Holy Marriage

Holy Marriage
Thanks, Anna



“Woi! Kalian apain itu si Joli?” seru Anna sambil berlari kencang membuat empat cowok itu menoleh ke arah Anna.


Mereka saling pandang.


Anna sudah berdiri di hadapan empat cowok itu dengan napas ngos-ngosan. “Apa-apaan ini? Ini di kampus, bukan pasar. Bisa-bisanya kalian ngebuli temen sendiri? Kelakuan kalian udah kayak bukan mahasiswa aja, kayak preman pasar tau nggak?” seru Anna.


Salah seorang cowok yang terlihat sebagai pimpinan rombongan hanya menaikkan alis dan tersenyum kecut. “Emang lo siapa berani protes?”


“Gue? Orang yang bakalan ngelaporin lo lo ke rektor.” Anna mengancam.


“Berani lo? Gue gampar lo entar.” Cowok itu melayangkan tangan bersiap untuk memukul. Sebenarnya ia tidak berniat mendaratkan pukulan, hanya sekedar menakut-nakuti saja sebagai bentuk ancaman. Namun Anna keburu menangkap tangan cowok itu dengan gesit dan membekukknya ke belakang badan.


Tiga cowok di hadapan Anna ambil ancang-ancang untuk membantu teman mereka.


“Nggak usah macem-macem, entar tangan temen kalian ini tambah sakit.” Anna mempererat pelintirannya hingga cowok itu mengaduh dan meringis kesakitan sambil membungkukkan badan.


Melihat itu, tiga cowok lainnya saling pandang dan bergidik ngeri.


“Mau kayak gini juga?” Anna menunjuk cowok yang ia bekuk dengan dagunya. “Makanya jangan resek sama cewek, masak beraninya sama cewek. Bubar sana!”


Tiga cowok itu bergegas pergi. Sementara si cowok yang kini dibekuk oleh Anna merutuk dalam hati karena ditinggalin teman-temannya.


“Lepasin!” erang cowok itu.


“Oke.” Anna melepaskan cowok itu.


Mungkin kulit durian. Pikir Anna tertawa geli. “Makanya di kampus jangan mreman, dong. Kayak di jalanan aja. Masak ngebuli cewek rame-rame. Banci tau nggak?”


Sebenarnya cowok itu ingin marah, tapi enggan. Takut dipelintir lagi atau disepak oleh Anna. Melihat gerakan Anna tadi, jelas Anna memiliki skil di bidang sepak menyepak. Membayangkan itu saja ia sudah merinding, jadi lebih baik bersikap sedikit bersahabat.


“Dia tuh, numpahin buku gue pakai jus.” Cowok itu menunjuk Joli dengan jarinya. “Kesel gue jadinya. Tapi ya udahlah.” Cowok itu kemudian pergi.


Kini tatapan Anna menuju ke wajah Joli yang sembab dan dilinangi air mata.


“Joli, udah. Nggak pa-pa. mereka udah pergi,” tukas Anna.


Mendengar kata-kata Anna, tangis Joli malah semakin pecah dan punggungnya bergetar sesenggukan. Terharu dengan sikap Anna yang sedemikian baik padanya. Sekelumit dendam pun tidak tersisa di mata Anna setelah apa yang selama ini sudah Joli lakukan. Mulai dari mengkhianati, merebut pacar, sampai memfitnah Anna dengan kata-kata tidak senonoh di hadapan banyak orang. Tapi apa yang sekarang Anna lakukan padanya? Masih saja Anna menolongnya.


“Apa mereka sering ngelakuin itu ke lo?” tanya Anna.


Joli tidak menjawab, ia hanyut dalam tangisan dengan kedua telapak tangan yang menutup wajah.


“Udah udah, Joli. Jangan nangis terus. Dibuli emang nggak enak. Dan itu pasti nyebelin banget. Tapi jangan ditangisin terus, entar mata lo bengkak. Bentar lagi kelas dimulai. Kalau mereka macem-macem lagi sama lo, bilang aja ke gue. Biar gue sikat cowok-cowok penakut yang beraninya ama cewek kayak mereka.”


“Thanks, Ann.” Tangis Joli sudah berkurang. Ia sudah bisa bicara dan menatap Anna agak tenang.


Anna menarik tangan Joli dan menggeretnya ke kursi besi dekat tiang. Mereka duduk di sana.


TBC