Holy Marriage

Holy Marriage
Menjadi Pengganti



“Kamu nggak usah cemas, ayah nggak apa-apa.” Herlambang terlihat sedikit lebih baik meski masih meringis sambil memijit-mijit dada. Bibirnya terlihat membisikkan kalimat tasbih.


Tak lama seorang dokter menyembul keluar. Anna menyerbu masuk ke kamar rawat sesaat setelah mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Angel yang lemah dan shock. Herlambang tidak ikut masuk, sepertinya masih berbicara dengan dokter ketika Anna meninggalkannya. Anna menyentuh lengan Angel, menatap mata kakaknya yang masih terlihat sayu.


“Anna!” panggil Angel lirih. Ia meremas jari-jari Anna.


“Ya, Kak?”


“Dimana ayah?”


“Di luar.”


“Kenapa ayah nggak mau nemuin kakak? Apa ayah benci sama kakak karena menolak perjodohan?”


“Kak, ayah keliatannya sakit. Katanya dadanya nyeri dan sesak nafas. Tapi ayah nggak mau berobat karena harus mengalah demi kakak.”


“Ya Allah, ampuni aku yang udah berburuk sangka.” Angel memejamkan mata menyesali. “Kasihan ayah. Anna mau kan bantuin kakak?”


“Pasti.” Anna mengangguk yakin. Memangnya apa yang tidak bisa ia lakukan untuk membantu keluarganya. Semua akan ia lakukan demi keutuhan keluarganya.


“Gantiin kakak.”


“Maksudnya?”


“Menikahlah dengan lelaki pilihan Ayah.”


Weh, kok jadi gue? Ide apaan itu? Anna nyengir. Apa nggak bakalan jomplang kalau dia menikah dengan putra pengusaha kaya? Mungkin ia akan menjadi wanita yang tidak diharapkan di keluarga pengusaha tersebut. Bahkan umur Anna masih sangat muda.


“Anna, plis,” pinta Angel dengan muka memelas dan mata berair.


“Anna kan masih sekolah.”


“Sebentar lagi lulus.”


“Itu pun kalau lulus. Kakaklah yang dipilih dalam urusan perjodohan ini, bukan Anna.”


Anna kini terdiam. Angel benar-benar tidak ingin menikah dengan laki-laki pilhan ayah. Putus hubungan dengan pria yang sangat dia cintai mungkin akan membuat dunianya menjadi hancur dalam seketika waktu. Bahkan mungkin sepanjang menjalani pernikahan, dia akan menderita karena harus melukai orang yang ia cintai. Di sisi lain, Herlambang sangat membutuhkan sandaran, juga orang yang bisa menyelamatkan keadaan.


Anna beringsut mundur. Balik badan lalu keluar dan mendapati Herlambang tengah duduk menyandar di kursi tunggu sambil memijit dada.


Anna duduk di sisi ayahnya.


“Yah, biar Anna yang nikah sama putra Pak William.”


Herlambang sontak terkejut dan menatap putrinya dalam-dalam.


Ditatap seserius itu, apa yang terjadi? Anna malah cengar-cengir.


“Anna serius. Biar Anna aja yang nikah.”


Bukan hanya sebatas menyelamatkan keutuhan keluarganya saja yang membuatnya menyetujui permintaan Angel. Ada banyak hal yang menuntutnya berbuat demikian. Ingin membuat Angel bahagia, ingin menyelamatkan Herlambang dari rasa malu, dan yang paling utama tentang Rafa. Inilah saatnya Anna melepas segala emosi yang sudah menguasai batinnya dengan cara menikah dengan lelaki lain. Setelah menikah, ia yakin Rafa akan kelojotan melihatnya bersanding dengan lelaki lain, Rafa akan cemburu, bahkan menangis darah bila perlu. Itulah tujuan utama yang Anna harapkan dari pernikahannya. Ingin membuat Rafa sakit hati.


Herlambang masih menatap Anna lekat. Tangannya terangkat dan menyentuh pucuk kepala bungsunya. Ia tidak mengira jika Anna justru menjadi pahlawan yang menyelamatkannya supaya tidak menanggung malu di hadapan Wiliam.


Anna mendadak jadi pahlawan berjasa Wah di mata Herlambang.


“Tidak, Nak. Kamu masih terlalu muda untuk menikah. Masa depanmu masih panjang. Kamu masih bisa bebas tentukan pendidikan,” tukas Herlambang, frustasi.


“Nggak ada larangan untuk ngelanjutin pendidikan setelah nikah kan, Yah? Anna masih bisa kuliah meski udah bersuami. Lagi pula sekarang Anna udah kelas dua belas. Bentar lagi ujian dan Anna akan lulus.”


“Tanggal pernikahan ditetapkan sebelum ujianmu dilaksanakan.”


-----


TBC


Jangan lupa tekan favorit dan like. Supaya bisa ikuti cerita ini jika kalian suka, ok?