Holy Marriage

Holy Marriage
Protektif



Anna menghela napas kasar. Semenjak kehamilannya sudah membesar, setiap pagi ia harus menyingkirkan lengan kekar Alan yang merangkul tubuhnya. Tidak hanya di luaran sana Alan terlihat posesif, di kamar yang hanya berduaan saja pun dia terlihat begitu takut kehilangan Anna.


Anna mengusir lengan kekar itu berusaha menyingkirkannya dari tubuhnya, juga mendorong kepala Alan yang menempel di bahunya, hingga hidung suaminya itu tepat melekat di lehernya.


“Mmhh... Mau kemana? Sholat subuh udah, nganu-nganu juga udah. Trus mau ngapain lagi? Bobok aja!” racau Alan dengan kedua mata yang masih terpejam sempurna seraya menarik selimut untuk menutup tubuh keduanya. Sementara pelukannya semakin mengerat, berusaha menunjukkan betapa Anna sangat ia sayangi.


“Mas, udah jam setengah delapan. Bangun gih! Mas kan juga harus kerja.” Anna terus berusaha menyingkirkan lengan Alan dengan kesulitan.


“Hei, istri cantikku! Jangan berontak! Aku masih pengen deket-deket terus sama kamu.” Bukannya bangun, Alan yang berbaring miring, malah meletakkan kepalanya ke atas dada Anna.


Semenjak hamil, Anna kelihatan lebih seksi dan tubuhnya juga bugar, jadinya Alan kepingin dekat terus.


“Mas, bangun! Kalau kayak gini terus, aku gigit kamu!” pekik Anna membuat Alan mengangkat kepala dan tersenyum menatap wajah Anan di bawahnya.


“Jangan teriak-teriak! Entar Rina mikir kalau kamu diapa-apain lagi,” gumam Alan sembari menjepit ujung hidung Anna. Lalu Alan menciumi wajah Anna dengan gemas. Hampir tidak ia lewatkan setiap inci wajah cantik itu dari bibirnya.


“Mas, udah!” Anna mendorong dada Alan. “Tadi malem kan udah. Masih aja, sih. Mesumnya dikurangin! Pergi mandi sana!”


“Iya iya.” Alan bangkit dan menyambar handuk, masuk ke kamar mandi. Detik berikutnya kepalanya nongol keluar. “Sayang, mandi bareng, yuk!”


“Mandi lagi.” Alan mengayunkan alis. Entah kenapa akhir-akhir ini Alan ingin terus-terusan dekat dengan Anna.


“Kurang kerjaan.” Anna tersenyum dan duduk di tepi ranjang. “Kutunggu di bawah ya, Mas!”


“Minta buatin jus alpukat pakai susu sama Rina, ya! Trus langsung diminum, biar jagoan kita sehat. Ibunya juga kuat.”


“Iya.”


Itulah yang Anna alami beberapa bulan terakhir ini. Sikap protective Alan terasa berlebihan. Entahlah, mungkin karena Anna sedang hamil anak pertama, atau mungkin Anna yang baru menyadari sikap yang sebenarnya sudah sejak dulu Alan miliki.


Bukan hanya sebatas persoalan makan saja yang Alan gila-gilaan memperhatikan dan mengurusi, harus empat sehat lima sempurna. Bahkan sampai ke urusan tidur jam berapa, dan bangun jam berapa pun Alan akan menghitungnya. Jika menurut Alan jam tidur Anna kurang, maka Alan akan menyuruh Anna untuk istirahat yang cukup.


Dan satu lagi, Alan akan marah kalau Anna terlihat mengurus rumah, mengelap sesuatu yang bercecer misalnya, Alan akan melarangnya. Dia juga bilang, “Percuma ada Rina kalau kamu masih juga beres-beres rumah.”


Padahal bukan beres-beres rumah, hanya membersihkan makanan yang berceceran saja. Ya ampun, Alan kesambet jin posesif kali ya? Alan juga melarang Anna membereskan tempat tidur ketika bangun di pagi hari. Alan-lah yang akan membereskan kasur tanpa meminta campur tangan Anna. Alan juga mengambil semua keperluannya sendiri, seperti baju, dasi, kaus kaki, dan sepatu. Anna tidak perlu repot-repot menyediakan keperluannya. Biarlah Alan yang capek, asalkan istrinya tidak.


TBC