Holy Marriage

Holy Marriage
Genit



“Jangan mempertahankan keangkuhanmu itu, keangkuhanmu justru akan merobohkan hidupmu sendiri. Katakan cinta kalau memang cinta.”


“Obati lukamu. Nanti bisa infeksi,” ucap Alan datar. “Jangan pergi dari rumah. Aku akan kembali sekitar satu jam lagi. Kita perlu bicara.” Alan melenggang pergi. Ia masuk ke garasi dan mengeluarkan mobil. Lalu ia menyetir mobil, melintasi Anna yang berjalan masuk menuju rumah.


Anna terpaku menatap kepergian Alan. Sebenarnya apa yang sedang Alan pikirkan? Ia terlihat kembali dingin setelah mengucapkan kata-kata cinta. Apakah kata-kata itu hanyalah spontanitas terucap karena merasa takut ada kematian?


***


Anna duduk di kursi tepi kolam renang belakang rumah. Ia termenung mengingat sikap aneh Alan kemarin, yang tiba-tiba berubah dingin setelah mengucapkan kata-kata cinta. Setelah itu Anna tertidur dan tidak menemukan Alan saat bangun pagi.


Anna semakin galau. Beberapa hari terakhir setelah kejadian itu, Anna memilih banyak diam. Dan Alan juga diam. Suaminya itu hanya akan bertanya seperlunya saja. Ketika Anna menanyakan bagaimana hubungan Alan dengan Cintya, apakah baik-baik saja? Alan tidak mau menjawab, dia hanya bilang, “Kamu nggak akan pernah ngerti, Anna. Biar Cintya jadi urusanku. Jangan ambil keputusan apapun.”


Mau sampai kapan situasi rumah tangganya seperti itu? Anna merasa perlu memperbaiki. Seperti kata bijak yang Angel katakan, bahwa rumah tangga bukanlah untuk main-main. Inilah saatnya Anna membenahi rumah tangganya. Mempertahankan dan menjadikan Alan suami seutuhnya atau melepasnya. Ia harus bertindak.


Anna melirik arloji di pergelangan tangannya, masih sore. Jam segitu Alan belum pulang. Tekad Anna sudah bulat, begitu Alan pulang, ia akan meluruskan masalah rumah tangganya. Bahwa tidak dibenarkan apa yang sudah mereka lakukan selama ini, bermain-main di atas ikatan pernikahan. Dan Anna akan menuntut satu hal, Alan harus menunaikan kewajibannya sebagai imam dalam rumah tangga dan memulai hidup baru dengannya.


“Mbak Anna, Alan udah pulang,” seru Andra, supir pribadi yang Alan sediakan khusus untuk Anna.


“Minum?” tawar Anna dengan senyum menggoda sambil menyodorkan secangkir kopi panas.


Alan terdiam menatap Anna yang menunjukkan sikap berbeda dari biasanya, lebih centil dan menggoda. Anna mendekatkan wajahnya ke wajah Alan sambil tersenyum lebar. Posisi satu tangan Alan yang merentang di sandaran sofa membuatnya seolah sedang merangkul Anna. Ia meletakkan ponsel lalu meraih gelas, menyeruput sedikit dan meletakkannya ke meja.


“Udah? Segitu aja? Nggak mau nambah? Apa perlu kubantu?” Anna meraih gelas dan kembali mengarahkan gelas tersebut ke bibir Alan.


Alan menahan tangan Anna hingga gelas terhenti beberapa centi dari bibir Alan.


“Ayolah!” Anna menyandarkan kepala di lengan Alan.


Alan menatap senyuman Anna yang begitu manis. Hatinya bertanya-tanya, jin apa yang telah mengubah Anna hingga menjadi secentil itu? Dia terlihat genit sangat menggoda. Alan tercekat menelan ludah. Dadanya menggemuruh merasakan desakan kuat dari dalam dirinya melihat gaya Anna yang aduhai genit, terlebih Anna menempelkan lehernya di pangkal lengan Alan.


TBC