
“Apa aku mesti ganti pakaian setiap kali jalan sama kamu?” tanya Anna saat mobil yang ia naiki sudah melaju di jalan raya.
Alan tidak menjawab.
“Emangnya sekarang kita mau kemana?”
“Jalan-jalan. Supaya kamu melupakan kejadian buruk hari ini.” Alan konsentrasi menyetir.
“O ya, aku boleh minta ide nggak?” tanya Anna.
“Soal apa?”
“Skors yang diberikan ke aku. Aku nggak mau sampai Ayah tahu soal itu. Lalu selama beberapa hari diskors, aku harus pergi kemana?”
“Oke, akan kubantu. Setiap pagi lakukanlah kegiatan seperti biasa, pakailah seragam sekolah dan aku akan menjemputmu.”
“Lalu?”
“Lakukan saja apa yang kuperintah. Paham?”
Anna mengangguk.
***
Seperti yang sudah direncanakan, Alan menjemput Anna ke rumah Herlambang. Anna mencium punggung tangan Angel dan juga punggung tangan ayahnya lalu berpamitan. Ia disambut oleh Alan yang sudah menunggu di ruang tamu. Mereka keluar beriringan.
Kali ini Anna tidak duduk di dalam lamborghini, tapi mobil lainnya milik Alan. Anna sebenarnya ingin menanyakan kemana Alan akan membawanya pergi, tapi urung mengingat Alan paling susah jika ditanya-tanya. Mendingan diam dan nanti dia akan tahu kemana mobil bergerak.
Setelah lama mobil melaju, mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan mewah menjulang di hadapan Anna kini berdiri.
“Ini vilaku.” Alan memutar kunci dan membuka pintu. Ia masuk diikuti oleh Anna. “Kamu tingal aja di sini sampai jam sekolah berakhir. Nanti akan ada supir yang menjemput dan mengantarmu pulang. Siang nanti aku nggak bisa menjemputmu karena banyak kerjaan.”
Anna mengangguk.
Anna terkesiap merasakan sentuhan jari Alan yang otomatis mengenai bagian sensitif miliknya, sebab kantong kemeja sekolah berada tepat di dadanya.
“Itu lima lembar uang ratusan ribu. Kurang?”
“Enggak.”
“Kurasa kamu akan butuh lebih banyak lagi untuk beberapa hari ke depan. Sebab aku nggak akan bisa mengantar jemput kamu lagi setelah ini. Supir yang akan menjemput dan mengantarmu lain hari. Ini kutambah lagi.” Alan mengeluarkan uang dari dompet lalu kembali memasukkan uang tersebut ke kantong kemeja Anna.
Lagi-lagi Anna merasakan sentuhan tangan Alan pada bagian sensitifnya. Seperti ada yang menyetrum di aliran darahnya saat tangan itu menyentuhnya.
“Oke, aku pergi. Baik-baik di sini. Aku harus menemui Cintya, dia minta jemput tadi.” Alan menepuk pipi Anna kemudian melenggang pergi. Saat di pintu, Alan menoleh dan berkata, “Kalau ada apa-apa, hubungi aja aku.”
Anna mengangguk.
Pintu ditutup dan Alan hilang dari pandangan. Anna menunduk menatap dadanya. Lalu mengeluarkan uang yang menyumbat penuh dalam kantongnya. Anna menghitung jumlahnya, banyak sekali. Akan bersisa banyak untuk keperluan makannya selama ia dalam skors. Bahkan ia bisa berbelanja banyak dari uang itu.
***
Sebulan full, Alan memberi waktu kepada Anna untuk belajar, fokus ke pelajaran guna menghadapi Ujian. Jika biasanya Alan selalu menjemput Anna ke rumah Herlambang dan membawanya ke acara penting, kini hal itu tidak lagi ia lakukan.
Alan juga memanggil guru privat spesial untuk Anna. Bukan itu saja, Alan memberi aplikasi bimbingan belajar di ponsel Anna. Begitu banyak yang Alan lakukan untuk keberhasilan Anna, termasuk tidak mengganggu Anna. Setiap malam, Alan memilih langsung tidur. Ia tidak mau mengajak Anna ngobrol via telepon seperti yang sudah-sudah supaya Anna tidak terganggu.
Hingga tiba hari yang dinantikan, anak-anak kelas dua belas disibukkan dengan yang namanya ujian. Para junior diliburkan.
TBC