Holy Marriage

Holy Marriage
Terkejut



Baru saja Anna hendak meraih tubuh Azzam, namun tubuh gemuk itu sudah berada dalam gendongan Alan.


“Ada yang terluka, sayang? Mana yang luka?” Alan dengan panik memeriksa kondisi Azzam. Pria itu mengecek sampai ke punggung Azzam serta bagian tubuh yang tanpa lapisan kain.


Anna tertegun sejenak melihat perhatian Alan kepada Azzam. Baru saja Alan bersikap kesal terhadap Azzam, sekarang pria itu sudah kembali memusatkan perhatian pada putranya. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Alan? Pria itu berubah-ubah.


Anna mengambil tisu dan membersihkan tangan Azzam yang basah.


“Maaf!” kata Anna pada pelayan. “Akan saya ganti semua kerugian ini. dan ini uang untukmu karena anak saya sudah membuatmu mengalami kecelakaan ini.” Anna menyerahkan beberapa lembar uang pada si pelayan.


Pelayan mengangguk tanpa mengatakan apa pun. Dia berlalu pergi dan kembali membawa peralatan untuk membersihkan lantai.


“Sayang, bagaimana kalau kita pulang saja?” Tanya Alan kepada Anna. “situasinya tidak memungkinkan untuk kita menghabiskan waktu di sini.”


“Iya, kita pulang aja,” jawab Anna.


Alan mengangguk, membiarkan Anna melangkah di depan. Arni mengikuti membawa berbagai perlengkapan milik Azzam.


Alan melangkah menuju meja kasir.


“Bisa bayar pakai kartu kredit?” Tanya Alan kepada kasir.


“Bisa, Pak.”


Alan mengeluarkan kartu kredit dengan kesusahan karena satu tangannya menggendong Azzam. Bocah itu usil sekali berada dalam gendongan Alan. Sesekali Azzam menggigit-gigit pundak Alan.


“Biar aku aja yang gendong Azzam,” kata Anna sambil merengkuh tubuh Azzam.


“Tidak apa-apa. Aku bisa, kok,” ucap Alan yang mempertahankan tubuh Azzam dalam gendongannya.


Alan menyerahkan kartu kredit dan kasir menggesekkan kartu tersebut.


Usai membayar, Alan memasukkan kartu yang diserahkan kasir kepadanya kembali ke dompet. Baru selangkah meninggalkan meja kasir, Alan menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan mengejutkan. Tampak Naga memasuki restoran. Bukan kedatangan Naga yang membuat Alan terkejut, melainkan wanita yang bersama dengan Naga. Stefi. Naga melangkah sambil mengobrol dengan Stefi. Wajah keduanya dipenuhi dengan senyum kegembiraan. Satu lengan Naga melingkar di punggung Stefi. Kemudian Naga menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Stefi duduk di kursi itu.


“Loh, kamu mau kemana? Katanya kamu mau menghabiskan waktu bersamaku, sekarang kamu menyuruhku pulang sendirian?” jawab Anna dengan nada kecewa.


“Aku harus menyelesaikan urusan dulu. Nanti kita bahas di rumah. Pulanglah dulu, ya!”


“Tapi…”


“Anna, ayolah! Mengertilah! Nanti aku janji akan membahas bersamamu.” Alan akhirnya merangkul Anna dan membimbing istrinya itu keluar restoran. Dia membukakan pintu mobil untuk Anna, lalu mencium kening Anna.


Terpaksa Anna masuk ke mobil.


“Tunggu aku di rumah, sayang!” kata Alan membuat Anna terpaksa mengangguk pasrah.


“Andra, hati-hati setir mobilnya!” kata Alan dan diangguki oleh Andra yang bertugas sebagai supir.


Alan kembali masuk ke restoran sesaat setelah mobil bergerak meninggalkan area restoran. Pandangan Alan langsung tertuju ke meja tempat dimana Naga dan Stefi duduk berhadapan dengan wajah-wajah dipenuhi kegembiraan. Setelah Naga memperistri empat wanita, bahkan belum puas dengan empat wanita, Naga juga sering bermain dengan wanita-wanita malam, lalu sekarang Naga mendekati Stefi, adiknya Alan. Gila!


Langkah lebar Alan membawanya mendekati meja Naga.


“Naga!” geram Alan dengan gigi menggemeletuk dan kulit wajah merah padam. Ketampanannya sama sekali tidak memudar meski sedang dalam keadaan emosi.


Melihat kedatangan Alan, Naga tersenyum seperti tidak mengetahui letak kemarahan temannya itu. Berbeda dengan Stefi yang tampak gugup dan menunduk karena ketakutan. Tentu saja Stefi merasa takut saat dipergoki sedang berduaan dengan seorang pria. Dia baru saja lulus kuliah, dan Alan meminta Stefi supaya tidak menikah dalam waktu dekat ini karena harus memusatkan perhatian dalam mengelola perusahaan. Intinya, seluruh keturunan William harus memahami dalam hal pengelolaan perusahaan besar yang ditangani Alan. Stefi juga pernah menjanjikan akan mengenalkan calon suaminya kepada Alan jika dia sudah menemukan tambatan hati, tapi kenyataannya kini Stefi dipergoki sedang bersama dengan sesosok pria. Stefi juga gugup karena ternyata Alan mengenali pria yang sedang bersamanya sekarang.


BERSAMBUNG


.


.


.