Holy Marriage

Holy Marriage
Petuah Bijak



“Mas Alan adalah pria yang over protektif, posesif, lembut dan sangat perhatian sama aku.” Anna mulai bicara. “Dia adalah malaikat penjaga bagi keluarga kecilku. Dia bahkan melarangku melakukan apa pun, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan supaya aku tidak lelah. Dia hanya membolehkanku melakukan kegiatan yang membuatku merasa senang. Kesehatanku adalah segala-galanya baginya, begitu juga dengan Azzam. Mas Alan memprioritaskan kehidupan kami. Wajar saja itu dia lakukan, sebab sudah sangat lama dia mencintai dan menginginkanku.”


Angel mendengarkan dengan seksama.


“Tapi... Akhir-akhir ini Mas Alan berubah total. Sikapnya yang sangat perhatian dulu, sekarang hilang entah kemana,” lanjut Anna. “Dia bahkan sama sekali nggak peduli padaku. Dia juga sering marah saat Azzam memperlihatkan sikap nakalnya. Dia yang dulu mengekangku, sekarang berbalik dan malah menyuruhku melakukan kebebasan.”


Angel tersenyum. Dengan lembut, dia berkata, “Mungkin Alan sedang kecapekan aja. Kamu hanya butuh waktu aja untuk bisa memahami dan beradaptasi dengan sikap Alan.”


“Mbak Angel nggak ngerti. Ini masalah serius. Mas Alan tuh bener-bener berubah. Dia bahkan dalam beberapa hari ini meninggalkan rumah tanpa alasan. Dia nggak pulang ke rumah dan nggak tau bermalam entah dimana. Dia bersikap sesuka hati seolah-olah dia masih lajangan. Dia juga menyuruhku bepergian kemanapun tanpa mesti ijin darinya. Dia nggak peduli aku mau kemana, ngapain dan melakukan apa. Dia juga bilang kalau dia bosan dengan kehidupannya sekarang. Apa artinya semua ini?”


“Anna, setiap rumah tangga itu pasti akan diuji. Dan ini adalah ujian dari rumah tanggamu. Alan itu manusia biasa, dia pasti juga bisa salah dan khilaf. Tugasmu untk meluruskannya.”


“Aku nggak kuat, Mbak. Mas Alan itu keterlaluan.”


“Jangan bilang nggak kuat. Suamimu itu bukan Fir’aun, yang sanggup berbuat kejam dan bahkan membunuh tanpa belas kasih. Suamimu itu hanya sedang melakukan kekhilafan, kamu pasti bisa mengingatkannya.”


“Tapi aku juga bukan Asiyah, yang menjadi salah satu wanita yang dijanjikan akan masuk surga karena kemuliaannya. Aku nggak bisa menjadi sepertinya.”


“Setidaknya mencontoh Asiyah.” Angel memotivasi.


“Mbak, aku capek. Aku bener-bener nggak mengerti, apa yang sebnarnya terjadi dengan Mas Alan?”


“Jawabannya adalah karena dia bosan. Aku sudah berusaha mengingatkan Mas Alan kalau apa yang dia lakukan itu salah, tapi hasilnya seperti ini. aku nggak bisa. Apakah mungkin rumah tanggaku akan baik-baik saja jika Mas Alan terus-terusan begini? Aku takut nggak akan kuat jika terus merasa tersakiti.”


“Kamu pasti bisa, Anna. Jangan mudah menyerah saat diberi ujian. Kamu tahu kenapa kamu yang dipilih untuk mendampingi Alan? Karena hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menghadapi dia. jika orang lain, mungkin nggak akan sanggup. Kamu pasti bisa. Bismillah.”


Mendengar kata bijak dari Angel, tumbuh kekuatan baru dalam diri Anna. Jiwa yang tadinya rapuh akibat terkikis perlakuan Alan, kini kembali kokoh seperti semula. Entah kenapa Anna menjadi lemah karena Alan. Dimana Anna yang kuat dan petakilan dulu? Dimana Anna yang sok jagoan dan selalu tegar itu?


Oke, Anna akan mengembalikan Anna yang dulu. Jika perlu Alan pun akan mendapat bogem kuat darinya jika berani macam-macam.


“Mbak, menurut Mbak nih, atau menurut dugaan Mbak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Alan hingga dia berubah total?” tanya Anna.


Angel tersenyum lagi, sejujurnya isi kepalanya juga sedang menebak-nebak, tapi dia tidak mau mengatakan apa pun. “Mbak nggak mau suudzon. Nanti malah jadi fitnah. Prasangka buruk itu dosa dan bisa mengikis iman.”


Anna melepas nafas panjang. Kakaknya benar, tapi Anna tetap saja kesulitan membuang prasangka dalam hatinya. Dia masih terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi dengan Alan hingga sikap suaminya itu berubah.


BERSAMBUNG


Follow instagramku @emmashu90 untuk info terbaru novel-novelku.


Jangan lupa ikuti novelku SALAH NIKAH yang masih update dan hampir menyentuh 100jt view.