia tidak perlu mengubah panggilan, cukup nama. Itu membuat hubungan mereka tidak berubah. Aldi tetap seperti yang dulu. Ia tidak sombong, ramah dan banyak canda.
“Anna, kenapa bengong disitu? Kamu mau kemana?” Aldi mengernyit saat melihat tangan Anna memijit-mijit kening. Ia turun dari mobil lalu mendekati Anna. “Astaga, keningmu terluka. Apa yang terjadi?”
“Nggak pa-pa, kok. Luka ringan. Tadi kejeduk aja.”
“Rencana mau pulang.”
“Ya udah, yuk kuanterin. Sekalian biar aku tahu rumah barumu,” tawar Aldi yang tidak menyadari mobil milik Alan terparkir di sekitar sana.
“Aku bersama Alan. Aku…” Kata-kata Anna terputus saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit keningnya yang lebam. Ia mengangkat wajah dan mendapati Alan sudah duduk di sisinya sambil mengompres luka di keningnya.
Alan bahkan tidak memperdulikan sosok Aldi yang berdiri di dekat Anna sejak tadi.
Aldi menatap interaksi antara Anna dan Alan.
“Anna, sepertinya kau akan baik-baik saja. Kaukah yang bernama Alan?” tanya Aldi membuat wajah Alan mendongak.
“Ya, aku Alan.”
TBC