Holy Marriage

Holy Marriage
Puas



Tak lama kemudian, langsung masuk chat dari Rafa.


Rafa


Selamat, honey.


Rafa


Gue pasti gk akan kuat jika ada di pesta itu,


Ngeliat Anna bersanding dgn cowo lain, gue ngerasa patah semangat


Rafa


Jujur, gue sakit bgt ngeliat foto-foto itu


“Yess!” Anna menjingkrak kegirangan menerima chat itu dan tidak membalasnya. Sengaja, biar Rafa tambah sakit hati. Anna benar-benar puas.


Alan diam saja melihat tingkah Anna yang melompat kegirangan. Matanya terus fokus memperhatikan senyum cerah Anna. Hingga saat Anna menoleh ke arahnya, ia menaikkan alis.


“Inget Alan, no sex.” Anna menandaskan. Ia tidak akan mau disentuh Alan karena pernikahan mereka hanyalah tipuan belaka. Jika suatu saat nanti Anna berpisah dari Alan, tentu ia bisa berbangga hati dengan memberikan mahkotanya yang masih utuh pada suaminya kelak. Sekarang ia akan menjalani pernikahan itu seperti air yang mengalir.


Alan diam saja.


Anna meraih selimut dan membawanya menuju sofa. Baru saja ia hendak membaringkan tubuh di sofa, Alan merampas selimut dari tangannya.


“Kok, selimutnya diambil?” tanya Anna.


Tanpa menjawab, Alan membaringkan tubuh di sofa dan menyelimuti tubuhnya. Ia terlihat sangat lelah.


Anna pun meninggalkan sofa. Ia membuka lemari dan tersenyum ketika mendapati beberapa lembar pakaian menggantung di sana, juga ada beberapa lembar baju tidur.


“Aku boleh pakai baju-baju ini?” tanya Anna seraya membolak-balikkan pakaian.


Tanpa merasa canggung dengan adanya Alan yang sedang memperhatikan, Anna langsung membuka gaun pengantin yang melekat di tubuhnya dan menggantinya dengan pakaian tidur. Setelah itu, ia melempar tubuhnya di atas ranjang dan menyelimuti diri dengan selimut tebal.


Alan memejamkan mata setelah melihat Anna tertidur pulas.


***


“Anna, maafin Kakak, ya. Gara-gara kakak, kamu harus menjalani pernikahan ini.” Angel memegang tangan Anna dan mengelus punggung tangan yang ia genggam.


“Anna nggak masalah kok, Kak. Yang penting cinta Kakak bisa tergapai, dan Ayah juga baik-baik aja. Setelah pernikahanku berlangsung, kesehatan Ayah terlihat lebih baik.”


“Trus gimana kamu sama Alan?”


“Gimana apanya?” Anna balik tanya.


“Kamu suka dia?”


Anna menggeleng.


“Semoga suatu saat nanti Allah akan tumbuhkan benih cinta di hati kalian, hingga kalian hidup dalam kasih sayang. Kakak akan selalu mendoakan itu untukmu dan Alan.”


Anna yang berbaring di ranjang milik Kakaknya itu mengangguk. Andai Angel tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin Angel akan menarik ulur ucapannya. Pernikahan mereka terjadi di atas alasan yang sama-sama menguntungkan. Dimata Alan, Anna hanyalah barang yang bisa dipergunakan untuk diperalat demi keuntungannya. Alan dan Anna tidak saling mencintai, pikiran Anna masih sibuk memikirkan mantannya, dan Alan sibuk memperjuangkan kekasihnya.


“Trus apa yang kalian lakukan selama tiga hari di Bali?”


“Refreshing aja.”


Anna ingat, selama tiga hari Anna dan Alan menghabiskan waktu di Bali setelah pesta pernikahan berlangsung. Sebenarnya Alan menawarkan Anna liburan ke London, tapi Anna menolak mengingat ijin sekolahnya hanya lima hari, dan mereka sudah menghabiskan waktu selama tiga hari di Bali. Waktu yang tersisa hanya dua hari ketika penawaran itu dilontarkan, waktu yang sempit untuk jalan-jalan di negeri orang. Terpaksa mereka menghabiskan sisa waktu di Bali saja.


Herlambang sudah menemui kepala sekolah untuk meminta ijin perihal ketidakhadiran Anna di sekolah. Alasannya simpel, Anna menghadiri urusan keluarga di luar kota.


TBC