
Tiga hari kemudian.
Alan sedang sibuk memfokuskan pandangan ke laptop. Ia tidak mempedulikan rasa sakit di kepala yang beberapa menit lalu sudah terus merongrongnya. Rasanya sangat sakit dan membuat kepalanya hampir pecah. Bahkan pandangan matanya pun mulai kabur.
Alan meremas kertas di depannya. Entah sampai kapan dia terlihat rapuh begini? Dia malu jika Anna harus menatapnya dengan rasa iba. Dia harus kuat dan tidak boleh terlihat kesakitan, apa lagi tampak penyakitan meski sebenarnya memang penyakitan.
“Ini kubuatkan jus untukmu.” Anna meletakkan segelas jus ke meja, sisi laptop.
Alan tersentak dan mengangkat kepala, sekilas melirik sekelebat bayangan yang melintas di sisinya. Tak lain tubuh Anna yang melenggang entah kemana. Pandangan Alan benar-benar tidak jelas, bahkan membayang.
Tanpa sadar, hati Alan memaki dirinya sendiri. dia sungguh tidak ingin terlihat sakit dan dikasihani oleh Anna. Dan jika itu terjadi, dia akan terlihat sebagai pria tak berguna di mata istri. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Dimana Alan yang dulu gagah berani, kuat dan sempurna di mata wanita?
“Bagaimana kalau kita sekarang ke rumah sakit menemui pasien yang kemarin?” Anna tiba-tiba sudah ada di samping Alan, duduk di sandaran tangan, sementara tangan wanita itu mengelus-elus rambut Alan.
Masih dengan menahan rasa sakit yang menggejolak di kepala, Alan mengeratkan giginya. Keringat dingin pun mencuat di pelipisnya.
“Mas Alan!” panggil Anna sambil menundukkan kepala untuk menjangkau wajah suaminya. Sejak tadi Alan diajak bicara tapi diam saja.
Bagaimana Alan akan menjawab, untuk bicara saja sulit akibat rasa sakit yang tak tertahankan di kepalanya.
“Ah, Anna! Jangan ganggu aku dulu!” Alan mengelak dengan memalingkan wajah dan mengangkat tangan ke atas sehingga Anna tidak bisa melihat ekspresi wajah Alan.
“Mas Alan, jangan terlalu fokus dengan pekerjaan.” Anna merengut melihat Alan yang sedang sakit masih begitu antusias memikirkan pekerjaan. Anna tidak tega, dia ingin suaminya istirahat saja dari pekerjaan.
Melihat Anna yang tak juga beranjak pergi, Alan pun bangkit berdiri menghindari Anna. “Aku akan ada meeting dnegan klien penting,” ucap Alan sambil melangkah pergi.
Anna menarik nafas dalam dalam melihat sikap Alan yang cuek. Mungkin Alan sedang tidak ingin diganggu. Anna pun memilih untuk membiarkan Alan sendiri dulu. Ia melenggang pergi memasuki kamar melalui pintu yang menghubungkan langsung dengan kamar yang bersebelahan dengan ruang kerja.
Sementara langkah Alan terhenti sebelum ia meninggalkan ruang kerja, pintu di depannya terbuka dan Stefi masuk. Wajah gadis yang mengenakan dres selutut dan atasan tanpa lengan itu terlihat kusut. Bahkan matanya memerah. Sepertinya barusan menangis. Tapi Alan tidak begitu memperhatikan kondisi Stefi, pandangannya bergoyang-goyang sehingga wujud manusia pun malah seperti genderuwo.
“Kak Alan!” lirih Stefi dengan mata berair dan suara yang terisak.
Alan memejamkan mata sebentar berusaha mengusir rasa sakit. Kemudian ia kembali membuka mata dan menatap Stefi yang kelihatan sedih sekali.
“Aku nggak tahan menjalani rumah tanggaku yang aneh ini. aku nggak mencintai suamiku,” ucap Stefi dengan isak tangis. Dia menikah dnegan pria asing yang sama sekali tidak dikenal. "Ini aneh, Kak. Aku nggak kuat."
Alan ingin bilang, kalau gak mau punya suami asing dan rumah tangga yang aneh, kenapa main celup duluan?' Ah, tapi kata-kata itu hanya ditelan saja dalam hati. Jika saja kepalanya tidak sesakit sekarang, Alan pasti sudah mengucapkannya.
"Kak Alan, bisakah lepaskan aku dari pernikahan aneh ini?" isak Stefi lagi.
"Kau sudah menikah, jangan main-main dengan pernikahanmu. Meski nasab anakmu tidak dengan suaminu, tapi dia sudah menyelamatkan nama baik keluarga kita. Pikirkan itu," jawab Alan akhirnya. Dia sebenarnya merasa sangat kasihan melihat adiknya menanggung resiko atas perbuatannya sendiri, bahkan Alan juga tidak ingin melihat adiknya bersedih. Apa lagi ini menyangkut masa depan Stefi. Tapi Alan bisa apa, dia bahkan mengurus dirinya sendiri pun sulit. Satu-satunya yang ia rasakan saat melihat Stefi menangis dan mengeluhkan pernikahan adalah rasa sedih.
"Tapi aku nggak menyukai pernikahan ini." ucap Stefi.
"Enggak. Aku nggak mau. Aku ternyata sakit hati banget pas tahu Mas Naga bergiliran untuk menemui istri istrinya. Aku nggak mau."
"Lalu maumu apa?"
Stefi hanya menangis.
"Pulanglah. Kau tidak akan menemukan jawaban apa pun di sini. Kau tetap harus menjalani pernikahanmu sampai bayimu lahir nanti." Alan berbicara dengan tegas.
Stefi masih sesenggukkan. Dia kemudian berpaling dan pergi.
Sedih sekali melihat adiknya terpukul seperti sekarang. Alan merasa telah gagal menjadi kakak, yang tidak bisa menjaga adiknya dari rintangan hidup.
"Arrgkh." Alan mengaduh merasakan sakit di kepala yang kian menyerang. Kepalanya benar-benar hampir pecah.
Klotek.
Alan menoleh mendengar suara dari arah belakang. Ia terkejut melihat Azzam menumpahkan gelas jus hingga air jus membasahi laptop dan kertas -kertas di di meja. Gila aja, kertas pun terendam air jus. Ditambah lagi Azzam menarik kertas yang basah hingga robek.
Kepala Alan yang sakit ditambah rasa sesalnya atas kegagalannya sebagai kakak, bahkan kini ditambah lagi dengan dokumen dan laptopnya yang basah kuyup, membuatnya naik pitam. Ya ampun, bocah ini sungguh-sungguh membuatnya ingin memaki.
"Azzam, apa yang kau lakukan di sini? Dasar anak nakal. Pergi kau, enyah dariku!" Alan mendorong tubuh Azzam dengan kasar hingga tersungkur.
"Huaaa.." Azzam menangis mendapat perlakuan kasar itu. Bokongnya terasa sakit saat harus mendarat di lantai keras. Meski masih sangat kecil dan belum mengerti dengan sitiasi yang terjadi, namun ia paham sekali kalau ayahnya sedang memarahinya. Baru kali ini ia mendapat perlakuan sekasar itu hingga membuat hatinya yang lembut pun tersakiti.
"Ya Tuhan, semuanya basah. Ini akan kubawa untuk pertemuan. Apa yang kau lakukan bocah tengil? Pergi kau!" bentak Alan berusaha menyelamatkan dokumen penting miliknya. Namun naas, kertas itu sudah basah.
Bentakan itu sontak menambah tangis mengharu biru dari Azzam. "Papa papa papa!" Dia terus menangis sambil merangkak dan meraih kaki Alan. Seakan dia sedang memohon agar ayahnya tidak marah. Dia tampak takut sekali, dan hanya bisa merangkul erat kaki ayahnya sambil terus menangis.
Kesal, Alan pun menyentak kakinya hingga rangkulan tangan mungil Azzam terlepas dari kaki Alan, tubuh Azzam sontak menggelinding di lantai.
Tangis Azzam semakin keras. Dia tidak lagi mengiba pada ayahnya. Seakan sadar sudah diusir, Azzam berjalan keluar sambil tersedu sedan. Namun lidahnya masih terus memanggil, "Papa! Papa! Papa!"
Bersambung
Huhuuu... kasian banget Azzam. Pada kasihan gak sih sama bocil itu?
Ini foto Azzam, dia pengen bilang "Papa, aku belum mengerti. jangan marahi aku, pa. aku sayang papa.😭😭😭"