Holy Marriage

Holy Marriage
Kandungan



“Ya udah kamu istirahat.” Alan mendekatkan mulutnya ke telinga Anna hingga suaranya yang lirih hanya didengar oleh Anna saja. Orang lain tidak berhak mendengarkannya, bahkan Wiliam, Laura dan Stefi yang berdiri di seberang ranjang, hanya bisa bertukar pandang.


“Aku akan menemanimu,” bisik Alan di telinga Anna membuat bulu halus di sekujur tubuh Anna meremang merasakan sapuan hangat nafas Alan di sekitar kulit pipinya. “Aku akan selalu ada di dekatmu, aku akan ngejagain kamu. Kata dokter, kamu harus banyak istirahat. Harus jaga stamina demi calon bayi kita. Meski sebenernya aku kangen banget sama kamu, kangen semuanya punyamu, tapi aku rela nggak ketemu si legit demi kesehatanmu.”


Sebenarnya Anna ingin tertawa mendengar bahasa mesum Alan, tapi ia menahannya sebisa mungkin. Matanya tetap terpejam seperti layaknya orang tertidur. Perlahan keksealan yang sejak tadi ia pendam pun memudar dan luluh oleh sikap Alan.


“Kamu jangan salto-salto dan suka loncat sana sini lagi. Kasian calon bayi kita. Kalau Mamanya petakilan, entar begitu lahir, anak kita bisa langsung lompat.”


Sudut bibir Anna tertarik dan membentuk senyum. Alan menegakkan punggung begitu memergoki senyuman Anna.


“Anna!” panggil Alan girang.


Terpaksa Anna membuka mata. Sudah kepergok tersenyum, mana mungkin ia melanjutkan aktingnya yang pura-pura tetap tidur.


“Mama, Papa?” Anna tersenyum menatap kedua mertuanya. Sedikitpun tidak menoleh ke arah Alan. Ia masih agak sebel. Terakhir, matanya terarah ke Stefi dan langsung tersenyum menatap adik iparnya yang juga tengah tersenyum itu.


“Kami mencemaskanmu, Nak.” Laura mendekati Anna dan mengusap lengan Anna penuh nuansa sayang. “Kamu sedang hamil muda, dan kehamilan di trisemester pertama itu sangat rentan. Jaga kesehatan, ya!”


Anna mengangguk.


Baru kali ini Anna mendapatkan perhatian lebih dari Mama mertuanya. Sebelumnya, Laura cenderung sibuk dengan pekerjaan dan kurang perduli padanya. Tapi semenjak ada janin dalam kandungan Anna, Laura bersikap lebih perhatian. Anna bersyukur dalam hati, makhluk ciptaan Tuhan yang bersemayam dalam rahimnya telah membawa kebaikan dan kasih sayang.


“Lain kali kalau ada apa-apa, kamu langsung bilang sama Papa,,” sahut William seraya melirik Alan. “Kamu dan Alan itu masih tanggung jawab Papa. Meskipun kalian sudah menikah, bukan berarti kami sebagai orang tua lepas dari tanggung jawab.”


“Iya, Pa,” jawab Anna.


“Alan, biar Mama dan Stefi yang jagain Anna. Kamu pulang saja,” titah William.


“Enggak, Pa. Anna itu istriku. Aku yang harus menjaganya,” tegas Alan. Kali ini ia tidak mau menuruti perintah Papanya. Ini adalah saatnya menjadi suami siaga. Ia tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.


“Baguslah kalau akhirnya kamu mengerti dengan tanggung jawabmu. Memang itu yang Papa mau sejak tadi. Kalau begitu biar Stefi menemanimu.” Wiliam tidak yakin Alan akan sanggup menjaga Anna dengan baik. Karena di mata Wiliam, selama menjadi istri Alan, Anna diperlakukan dengan tidak baik oleh Alan.


“Aku bisa menjaga Anna sendirian,” sahut Alan.


“O ya? Anna dalam keadaan sehat saja tidak bisa kamu jaga, bagaimana jika dalam keadaan tidak sehat?”


TBC