Holy Marriage

Holy Marriage
Tingkah Menggemaskan



Anna melangkah masuk ke dalam rumah. Azzam yang berada dalam gendongan Anna tampak merengek.


Arni mengikuti majikannya sambil membawa tas besar perlengkapan milik Azzam.


Azzam menggerak-gerakkan tubuhnya sangat kuat, ingin melepaskan diri dari gendongan Anna. Giginya sesekali menggigit pundak Anna. Meski giginya baru tumbuh dua, namun gigitannya lumayan juga. Anna meringis menahan sakit akibat gigitan si kecil.


“Azzam sayang, Azzam mau ngapain? Ayo kita naik ke atas, kita bobok lagi ya!” bujuk Anna dengan suara lembut.


Azzam terus saja menggerak-gerakkan tubuhnya, meronta dan menjerit. Tangisnya pun pecah.


"Mungkin Den Azzam masih ingin main di sini, Non. Biar saya saja yang menunggu Azzam bermain. Nona kalau mau tidur silahkan saja," ucap Arni.


"Enggaklah, Arni. Aku akan tetap menunggui Azzam," jawab Anna. Anna yang sudah berada di ujung anak tangga lantai bawah hendak melangkah naik pun terpaksa menurunkan tubuh Azzam.


Begitu turun dari gendongan Anna, tangis Azzam pun terhenti. Dia berjalan dengan langkah cepat menjauhi Anna. Namun karena belum seberapa lancar berjalan, lagi-lagi tubuh Azzam terguling dan jatuh. Kepalanya teraktuk lantai. Namun ajaibnya, bocah itu tidak menangis. Azzam memang bocah yang kuat, biar pun bandel dan usil, namun tidak cengeng.


Bocah itu bangkit bangun sebelum Anna sempat meraih tubuhnya. Dia kembali berjalan menuju ke sebuah meja. Lalu dia menjatuhkan lututnya dan merangkak memasuki kolong meja.


Anna mengernyit heran melihat Azzam merangkak ke kolong meja, dan ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Azzam duduk manis di sana sambil meraih bola. Ternyata hanya bola itulah yang Azzam inginkan. Azzam bahkan memamerkan dua giginya yang putih sambil mengeluarkan suara tawa girang. Dia mengoceh entah mengatakan apa.


“Azzam sayang, ayo keluar dari situ, Nak! Kemarilah! Kita naik ke atas lagi, yuk!” Anna jongkok memperlihatkan senyum sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah Azzam.


Azzam menggelengkan kepala. Gelengannya yang terlalu kuat mengakibatkan keningnya terantuk kaki meja.


“Huh! Owwoooo…” Azzam menatap kaki meja tempat keningnya terantuk seperti sedang memarahi kaki meja tersebut.


Anna pun tertawa melihat tingkah laku putranya. Gemas sekali ingin mencubit pipi tembem bocah itu.


Azzam tidak peduli dengan ajakan Anna. Dia asik memainkan bola dan menggigit-gigitnya.


“Arni! Ambil Azzam, gih!” titah Anna.


Arni mematuhi perintah majikannya. Dia pun merangkak dan memasuki kolong meja. Namun tidak seperti yang dia duga, karena ternyata Azzam sudah tahu gerak-gerik Arni yang ingin menjemputnya sehingga dia langsung melepas bola dan merangkak keluar melalui celah lain untuk menghindari Arni.


Azzam menghampiri meja lain, dia berdiri. Netranya mencari mangsa. Begitu mendapati ujung taplak meja yang menggelantung di udara, tangan kecilnya pun menjangkau ujung taplak.


Sret!


“Azzam, jangan!” seru Anna. Namun terlambat. Benda-benda di atas meja terseret mengikuti taplak yang tertarik hingga berserakan di lantai.


Anna berkacak pinggang sambil menepuk jidat. Lagi-lagi Azzam tertawa renyah sambil meringis memamerkan dua giginya yang kecil-kecil. Sementara Dua tangannya yang kecil memainkan taplak yang ujungnya dalam genggamannya.


Derap sepatu yang terdengar semakin mendekat membuat Anna menoleh ke sumber suara. Dia mendapati Alan yang tengah berjalan ke tengah-tengah ruangan. Pria itu mengernyit menatap barang-barang yang berserakan di lantai. Ekspresi kesal sontak menyemburat di wajahnya.


To Be Continued


.


.


.