
UWUUUW...maaf lama banget hiatus di sini. udah banyak yang menunggu update rupanya, daku sampai di dm di instagram. Sebagai bentuk apresiasi bagi kalian yg udah setia menunggu, aku up deh hari ini.
spesial update untuk akun
@shantymawardi97
@mb_ummi99
Makaaih udah sangat menunggu.
_______________
Tiba-tiba pintu terbuka, didorong dari arah luar.
Anna menjauhkan tubuhnya dari Alan dengan mundur selangkah.
Tampak William memasuki rumah, melangkah dengan langkah tegas. Raut wajahnya menunjukkan rasa kesal dan lelah. Pria yang usianya tidak lagi muda namun masih memperlihatkan garis ketampanan itu melepas nafas berat. Kemudian tanpa berbasa-basi, ia berkata, “Stefi akan menikah dengan Naga.”
Alan terkejut.
Anna yang sejak tadi mengusap-usap wajahnya supaya tidak terlihat sembab pun, tak kalah kaget. Karena akhirnya pria yang tidak diharapkan menjadi bagian keluarga Alan itu benar-benar masuk ke dalam keluarganya.
“Tidak, Papa. Naga tidak boleh menikah dengan Stefi. Tidak boleh.” Alan berucap tegas dengan sorot mata nanar. Ia tidak lagi bisa menunjukkan ekspresi emosi maksimal karena energinya tidak sekuat dulu.
“Lalu, apakah kau punya solusi lain?”
“Papa carikan satu orang pria, siapa saja, terserah. Lalu nikahkan dia dengan Stefi.”
“Mudah bagimu bicara begitu, tapi kenyataannya tidak semudah itu, Alan. Siapa yang mau menikahi wanita seperti Stefi, sudah megandung begitu?” William tampak frustasi. “Anak itu bikin masalah saja.”
“Tidak ada seorang pun yang menolak saat diiming-imingi uang, termasuk pria yang akan kita nikahkan dengan Stefi. Siapa pun dia, cari dimana pun laki-laki yang tidak punya harta, dia tentu akan tertarik jika diberi uang.”
“Kau menjual adikmu?” William semakin terlihat frustasi.
“Dalam kasus ini, Naga yang bersalah, maka dia yang harus bertanggung jawab.”
“Papa ayolah, menikahkan Stefi dnegan Naga sama saja menambah masalah baru. Stefi akan menghadapi empat istri lainnya. Dan dia tentu akan lebih terpuruk dan jauh dari kata bahagia. Akan lebih baik Stefi menikah dengan laki-laki asing. Kita bikin kawin kontrak untuk pernikahan Stefi, setelah bayinya lahir, maka tergantung pada keduanya, apakah dilanjutka atau tidak. Ini mudah, Pa.”
“Kalau begitu kau carikan saja, satu pria. Siapkan untuk besok. Karena pernikahan Stefi besok akan dilangsungkan.”
Alan pun tidak bisa menjawab. Memangnya siapa orang yang bisa menikahi Stefi? Dan ia hanya diberi waktu beberapa jam saja untuk mencarinya. Gila! Stefi, dia sudah menimbulkan masalah saja.
“Pikirkan itu, Alan! Kalau kau ingin membatalkan pernikahan Stefi, maka kau juga harus mencarikan pengganti pengantin laki-lakinya.” William berucap snagat tegas. Kemudian ia mendekati Alan, tangan kokohnya terangkat dan terjulur ke arah Alan, memgang pundak putranya itu. “Papa percayakan semuanya kepadamu. Kau sungguh tidak ingin melihat adikmu menikah dnegan bajin*an itu, bukan? Kau tidak ingin Naga menjadi bagian dari kehidupanmu bukan? Maka terserah padamu, kali ini papa serahkan tanggung jawab ini kepadamu.”
Alan cukup lama terdiam, membalas tatapan William bimbang. Namun kemudian ia mengangguk.
“Bagus! Papa serahkan masalah ini kepadamu. Katakan kepada Stefi, bahwa papa tidak akan mengurusinya lagi. Dia harus mempertanggung jawabkan semua ini dengan dewasa. Papa kecewa terhadapnya. Setelah pengakuan Stefi waktu itu, sampai sekarang papa tidak menegurnya. Biar dia berpikir.” William menoleh ke arah Anna, dia tersenyum tipis. Senyuman yang terlihat kaku dan getir. Betapa besar beban yang dia pikul akibat tingkah putrinya, karena nama baik keluarganya menjadi taruhan. “Anna, terima kasih sudah menjadi menantu yang baik, istri yang baik untuk Alan. Papa bangga dan menyayangimu.”
Anna malah jadi baper mendengar pernyataan mertuanya, disaat sedang galau begini, mertuanya itu malah memujinya. Seharusnya tidak perlu begitu.
“Begitu banyak masalah yang kau hadapi, semoga akan mendewasakanmu. Dan mengenai Stefi, tolong damping Alan dalam mengambil keputusan, kamu adalah kekuatan untuk Alan. Percayalah, Alan akan selalu mendengarkanmu, berikan masukan dan ide terbaik untuk Alan.” William menepuk sekali lengan Anna.
Ah, Anna malah merasa rendah hati dengan pujian dan kepercayaan yang diucapkan oleh mertuanya. Dia tidak sebaik yang dipikirkan William.
“Papa, aku akan berusaha menjadi yang terbaik di keluarga ini,” lirih Anna, bingung harus bicara apa.
William mengangguk. “Azzam mana?” Kepalanya celingukan sebentar mencari keberadaan Azzam namun tidak dia temukan.
“Di atas, masih tidur,” jawab Anna.
“Papa ingin melihatnya.” William melangkah naik ke anak tangga. Dia menjenguk Azzam ke kamar cucunya itu.
Anna sebenarnya ingin melarang, tapi takut William akan tersinggung. Masak menjenguk cucu saja tidak boleh. Sebenarnya bukan maksud melarang, jika sekedar melihat saja, Anna tidak akan mempermasalahkannya. Tapi Anna hafal betul seperti Azzam. Yang bakalan mengamuk jika tidurnya terusik. Semoga saja tidak, semoga William tidak menyentuh Azzam.
TBC