Holy Marriage

Holy Marriage
Tepuk Jidat



Dahi Alan mengernyit melihat nomor yang memanggil. Stefi. Ada apa malam-malam begini Stefi menelepon? Pertanyaan itu membuat Alan cepat menjawab telepon.


“Halo!” sapa Alan sembari menempelkan benda pipih ke pipi.


“Kak, aku di rumah sakit sekarang,” sahut Stefi di seberang.


“Kenapa?” Alan langsung bangun dan berdiri. “Kamu sakit?”


“Bukan aku yang sakit, tapi Kak Anna kecelakaan.”


Alan terkejut sampai-sampai ponselnya meluncur jatuh dari genggamannya akibat jari-jarinya terasa lemas dan sulit dikendalikan. Untung saja ponselnya baik-baik saja, masih menyala ketika ia kembali menempelkan ke telinga. Suara Stefi masih terdengar jelas.


“Gimana kondisinya sekarang? Dia baik-baik aja, kan?” tanya Alan.


“Kak Anna nggak pa-pa, kok. Luka luar aja,” jawab Stefi. “Tadi di jalan kebetulan aku ngeliat ada orang-orang berkerumun. Nggak taunya Kak Anna jatuh gara-gara nabrak trotoar.”


Alan melepas napas lega. Ia kembali duduk di sisi ranjang. “Syukurlah. Stef, pastiin kalau Anna baik-baik aja.”


“Tadi udah dicek semuanya nggak ada masalah. Cuma luka luar aja. Jangan cemas.”


“Tolong jangan kabarkan masalah ini ke Papa, Mama, apa lagi Ayah Herlambang,”


“Lah, kenapa? Mereka harus tau kabar Kak Anna, kan?”


“Aku nggak mau mereka mencemaskan Anna. Aku juga nggak mau diperepetin Papa kalau Papa tau Anna kecelakaan. Plus, aku juga nggak mau Ayah mertua memandangku nggak bisa ngejagain Anna. Kamu tolong jagain Anna dulu!”


“Iya. Tapi Kak Alan cepetan ke sini, ya. Jemput Kak Anna. Soalnya Kak Anna udah dibolehin pulang.”


Si gengsi yang gedenya melebihi gunung kembali muncul di benak Alan.


“Gini aja Stef, anterin Anna pulang ke rumah Kakak. Kakak nggak bisa jemput.”


“Kenapa?”


“Turuti saja perintahku.”


“Kakak sibuk, ya?”


“Ya. Aku sibuk.”


“Ya udah deh biar Stefi anter.”


Perbincangan diputus dan Alan melempar ponsel ke ranjang. Alan berharap Anna menelepon dan memberi kabar. Tapi harapannya tidak terkabul, ponselnya sepi, tak ada chat ataupun dering ponsel yang sumbernya dari Anna. Sekarang, ia hanya tinggal menanti kepulangan Anna.


Tapi dugaannya salah, ia terbelalak saat membaca pesan masuk dari Stefi yang mengatakan bahwa Anna tidak jadi diantar pulang ke rumah, melainkan pulang ke rumah Herlambang. Konon ceritanya, Anna sudah memberitahukan perihal kecelakaannya kepada Herlambang dan Herlambang segera meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk Anna. Anna meminta dibawa pulang ke rumah Ayahnya.


Alan tepok jidat. Kini mertuanya sudah mengetahui kejadian itu. Jika sudah begini, apa mungkin ia tidak datang ke rumah mertuanya untuk melihat kondisi istrinya? Bagaimana pendapat mertuanya nanti jika ia tidak datang ke sana? Ya sudah, ia pura-pura tidak tahu saja. Seolah-olah ia tidak mendengar kabar tentang Anna. Toh, Anna juga tidak mengabari tentang kecelakaan tersebut.


***


TBC