
Akhirnya Alan mengambil ponsel dari tangan Anna dan mengernyit saat melihat ID penelepon.
“Siapa?” bisik Anna.
Alan diam, hanya menatap Anna gusar. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju balkon saat menjawab telepon.
Anna bangkit duduk, menatap aneh pada Alan yang harus menjauhinya saat menjawab telepon. Memangnya siapa yang menelepon? Alan bahkan tidak mau memberi tahu siapa penelepon itu.
Anna menuruni ranjang, berjalan mendekati pintu balkon. Langkahnya terhenti di balik pintu saat mendengar Alan menyebut nama Cintya.
“Cintya, plis. Dengerin aku, jangan marah-marah dulu. Aku janji setelah pulang dari Bali akan langsung menemuimu. Aku akan berikan apapun yang kamu mau. Oke, oke. Semua yang kamu minta udah kuturuti, lalu apa lagi? Iya, aku mengerti. Dari mana kamu tahu Anna hamil? Maafkan aku. Maaf. Jangan cari masalah, Cintya. Jangan nekat. Halo halo halo…. Ah..” Alan menatap ponselnya, lalu telpon balik ke nomer Cintya tapi tidak dijawab. Alan semakin tampak frustasi. “Oh, ya ampun.” Alan balik badan dan terkejut saat melihat Anna sudah ada di hadapannya.
“Kamu di sini?”
“Ya,” lirih Anna. “Cintya meneleponmu? Sampai kapan kamu menjalin hubungan gelap dengannya? Apa dia marah karena mendengar kabar aku hamil? Dia pasti merasa dikhianati.”
Alan diam saja.
“Aku ingin kamu mengakhiri hubungan dengannya, Mas Alan. Lebih cepat lebih baik. Apa kamu tahu gimana rasanya setiap kali aku denger kamu menyebut nama perempuan itu? Aku sakit. Itu karena aku mencintaimu.” Mata Anna berkaca-kaca.
Alan meraih kepala Anna dan membenamkan ke pelukannya.
Anna tidak lagi bisa bicara apa-apa. Senjata Alan selalu begini, memberinya pelukan hangat disetiap kekesalannya. Dan Anna kerap kali lumpuh setiap kali mendapat pelukan hangat itu.
“Kita pulang ke Jakarta.” Alan bangkit bangun.
“Untuk menemui Cintya? Kamu akan meredakan kekesalannya? Atau untuk memutuskannya?”
“Memutuskannya.”
“Benarkah? Demi aku?”
Alan mengecup pucuk kepala Anna.
***
Alan menjawab telepon dari William.
“Ya, Pa? Aku di perjalanan menuju pulang. Kenapa? Baiklah.” Alan mengembalikan ponsel ke saku kemeja.
“Ada apa, Mas Alan?” tanya Anna.
“Papa menyuruhku datang ke rumahnya setelah mengantarmu pulang.”
“Kasian Andra kalau mesti bolak-balik nganter kamu ke rumah Papa William setelah nganterin aku pulang, mendingan kita langsungan aja ke rumah Papa sekarang.”
“Aku nanti nyetir sendiri, tanpa membawa Andra. Andra adalah supir khusus untukmu, bukan untukku.”
“Tapi kamu kan capek, mana mungkin nyetir sendiri. Lagian kita kan ngelewatin rumah Papa William.”
“Kamu harus istirahat, Anna.”
“Aku bisa istirahat di rumah Papa, kamar kita masih ada di sana, kan?”
Alan tersenyum, senyuman manis yang membuat Anna selalu merindukannya. “Baiklah kalau itu maumu. Ndra, berenti di rumah Papa, ya!”
“Siap, Mas.” Andra patuh.
Mobil berbelok memasuki area pekarangan rumah William. Anna dan Alan turun, beriringan memasuki rumah.
“Tasku ketinggalan.” Anna berhenti melangkah.
“Biar kujemput.”
“Nggak usah. Aku aja yang ambil. Kamu masuk aja duluan.” Anna bergegas menuju mobil.
Alan melenggang masuk. Ia mendapati William tengah berdiri mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah gelisah. Mondar-mandirnya terhenti saat melihat kedatangan Alan, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Alan.
TBC