Holy Marriage

Holy Marriage
Merasa Bersalah



“Mas Alan, kenalin ini Aldi, dosen di kampusku. Dia dulu tetangga baikku,” tutur Anna sebelum Aldi menyahuti Alan.


Aldi tersenyum dibalas anggukan kepala oleh Alan.


“Aku tadi melihat Anna duduk sendirian di sini jadi aku samperin dia, kukira dia hanya sendirian dan aku berniat menawarkan bantuan untuk nganterin dia pulang. Tapi ternyata dia bersamamu,” kata Aldi.


“Ya, Anna bersamaku.”


“Aku pernah melihat wajahmu di sampul majalah Trendy, kau dinyatakan sudah menikah di majalah itu. Apakah…”


“Ya, Anna istriku,” potong Alan sebelum Aldi menyelesaikan pertanyaannya. Ia sudah tahu akhir dari pertanyaan Aldi.


“Baiklah, kalau begitu aku permisi. Sampai jumpa, Anna!”


Anna mengangguk diiringi senyum.


Alan memperhatikan kepergian Aldi hingga hilang dari pandangan.


“Dia dosenmu?” Tanya Alan tanpa menatap Anna. Pandangannya masih tertuju ke arah menghilangnya mobil Aldi.


“Ya, kayak yang kubilang tadi.”


“Apa kalian di kampus sering bertemu?”


“Enggak. Dia bukan dosen pembimbingku. Hanya sesekali aja kami bertemu. Itupun kalau papas an doang.”


“Jangan terlalu dekat dengannya,” tegas Alan dengan sorot mata tajam.


“Ke.. kenapa?” Anna gugup ditatap sesangar itu oleh Alan.


Gertakan Alan membuat Anna takut. “Jangan ulangi kata-kata itu lagi. Bukan hanya kamu yang butuh pasangan hidup, aku juga butuh pasangan hidup suatu saat nanti. Oke, sekarang aku masih mikirin kuliah dan belum mikir buat berumah tangga dengan pria lain, tapi aku juga ingin punya pasangan yang juga mencintaiku. Sama halnya antara kamu dan Cintya. Apa itu salah?”


“Salah!” gertak Alan semakin geram.


Anna membeku di tempat.


“Apapun yang terjadi, selama kamu menyandang status istri Alan William, jangan pernah dekat dengan pria lain. Jangan rusak nama baikku!”


“Betahun-tahun aku bertahan dalam rumah tangga yang penuh dengan kepura-puraan, udah sewajarnya aku mencari sandaran lain untuk memikirkan masa depanku, bukan?”


“Anna! Kamu benar-benar nggak tahu diri!” bentak Alan membuat Anna tersentak dan kemudian matanya langsung berkaca-kaca. Dan dalam waktu sepersekian detik, air mata itu merembes deras jatuh ke pipi.


“Iya, aku memang nggak tau diri. Aku udah membuatmu nggak berhak mendapatkan hakmu sebagai seorang suami, tapi aku udah mengalah dengan membiarkanmu bersenang-senang dengan wanita lain. Apa aku salah kalau aku ingin memikirkan masa depanku? Antara aku dan Aldi sama sekali nggak ada hubungan apa-apa, kami dekat karena dulu bertetangga baik. Kalau itupun jadi alas an untukmu marah, lalu kebahagiaan yang mana yang bias kudapetin?” Anna menunduk meresapi tangisnya. Sesenggukan. Bahunya bergetar.


Tiba-tiba Anna merasakan sentuhan hangat di pipi, mengusap air matanya. Tak lain tangan Alan.


“Maafkan aku,” tutur Alan lembut. “Kemarilah!” Alan membimbing Anna kembali duduk di kursi. “Tolong bersabar sedikit. Aku hargai semua pengorbananmu. Dan aku sadar, kita nggak akan mungkin selamanya seperti ini. Pasti akan ada yang berubah. Tapi plis, bersabarlah! Aku janji kamu pasti akan ngedapetin kebahagiaan yang kamu harapkan.”


Alan kembali mengompres kening Anna. Tak ada lagi sorot mata membunuh, tak ada lagi ekspresi kemarahan.


“Dan maaf untuk luka di keningmu,” lanjut Alan.


Hati Anna tersentuh mendengar nada lembut pria itu. Sungguh, Alan menjadi frustasi dan gegabah hingga tidak konsentrasi menyetir mobil karena pikirannya terbagi-bagi, dan semua itu bersumber dari kebohongan Anna.


Tbc


Buat yg udah pernah baca cerita ini di lapak sebelah, pasti tahu alurnya gimana, karna kalian udah tahu kisah Alan yg sebenernya. Buat yg baru tahu, jangan 😈😈