
Tubuh Anna mendadak lemas. “Tapi apa salahku? Sejak kapan baju-bajuku dibawa pergi? Siang tadi masih lengkap. Jadi pakaianku dibawa kemana? Ke rumah Ayah Herlambang?”
Alan membuka mata dan menatap wajah Anna yang memerah. “Jangan cemas. Tidurlah. Besok kamu akan tahu.”
“Mana mungkin aku bisa tidur dalam kondisi kayak gini. Apa misimu udah selesai dan kamu akan memulangkanku ke rumah Ayah?”
Alan duduk. “Kenapa secemas itu? Apa kamu nggak mau kalau hubungan kita berakhir?”
Anna berusaha mengubah ekspresi wajahnya supaya apa yang ia rasakan tidak ketahuan.
“Jelasin ke aku, plis! Apa aku ngelakuin kesalahan di hadapan orang tuamu? Aku nggak akan bisa tidur sepanjang malam sebelum kamu jelasin ke aku, anemiaku pasti akan semakin parah.” Anna duduk di sisi ranjang dengan mata berair.
“Jangan nangis.”
“Aku nggak nangis.”
“Air matamu udah numpuk, sebentar lagi keluar.”
“Aku minta penjelasanmu.”
“Baiklah. Kalau kamu ngotot pengen tahu sekarang. Ikut denganku!” Alan menyantuh pereglangan tangan Anna dan mengajaknya keluar kamar.
***
Alan membimbing Anna berjalan memasuki ruangan, kali ini Anna tidak bisa berjalan sendiri karena matanya ditutup kain hitam setelah tadi Alan mengajaknya keluar rumah lalu naik ke mobil.
“Iya, sabar!” Alan berdiri di depan Anna setelah menganggap posisi dimana Anna berdiri sudah pas. “Oke, sekarang kubuka.” Alan membuka kain yang menutup mata Anna.
Untuk beberapa saat Anna mengerjap-ngerjapkan mata demi meraih penglihatan yang jelas. Setelah penglihatannya tidak lagi kabur, spontan ia tertegun mendapati diri berdiri di tengah-tengah ruangan luas, di atas lantai porselin bening yang di atasnya menggantung lampu gantung. Anna menatap sekeliling. Sungguh ruangan yang indah.
“Rumah baru kita. Rasanya nggak adil kalau aku nggak memberimu rumah.”
Anna mengangguk senang. Kemudian tanpa sadar ia menghambur dan memeluk Alan erat-erat. Ia tersadar sudah memeluk Alan saat merasakan elusan di punggungnya. Tak lain tangan Alan yang sengaja merayap entah kemana-mana. Cepat-cepat Anna melepas pelukan dan menunduk malu-malu.
Tidak rugi ia menikah dengan Alan meski di atas perjanjian yang memungkinkan keduanya untuk berpisah di waktu yang entah kapan. Suatu saat nanti ia akan membawa ayahnya tinggal di rumah besar itu. Mereka akan hidup bahagia di rumah layak huni, mewah dan sangat nyaman. Ayahnya pasti akan bahagia tinggal di sana.
Rasanya cukup lelah setelah Alan menemani Anna berkeliling melihat-lihat isi rumah yang menurut Anna sangat besar. Mulai dari beberapa kamar, ruangan-ruangan yang entah bisa dipergunakan untuk apa, dapur, kolam renang, halaman belakang rumah, sampai ke lantai atap, sangat luas.
Sudah ada banyak pembantu yang menyambut di rumah itu. Pokoknya rumah sudah siap pakai. Perabotannya juga sudah lengkap.
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? (Ar-Rahman: 13)
Terima kasih Ya Allah, atas segala nikmat yang Engkau berikan. Gumam Anna dalam hati. Ia tidak lupa bersyukur, agar tidak menjadi manusia kufur nikmat. Ia juga tidak akan lupa zakat, berbagi dengan yatim piatu dan orang-orang yang tidak beruntung.
Anna menghempaskan tubuh ke atas kasur empuk dan memejamkan mata dengan bibir menyungging senyum.
TBC