
“Anna, bicaralah!” ulang Alan. Ia meraih bahu Anna dan membenamkan ke dada bidangnya lalu berbisik di telinga Anna dengan suara tertahan, “Kita ke atas sekarang! Aku yakin tangisanmu akan reda setelah kuberikan yang itu.” Alan mengusap punggung Anna.
Anna mendorong dada Alan hingga pelukannya terlepas. Sorot tajam mata Anna menjawab bahwa tangisannya pecah bersumber dari perbuatan Alan.
“Ada apa, Anna? Apa salahku sampai kamu marah padaku?” Alan mengernyitkan dahi.
“Kamu masih bertanya apa salahmu?”
Alan diam menunggu penjelasan berikutnya.
“Apa yang baru aja kamu lakukan dengan Cintya.”
Muka Alan mendadak menegang.
“Berciuman? Bercumbu? Dan bermain gila? Jangan kamu pikir aku nggak tau informasi tentangmu.”
“Dari mana kamu tau apa yang kulakukan dengan Cintya? Jangan mengarang cerita, Anna.”
“Aku ngeliat video yang dikirim dari ponsel Cintya. Kamu menelanjanginya.”
“Anna…” Alan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Awalnya aku memang salah karena udah membatasi hubungan kita. Tapi setelah kita sama-sama mengubah tujuan hidup dengan mempertahankan rumah tangga, setelah kamu ikat aku dengan cintamu, setelah kamu tanam benih di rahimku, sekarang kamu justru bersenang-senang dengan wanita itu.”
“Apa? Katakan aja apa pembelaanmu sekarang. Kamu nggak bisa membela diri bukan? Aku tahu kamu tadi menemui Cintya bukan untuk ninggalin dia, tapi justru mencumbunya.”
“Anna, aku mencintaimu. Jangan marah padaku.” Alan merengkuh tubuh Anna, seketika Anna memberontak minta dilepaskan.
“Jangan bicara apapun Anna, plis. Jangan katakana apapun. Aku nggak akan sanggup mendengarnya.” Alan menciumi bagian leher samping kanan Anna sambil terus berbisik. “Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu memaafkanku.”
“Hanya wanita idiot yang mengaku cinta tapi ngebiarin suaminya nidurin wanita lain.”
“Aku nggak menidurinya, Anna. Argkhh…” Alan mengaduh saat kakinya diinjak sangat keras oleh kaki Anna.
Disaat Alan sedikit merenggangkan pegangannya, Anna mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri.
“Anna…”
“Stop, jangan mendekat!” Anna menyambar pisau apel dari atas meja dan mengacungkannya ke arah Alan. “Atau pisau ini akan melukaimu.”
“Itu pena, Anna.”
Hah? Anna terkejut melihat benda di tangannya. Gara-gara asal ambil, ia sampai salah sambar. Bagaimana bisa malah pena yang sekarang menyelinap dalam genggamannya?
“Jangan dekati aku!” jerit Anna membuat Alan berhenti melangkah menatap kehisterisan istrinya.
“Aku mau kita cerai. Tinggalin aku setelah bayiku lahir nanti.” Anna menghambur keluar. Tak perduli teriakan Alan yang terus memanggil-manggil namanya.
Anna menelusuri trotoar, melewati banyak rumah dan ruko. Sial, tidak ada taksi yang melintas, membuat Anna menyelinap masuk ke sebuah gang untuk menghindari Alan. Saat itu ia tidak ingin melihat wajah Alan lagi, ia ingin pergi jauh dari Alan. Hatinya nyeri setiap kali menatap muka Alan, muka itu mengingatkannya dengan adegan panas yang ia tonton di video.
Anna berhenti merasakan nyeri di perutnya. Menyandarkan punggung ke dinding gedung. Mengatur nafas yang ngos-ngosan. Sudah lama tidak marathon, lari sejauh satu kilo meter saja sudah membuat nafasnya cengep-cengep. Ia menoleh ke kiri kanan, Alan tidak terlihat lagi. Mungkin ia sudah lepas dari pria itu. Punggung Anna terseret turun dan kini dalam posisi jongkok. Ia menyilangkan tangan di atas lutut dan membenamkan wajahnya di atas lengan. Tangisnya kembali pecah.
TBC