
Alan mencari tempat penjualan cendol di internet, namun tidak menemukannya. Ia mengerutkan dahi. Jadi itu artinya ia harus bertanya pada orang-orang di jalanan hanya untuk mencari cendol? Ya Tuhan.
“Liatin aja papan nama di tepi jalan, kalau ada yang tulisannya cendol, ya udah berhenti aja,” lanjut Anna dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Alan. Anna sedang menguji cinta Alan kepadanya, sebesar apa kesungguhan Alan?
Alan berjalan menuju ke pintu dan menoleh ketika Anna memanggil.
“Plis, harus dapet ya cendolnya. Mungkin ini kemauan yang di sini.” Anna menunjuk perutnya.
Nah, kalau sudah memakai senjata isi perut alias janin, Alan tidak bisa mengelak lagi. Perempuan memang paling bisa mengerjai suami dengan dalih calon janin yang meminta, meskipun itu sebenarnya kemauan sang Ibu.
Alan kembali lagi dan mengelus permukaan perut Anna. “Ntong, jangan minta yang aneh-aneh ya setelah ini.”
Anna terkekeh mendengar ucapan Alan.
Alan mencium kening Anna sebelum ia meninggalkan kamar.
Untuk keluar dari rumah sakit, Alan harus melewati lorong panjang, turun lift yang tentunya mesti mengantri, kemudian melewati lobi luas yang menghubungkan ke teras, lalu menuju basement yang juga harus menempuh sekian meter jauhnya, barulah ia bisa keluar portal rumah sakit menuju jalan raya.
Rasanya Alan jadi seperti orang begok ketika harus menepikan mobil lalu menanyai si cendol pada setiap orang di jalanan. Bahkan ia sempat bertanya ke Ibu-ibu yang dibonceng suaminya saat berhenti di lampu merah. Dari semua itu, tidak ada informasi yang ia dapatkan.
Alan tetap berusaha mencari. Dan ia semakin merasa seperti orang tolol saat matanya harus melotot ke kiri kanan mencari tulisan cendol. Alan mulai frustasi karena sudah berkeliling hampir dua jam tapi tidak menemukan apa yang dicari. Meski begitu, ia tidak mau kembali tanpa cendol. Karena memang begitulah perjuangan suami yang bertanggung jawab, yang mampu mengerti kondisi istri disaat sedang hamil.
‘Jangan mau enaknya saja’. Kalimat itu nyelonong begitu saja di pikirannya hingga membuatnya tersenyum sendiri.
Alan menjawab telepon melalui earphone tanpa kabel sambil menyetir saat Anna meneleponnya. Ia yakin, Anna pasti sudah tidak sabaran menunggu, mungkin saja istrinya itu akan ngomel-ngomel. Dan ia sudah siap-siap menebalkan telinga.
“Aku di jalan. Belum ketemu cendolnya.”
“Tapi kamu nggak kenapa-napa, kan? Soalnya udah hampir dua jam kamu nggak balik-balik.” Suara Anna terdengar cemas.
“Mm… Iya iya, aku nggak pa-pa.”
“Ya udah. Kamu hati-hati, ya.”
“Oke.”
Alan geleng-geleng kepala. Ya ampun, ia sempat suudzon kalau Anna bakalan ngomel-ngomel, tapi nyatanya Anna menelepon karena sedang mengkhawatirkannya.
Alan menghela napas kasar, bahkan sampai detik itu pun masih belum bisa mengenal sifat Anna.
Alan memutar haluan mobilnya kembali ke rumah sakit saat sudah putus asa. Segala alasan sudah ia susun di kepalanya supaya Anna tidak kesal jika nantinya ia tidak membawa cendol.
Oh ya, ia masih punya Rina. Hampir saja ia melupakan asisten rumah tangganya yang sok gaul itu. Ia berencana menelepon Rina supaya Rina mencarikan cendol dan mengantarnya ke rumah sakit, tapi niatnya urung begitu moncong mobilnya hampir melewati portal dan ia melihat sesuatu hingga matanya melebar.
Astaga, ia tidak salah lihat? Di seberang jalan depan rumah sakit tertulis kata yang sejak tadi ia cari, cendol. Alan geleng-geleng kepala, setelah berkeliling tak tentu arah, ternyata cendolnya ada di depan mata.
TBC