Holy Marriage

Holy Marriage
Di Klinik s2



Anna kemudian mengirim sms kepada Dhai.


Anna


Saya ingin Tanya kalau profesimu bukan di bagian elektronik, lalu apa?


Kalau kamu jawab pertanyaan ini, saya janji gak akan ganggu kamu lagi


Dhani


Asisten dokter


Anna


Dokter Amira?


Dhani


Bukan.


Udah ya jangan ganggu saya lagi


Anna


Saya ingin berobat kesitu.


Dimana alamatnya?


Lama tidak dijawab. Namun akhirnya Dhani membalas pesan Anna dan menyebutkan alamatnya.


Anna malah semakin bingung, apa hubungan antara Alan dan Dhani yang ternyata adalah seorang asisten dokter. Anna kemudian langsung meluncur menuju ke alamat yang disebutkan.


Sesampainya di alamat, Anna melihat papan nama Dr. Alvian, spog.


Anna langsung turun dari mobil, mendaftar ke meja pendaftaran. Ia melihat nama Tia di meja pendaftaran. Setelah ditanyai keluhan apa yang


“Orang yang namanya Dhani dimana ya?” Tanya Anna kepada Tia, gadis yang sibuk mengurus pendaftaran


“Di dalam, Mbak. Sama dokternya. Kenapa?”


“Nggak apa-apa.”


Anna kemudian ikut mengantri diantara sekian banyaknya orang yang mengantri. Saat namanya dipanggil, ia langsung masuk ke dalam ruangan konsultasi. Ia menarik kursi menghadap seorang wanita bersergam putih yang di lehernya tergantung stetoskop.


“Keluhannya apa, Nona?” Tanya wanita itu sambil menulis.


Nona? Pikir Anna heran. Ia sudah menikah dan memiliki satu anak, apa ia masih kelihatan seperti gadis?


“Saya udah punya anak satu, apa masih pantes dipanggil nona?” Anna mengangkat dagunya supaya wanita di hadapannya itu menatapnya dengan jelas, barangkali lampu di ruangan itu membuat pandangannya kurang jelas karena ukuran lampunya yang kurang besar. Astaga.


“Oh… Wajah imut dan masih seperti umur delapan belas tahun. Saya kira masih belia malah.”


Anna tersenyum mendengar penjelasan wanita itu.


Apa ya? Lah, Anna malah belum mempersiapkan keluhan apa yang akan ia sampaikan saat ditanyai begini. Ya ampun.


“Perut saya sering keram saat haidh.” Akhirnya kalimat itu menjadi alasan baginya.


“Apa setiap haidh keluhan ini selalu muncul, atau baru kali ini?”


“Setiap haidh. Eh baru kali ini. Eh, setiap haidh ding.”


Halah, belepotan, ya ampun.


“Apakah keramnya sampai membuat sakit berlebihan, rasa nyeri yang bahkan bisa sampai emmbuat Nyinya tidak bisa bekerja?”


“Enggak. Ya, nyeri sih, tapi cukup mengganggu aktifitas.”


“Ooh… Itu biasa terjadi pada wanita yang sedang haidh. Biar dokter bikinin resepnya. Nanti ambil obatnya di apotik kami di depan.” Wanita itumencoret-coret sesuatu di kertas kecil, ia menuliskan keluhan yang disampaikan oleh Anna.


“Iya Dhani. Makasih.” ucap Anna sengaja memanggil dengan nama Dhani meski ia tidak tahu apakah benar wanita di hadapannya itu Dhani atau bukan, setidaknya sedikit menyelidiki.


“Sama-sama.”


Wanita itu menjawab tanpa mengelak saat dipanggil dengan nama Dhani, artinya dia memang Dhani.


“Kamu yang namanya Dhani?”


“Iya.” Wanita itu mengangguk. Kemudian ia bangkit berdiri menyerahkan catatan ke ruangan sebelah.


“Kok, itu dikasih ke sebelah. Resep buat saya mana?”


“Resepnya biar dibikin sama dokter. Saya asisten dokter di sini. Nyonya tunggu aja di luar, nanti resepnya dikeluarkan sama asisten yang lain dari ruangan dokter.”


“Mm… Sebelumnya aku mau Tanya sesuatu sama kamu. Ini bukan soal penyakit.”


“Jadi?” Dhani mengernyit heran. Bukankah di klinik tempatnya membahas penyakit, lantas apa lagi yang akan dibahas jika bukan urusan sakit?


“Aku minta waktumu sebentar. Aku mau membahas masalah pribadi. Urusan wanita.”


Dhani masih mengernyit terlihat sangat penasaran, ada apa seorang wanita tiba-tiba datang dan ingin membahas hal pribadi dengannya. Namun kemudian ia berkata, “Kamu membuatku jadi penasaran. Ya udah, kalau mau bicara denganku nanti aja, sekarang aku sibuk. Banyak pasien mengantri.”


“Kapan kamu ada waktu?”


“Selepas jam kerja. Jam empat sore.”


“Oke. Kutunggu di kafe Runner nggak jauh dari sini.”


Dhani mengangguk degan raut penasaran.


Anna melenggang keluar, tak perduli meski namanya dipanggil melalui speaker beberapa kali untuk mengambil resep. Ia tidak membutuhkan resep tersebut.


TBC