
Kini Alan hanya bisa meringis kesakitan saat Anna tanpa sadar menjambak rambutnya kuat-kuat. Alan tahu, Anna melakukan itu bukan tanpa disengaja. Anna sedang berusaha mengalahkan rasa sakit dengan meremas apapun. Biarkan saja Anna menarik rambutnya kuat-kuat, kalau perlu menjebolnya jika itu bisa mengurangi rasa sakit yang ditanggung Anna. Alan rela.
Anna sempat melirik kepala Alan yang terseret tangan Anna hingga kini berada di dekat perut Anna. Dan Anna sadar sudah menganiaya suaminya dengan tindakannya itu. Meski diluar kendali, namun Anna sempat membatin kalau itu adalah hukuman untuk Alan yang tega meninggalkannya hingga ia harus sendirian di rumah sakit.
Setelah wajah Alan terlihat memerah akibat jambakan yang terlalu kuat, Anna melepaskannya.
Alan kemudian mengecupi wajah Anna sambil terus membisikkan kalimat-kalimat suci, di bawah sana dokter dan suster terlihat sibuk mengurus persalinan.
Bersamaan dengan suara dokter mengucap hamdallah, suara tangisan bayi terdengar keras memenuhi ruangan.
Seketika itu, Alan langsung mengangkat kepala dan sedetik kemudian kecemasan yang membalut wajahnya sirna melihat sosok bayi mungil berambut hitam lebat yang diangkat oleh dokter.
Subhanallah… Alan gemetar melihat bayi itu. Wahai dzat yang Maha Agung, sungguh besar karunia dan kebesaran-Mu, inilah jawaban dari doa-doa Alan selama ini. Melihat bayinya, Alan menjadi pria paling bahagia dengan air mata yang jatuh di pipinya. Lagi-lagi Alan menangis sesaat setelah sujud syukur.
Anna terharu dan tangisnya kembali pecah saat bayi mungil itu sudah dibedung dan dibawa ke pelukannya di ruang rawat. Kebahagiaan Anna semakin lengkap.
Ya Allah, terima kasih atas anugerah-Mu. Air mata Anna menetes-netes antara terharu dan bahagia. Ia berhenti menangis dan memberikan inisiasi dini untuk menyusui anak pertama kalinya didampingi oleh Alan yang tidak pernah mau jauh dari Anna. Ia layaknya pengawal Anna yang sangat setia. Anna merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan, menyenangkan.
Anna terpesona menatap wajah Anaknya yang sebagian besar memfoto copy wajah Alan. hidungnya yang mancung, bibirnya, juga dahinya yang memiliki ciri khas.
“Makasih, sayang!” ucap Alan seraya mengusap-usap lengan Anna dan mengecup pucuk kepala istrinya.
Anna mendongak menatap wajah Alan di sisinya dan tersenyum.
“Makasih kamu udah berjuang.”
“Padahal aku hampir nyarah, Mas. Aku sempet nggak kuat.”
Alan sungguh terharu sekaligus merasa tidak berguna melihat betapa kerasnya perjuangan Anna. Istrinya itu telah menghadirkan bayi bernyawa yang kuat dan tangguh setelah melewati perjuangan yang bisa saja merenggut nyawanya. Dan apa yang bisa Alan berikan untuk Anna, tidak sebanding dengan apa yang telah Anna berikan untuk Alan.
Keluarga besar Alan menyerbu kamar dan memenuhinya hingga mengisi setiap sudut ruangan saat Anna sudah di bawa pulang ke rumah setelah menjalani perawatan selama sehari semalam di rumah sakit.
Untung saja kamar Anna sangat luas dan mampu menampung jumlah manusia yang lumayan banyak. Satu lagi, untung saja ada Ac yang bisa menyelamatkan bayi dalam gendongan Anna tidak kepanasan.
TBC
Maaf, rombak ulang ceritanya, ini masih lanjutan yg season 1,
Untuk season duanya aku update koq di mangatoon tapi di lapak yg lain, judulnya
ONLY ANNA
Silahkan bagi yg udah tamat baca Holy Marriage season 1 dan bagi yg minat baca season 2, kalian bisa next lanjut baca di lapak ONLY ANNA.
sekali lagi kuingetin, Lapak Only Anna hanya untuk pembaca yg minat baca kelanjutan kisah Anna dan Alan.
Cari aja di kolom pencarian judul itu, atau klik profilku dan pilih judul ONLY ANNA
Love,
Emma Shu