Holy Marriage

Holy Marriage
Jumpa Mantan



Angel mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Anna. Anna menatap serius kain yang masih terbungkus plastik kaca itu. Entah itu baju, celana, atau apa. Yang jelas bahannya kain.


“Ini spesial untuk Anna. Pakai, ya! Kakak jamin Alan akan semakin cinta sama Anna kalau Anna pakai itu.” Angel menyerahkan sebuah paper bag.


Meski dipenuhi tanda tanya, Anna mengangguk dan menerima pemberian Kakaknya dengan seulas senyum.


“O ya, setelah ini, kami mau nonton ke bioskop. Ada film baru yang judulnya Neraka Jahanam. Itu loh, film yang diangkat dari novel best seller. Rekomen banget buat seumuran kita. Dijamin banyak hikmahnya,” ucap Angel antusas. “Kalian mau nonton juga nggak?” Angel menatap Anna dan Alan bergantian.


Mendapat pertanyaan itu, Anna dan Alan saling pandang.


“Mm… Kayaknya enggak, deh,” jawab Alan.


“Entar kalau Kakak mau pulang, Kakak telepon Anna aja. Biar kami jemput dan Anna anterin Kakak pulang ke rumah,” tukas Anna.


“Oke.” Angel tersenyum.


Angel dan Colin meninggalkan kafe duluan setelah selesai menyantap hidangan. Sementara Alan menggandeng tangan Anna melewati beberapa meja. Tanpa sengaja, kaki Anna tersandung kaki yang melintang.


Si pemilik kaki menatap Anna agak gugup.


“Rafa?” Anna spontan mengucap nama itu.


Rafa menggeser duduk agak menjauh dari Joli yang ada di sebelahnya supaya tidak terlihat akrab, tapi percuma, Anna terlanjur memergoki keberadaan mereka.


Rafa salah jika beranggapan Anna akan cemburu melihat kedekatannya dengan Joli. Kedua insan yang ada di hadapannya itu hanyalah masa lalu. Kali ini Anna sama sekali tidak sakit hati melihat Rafa dan Joli berduaan. Bahkan tidak ada reaksi apapun yang ia rasakan. Semuanya biasa saja. Anna mulai sadar bahwa ia benar-benar sudah move on dari Rafa. Tidak ada lagi nama Rafa di hatinya. Nama itu sudah terhapus bersih seiring berjalannya waktu.


Anna tersenyum dan bertanya, “Kalian lagi ngedet?”


“O iya, Rafa, kenalin ini Mas Alan.” Anna menunjuk pria tampan di sisinya.


Alan mengingat-ingat nama yang disebut Anna, Rafa. Nama itu pernah disebut Anna sebagai mantan paacarnya. Jadi, mantan pacar Anna sekarang ada di hadapannya? Alan menatap Rafa dan tersenyum ramah, dibalas senyum kaku oleh Rafa.


“Beb, ini temen sekolahmu?” tanya Alan pada Anna. Bukan Alan banget.


Dalam hati Anna tertawa mendengar Alan yang mendadak memanggilnya dengan panggilan beb. Ia tahu Alan sengaja melakukan itu demi memperlihatkan kemesraan di hadapan Rafa. Alan sedang membantu Anna menunjukkan bahwa Anna memiliki kebahagiaan yang jauh lebih pantas.


“Iya, mereka temen-temenku,” jawab Anna.


“Senang bertemu denganmu,” ucap Alan dan dijawab anggukan oleh Rafa.


Melalui ekspresi wajah yang memerah seperti kepiting sambal, Rafa jelas terlihat sedang iri atas kemesraan Anna dan Alan.


“Oke, kalian lanjutin aja makan malemnya. Kami cabut, aku mesti cepetan pulang.” Tangan kanan Alan yang kokoh merangkul erat pundak Anna.


Dasar Alan, paling bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia pergunakan kesempatan itu untuk merangkul dan mepet-mepet, bahkan tanpa jarak.


“Lanjutin aja ngedetnya, selamat bersenang-senang!” ucap Anna pada Rafa.


Masih dalam posisi merangkul, Alan membawa Anna keluar kafe. Dalam hati Anna bersorak gembira, Alan mengambil sikap yang pas.


TBC