Holy Marriage

Holy Marriage
Demi Kebaikan s2



Alan menyingkap selimut lalu menuruni ranjang. Ia hanya mengenakan celana bola selutut, tanpa baju. Kemudian ia mendekati box tempat Azzam tidur lelap. Tangannya menjulur mengelus pipi Azzam. Bayi gemuk itu tak bergerak meski jemari Alan terus mengusap wajahnya. Alan mendaratkan kecupan di kening Azzam. Si kecil menggeliat merasa terganggu.


“Mas Alan, jangan ganggu Azzam. Biarkan dia tidur!” Anna merapikan ranjang.


Alan tak perduli, ia masih terus mengecup wajah putranya. “Dia mirip denganku.”


“Mas Alan, udah dong. Jangan digangguin terus, entar bangun.” Anna menahan pundak Alan supaya berhenti berulah.


Mulut Azzam bergerak-gerak seperti gerakan sedang mengemut permen, kemudian matanya yang bulat terbuka. Meski baru bangun tidur, mata Azzam terlihat bening.


Alan tersenyum menatap wajah si mungil yang menggemaskan.


“Halo…!” Alan tersenyum lebar.


Azzam membalas dengan senyum yang juga lebar, giginya belum tumbuh sehingga terlihat semakin lucu dan imut.


“Tuh, kan bangun.” Anna menatap kesal pada Alan.


“Heheee… Maaf. Aku kangen banget sama Azzam.” Alan mencium singkat bibir Anna kemudian menyeret langkah ke kamar mandi sambil menguap. “Panggil aja si Arni, suruh dia ngurusin Azzam.”


“Enggak. Biar aku yang urus Azzam pagi ini.” Anna mengangkat tubuh Azzam dari box.


“Nanti kamu telat ke kampus kalo ngurusin si tembem.”


Anna membawa Azzam ke kamar bayi, tepat bersebelahan dengan kamarnya. Ia memandikan Azzam di bak lalu membawa Azzam turun setelah si kecil menjadi wangi dan mengenakan baju hangat.


Anna meletakkan Azzam di roda, membiarkan bocah imut itu memutar-mutar mainan di roda dan berbicara sendiri dengan riang.


Anna senang sekali melihat putranya begitu aktif.


“Mau minum apa, Non? Susu, sereal atau jus?” tanya Rina menghampiri Anna yang sudah duduk di salah satu kursi meja makan.


“Mmm… Apa ya? Perutku lagi nggak enak. Nggak usah aja deh, nanti sarapan di kampus aja.”


“Jangan, Non. Saya yang bakalan dimarahin Tuan kalau Non nggak minum jus atau susu sebagai pengganjal perut. Lagian sarapan Non kan nggak boleh di kampus lagi, Tuan sendiri yang bilang begitu.”


Anna mengesah. Ia tahu betul Alan yang sekarang, pria itu menunjukkan sifat aslinya yang semakin over protektif. Begitu banyak aturan dan perintah yang Alan berikan, menurutnya demi kebaikan Anna. Semakin besar keperdulian dan perhatian Alan, Anna terkadang merasa terkekang karena sifat posesif Alan yang kerap melarang Anna bepergian tanpa dirinya.


‘Nggak boleh pergi tanpa aku, kemana-mana nggak boleh sendirian. Gimana kalau ada pria brandalan yang lagi-lagi mengusikmu saat aku nggak ada? Gimana kalau kamu terjatuh? Jangan bikin aku jadi suami nggak guna. Azzam juga butuh kamu. Terutama aku.’


Itu sepenggal kalimat yang kerap Alan ucapkan dan cukup membuat Anna hafal dengan susunan kalimatnya. Yassalam… Bahkan soal makanan pun kini banyak aturan. Pokoknya makan harus teratur, setiap pagi wajib minum susu atau jus supaya sehat.


TBC