Holy Marriage

Holy Marriage
Terpukul



Dan di sini, di rumah sakit, Alan dan seluruh keluarganya sekarang menunggu kabar tentang Anna yang sedang diperiksa dokter. Clarita tidak ikut karena harus belajar untuk persiapan tes ulangan.


Alan duduk di bangku sambil menopang kedua siku tangan dan telapak tangan menutupi wajah. Jika wajahnya tidak tertutup, pasti semua orang dapat melihat betapa ia sedang frustasi.


Tak henti-hentinya Wiliam memarahi Alan. Karena satu-satunya penyebab Anna diserempet mobil, pingsan, dan berakhir di rumah sakit adalah Alan. Alan tidak begitu jelas mendengar kata-kata yang menghujaninya. Kepalanya dipenuhi rasa bersalah telah membuat keadaan Anna menjadi sangat buruk.


“Bagaimana jika terjadi hal buruk pada cucu Papa? Papa tidak mau cucu pertama Papa kenapa-napa.” Wiliam histeris dan langsung ditenangkan Laura dengan mengelus lengannya.


Alan terkejut mendengar Papanya menyebut kata cucu. Apa tadi? Cucu? Telinga Alan yang sudah rusak pendengarannya atau bagaimana? Jika benar Anna hamil, Alan menjadi suami paling menyedihkan karena tidak mengetahuinya lebih awal. Bahkan malah tahu dari orang lain.


Dan sekarang Anna pendarahan. Lalu bagaimana dengan kondisi janinnya? Alan merasakan seluruh organ tubuhnya menjadi lemas dan keringat dingin mencuat ke permukaan kulitnya. Entah kenapa perasaannya berubah begitu tahu kalau Anna hamil.


Alan menatap Stefi dan Stefi mengerti jika Kakaknya itu meminta penjelasan atas apa yang baru didengarnya.


Stefi tahu kalau Alan belum tahu tentang kehamilan Anna. Sebab beberapa hari sebelumnya ketika Anna dibawa Rafa ke rumah sakit, kehamilan belum terbaca oleh peralatan medis disebabkan usia kehamilannya yang masih terlalu muda. Waktu itu dokter hanya mengatakan kalau Anna pingsan akibat anemia. Bahkan Anna mengetahui kehamilannya sesaat setelah ia pingsan diserempet mobil dan Wiliam yang membawa ke rumah sakit. Saat itu, dokter mengatakan kalau Anna hamil dan perlu istirahat ekstra karena kondisi tubuhnya yang tidak fit, ditambah lagi calon ibu yang mengalami anemia.


“Kak Anna hamil, Kak. Dokter bilang begitu,” jelas Stefi menegaskan kembali supaya Alan lebih yakin. Ia yang duduk di sisi Alan, memegang lengan kakaknya.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok? Dia nggak kenapa-napa, kan?” serbu Alan cepat.


“Nyonya Anna sedang dalam keadaan kurang baik fisiknya. Itu dikarenakan dia sedang dalam kondisi pendarahan ringan. Tapi syukurlah janinnya tidak apa-apa. Saya sarankan supaya Nyonya Anna banyak istirahat dan perhatikan menu makanannya. Kondisi anemia pada ibu yang sedang hamil muda memang sering terjadi, bisa diatasi dengan makanan empat sehat lima sempurna dan istirahat yang cukup untuk menjaga staminanya. Dan ingat, hindari stress. Saya akan memberi vitamin nanti.”


Alan belum terlihat lega meski sudah mendengar penjelasan Dokter bahwa janin yang dikandung Anna tidak apa-apa. Alan masuk ke kamar setelah dokter pergi dan mempersilakan keluarga untuk menjenguk.


Alan meraih tangan Anna dan menciumi punggung tangan istrinya itu. Alan mengucapkan kata maaf namun tidak mendapat jawaban dari Anna karena saat ini Anna sedang dalam keadaan terpejam meski sebenarnya ia sadar.


“Sayang, maafkan aku. Aku mencintaimu.” Alan mendaratkan ciuman di pucuk kepala Anna.


Jujur saja, Anna merasa nyaman dengan kecupan hangat Alan, apalagi Alan memanggilnya dengan panggilan ‘sayang’, terasa sejuk mengaliri jiwa. Tapi ia memilih tetap memejamkan mata. Karena jika ia membuka mata, rasanya ingin mengetok hidung mancung Alan dengan apa saja yang ada di sekitarnya. Sudah gedeg bercampur gemas rasanya.


TBC