
Anna sedang menulis, menyelesaikan tugas kuliah. Di bawah, Azzam menggelayuti baju Anna. Sesekali pantat bocah itu terhempas di lantai saat pegangannya terlepas. Tak jera, Azzam kembali bangkit berdiri dan berpegangan rok Anna.
Sesekali Anna melirik Azzam, tersenyum menatap bocah itu yang terlihat asik memainkan roknya. Lalu Anna kembali fokus menulis.
Gludak!
Anna terkejut melihat Azzam terjungkang. Hebatnya, bocah itu tidak menangis. Anna segera meraih tubuh Azzam dan menggendongnya, menimangnya.
“Duuh… Anak mama jatuh. Nggak pa-pa ya sayang, belajar kuat.” Anna mengelus kepala belakang Azzam. Sungguh Azzam adalah anak yang aktif, ia bergerak terus dan tidak mau diam. Bahkan di dalam gendongan Anna pun, ia masih terlihat sibuk bergerak-gerak. Kini Azzam semakin kuat menggerak-gerakkan tubuhnya minta turun.
Terpaksa Anna melepaskan Azzam dan membiarkan bocah itu kembali bermain di bawah. Azzam kali ini memegangi kursi tempat Anna belajar. Anna buru-buru memegangi kursi saat kursi tersbeut hendak tumbang menimpa tubuh gemil Azzam akibat tenaga Azzam yang terllau kuat menarik kursi. Anna mengangkat tubuh Azzam, menjauhkan Azzam dari kursi dan memberikan mainan lainnya. Namun Azzam menolak, pandangan bocah itu terus tertuju ke kursi. Dia merangkak kembali menuju kursi.
“Ya ampun, Nak. Jangan dipegangi, nanti Azzam kejedot kursi lagi! Udah berapa kali Azzam kejeduk, hayooo…. Apa hobi Azzam ngejedukin kepala ke lantai ya? He hee…” Anna mengambil Azzam dan kembali menjauhkan bocah itu dari kursi. Kali ini Azzam berteriak histeris dengan kedua tangan menjulur ingin menggapai kursi.
Yaaah… kalau begini caranya, bagaimana Anna bisa menyelesaikan tugas kampus? Azzam terus-terusan mengganggunya. Anna akhirnya membiarkan Azzam memegangi kursi dan memainkan kursi itu sesuka hatinya. Tentu saja tak luput dari pengawasan Anna. Anna terus memegangi kursi, takut kursi akan menimpa si kecil. Anna juga memegangi Azzam saat bocah itu hendak tumbang.
“Arni!” Anna memanggil baby siter.
“Tolong kamu ajak Azzam. Aku mau ngerjain tugas. Dari tadi nggak kelar-kelar digangguin si ganteng.”
“Baik, Nya.” Arni tersenyum menatap Azzam dan meraih tubuh bocah itu, sayangnya Azzam menjerit dan menolak. Tangannya berpegangan sangat kuat pada kursi yang diduduki oleh Anna. Tangan lainnya memegangi rok Anna. Sepertinya Azzam masih belum puas bermain dengan kursi ditemani oleh Anna. Azzam bahkan merengek kesal saat melihat muka Arni. Seperti melihat drakula saja.
Memahami hal itu, Anna tersenyum dan meminta Arni meninggalkan kamar. Azzam sedang tidak ingin bermain dengan Arni. Baiklah, Anna mengalah. Ia menyudahi pekerjaannya dan melayani putranya bermain dengan penuh pengawasan.
Sesekali Anna menatap jam dinding, sudah pukul sepuluh malam, Alan belum pulang. Andai saja Alan ada di sisinya, pasti ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Sebab Alanlah yang akan mengambil alih tugas menjaga Azzam. Bahkan sekarang Anna malah sudah mengantuk.
Azzam tidak pernah menolak saat digendong oleh Alan. Azzam begitu lengket sama papanya. Bahkan begitu melihat kedatangan Alan, Azzam akan langsung tertawa dan merangkak mengejar Alan.
“Kapan papa pulang, Nak? Udah jam segini Papa belum pulang juga. Kamu nggak mau main sama bibi Arni, mama jadi nggak bisa belajar.” Anna menciumi pipi gemil Azzam.
Azzam seakan tak terpengaruh dengan ciuman mamanya. Ia masih terus asik bermain sambil mengoceh.
TBC