Holy Marriage

Holy Marriage
Dasar Ketus



(Sesuai permintaan kalian, aku update lagi nih.)


“Alan akan mengajakmu pergi,” tukas Herlambang. “Tukarlah pakaianmu, yang sopan!”


Anna menatap penampilannya sendiri. Dimana letak tidak sopannya? Kaos oblong sepanjang siku tangan dipadu celana panjang, apa ada yang salah? Tumben Ayah memperbolehkan Anna keluar malam dengan laki-laki?


Anna mengangguk kemudian beranjak meninggalkan ruangan. Arini langsung menarik lengan Anna, membawanya ke kamar.


“Lo mesti dandan yang cantik, gue dandanin ya. Ganti baju lo, cari yang bagus.” Arini membuka lemari dan mencari pakaian Anna diantara sederet yang tergantung.


“Enggak. Gue gini aja.” Anna menyambar jaket lalu melenggang keluar kamar.


Sesampainya di ruang tamu, Anna berdiri di menunggu reaksi Alan. Alan menoleh menatap Anna yang sudah menunggu, ia pun segera ambil tindakan.


“Saya permisi.” Alan bangkit berdiri.


“Kamu hati-hati, ya. Jaga Anna.”


Alan mengangguk. Ia melenggang keluar dan Anna mengikuti. Herlambang mengantar sampai ke teras.


Seorang supir berdiri menunggu di dekat mobil yang bertengger di halaman rumah. Supir segera membukakan pintu mobil untuk Anna dan berputar untuk kemudian membukakan pintu Alan.


Oh... Anna sekarang mengerti. Ternyata ini yang membuat ayahnya mengijinkannya pergi bersama Alan, mereka tidak hanya berdua, ada supir di tengah-tengah mereka. Soalnya jika hanya berduaan, maka yang ketiga setan. Dan sekarang, yang ketiganya ada supir. Jadi setannya supir dong? Anna mengulum senyum memikirkan banyolan di kepalanya.


Mobil meninggalkan halaman rumah.


“Kita mau kemana?”


“Nanti juga tahu.”


“Aku nggak mau pergi kalau kamu nggak kasih tau aku tujuan kita kemana.”


“Jujur, aku nggak mau terjebak ke dalam acara orang-orang elit selevel kamu. Aku nggak bisa menyesuaikan diri. Aku malu. Aku juga takut bikin kamu malu.”


“Kapan lagi kalo kamu nggak mulai dari sekarang? Justru itu kamu harus belajar dari sekarang untuk bisa menyesuaikan diri. Lama-kelamaan pasti terbiasa beradaptasi.” Alan tenang, wajahnya menatap datar ke depan.


“Pokoknya aku nggak mau ikut kalo ternyata aku mau dipertemukan sama orang-orang gedean,” rengek Anna cemas. Hidupnya seperti berada di ujung tanduk setiap kali bertatap mata dengan orang-orang elit di sekitar Alan. Kejadian memalukan di party kemarin cukup membuatnya trauma.


“Kalau aku nggak bawa kamu, lalu aku harus bawa perempuan lain?” Kali ini Alan menoleh dan matanya yang gelap menatap Anna tajam. Suaranya yang bernada tegas membuat bulu kuduk Anna meremang.


Mulai deh ketusnya. Pikir Anna deg-degan.


“Jadi bener aku mau dibawa ke tempat orang-orang glamor lagi?” lirih Anna agak takut.


Alan diam saja. Tak lama ia memerintah supir berhenti di sebuah toko baju. Anna mengernyit menatap toko pakaian wanita yang ada di depan mata.


“Kita turun!” titah Alan membuat Anna takluk mengikuti pria itu.


Sebenarnya Anna ingin membantah, tapi ia takut Alan akan marah. Anna kini mengerti apa yang akan Alan lakukan saat ia sudah berdiri di depan manekin bergaun indah.


“Pakai gaun itu dan cepat ke mobil jika sudah selesai!” titah Alan kemudian pergi menuju kasir.


Anna mengesah. Pertama-tama ia menatap penampilannya sendiri mulai dari kaki sampai ke dada, apa penampilannya tidak pantas sampai harus ganti pakaian setiap kali bersama dengan Alan? Untung saja Anna mengenakan high heels pemberian Alan tempo hari, Alan tentu tidak perlu lagi membelikannya heels baru. Jika begini caranya, lemari Anna akan dipenuhi barang-barang pemberian Alan.


----


TBC


Apa kabar penggemar Anna?