
“Kenapa Anna menangis?” ulang Herlambang menyentuh pucuk kepala Anna.
Yang disentuh langsung mengangkat wajah dan menatap Ayahnya. Herlambang terbelalak kaget menatap mata bungsunya sembab dan bengkak seperti baru saja dihantam bola kasti dengan kekuatan super.
“Nah, ketahuan Ayah, kan?” bisik Angel di telinga Anna.
“Angel, adikmu kenapa?” tanya Herlambang.
Angel menggeleng dengan kepala menunduk. Lebih baik Anna sendiri yang menjawab. Terlalu sulit bagi Angel untuk berbohong.
“Anna, ada apa?” Herlambang duduk di dekat Anna sambil mengelus lembut rambut putrinya. “Sekolahmu ada masalah? Ada teman yang nakal sama kamu?”
Anna menggelengkan kepala. Masih sesenggukan. Mana mungkin ada orang yang berani menjahili Anna. Anna kan pemberani. Jarak semeter saja ada yang berani memelototinya, dengan gesit ia akan salto-salto memamerkan gaya pencak silat yang pernah ia pelajari dari Ayahnya. Ia hanya takut pada orang yang jauh lebih dewasa darinya. Lebih tepatnya didorong oleh rasa sungkan dan segan. Terutama Herlambang, dialah orang pertama yang paling Anna segani. Selanjutnya para guru.
“Angel, ambilkan air putih untuk adikmu.”
Angel menghambur memenuhi perintah dan kembali membawa segelas air putih. Anna meneguk dan menyerahkan kembali gelas itu ke arah Angel.
“Ya sudah, nanti Anna bicarakan kalau udah tenang. Sekarang kalian ikut Ayah. Ayah mau bicara hal penting.” Herlambang melenggang keluar kamar.
Anna dan Angel saling pandang.
“Kok, Ayah serius banget gitu? Apa ada yang salah sama kita, Kak? Perasaan Anna jadi nggak enak.” Anna mengelus dada.
Angel menggeleng agak bingung. Anna terseret mengikuti Herlambang ketika Angel menggeretnya. Mereka kini berada di ruang kerja Herlambang.
Herlambang duduk di kursinya kemudian menatap kedua wajah putrinya satu per satu.
Pandangan serius Herlambang membuat Anna dan Angel bertanya-tanya, apa yang sebenarnya akan dikatakan Ayah mereka?
“Anna, Angel, kalian tahu kan Ayah mati-matian bekerja keras hanya demi kalian?” Herlambang memulai pembicaraan. “Setelah Ibu kalian meninggal, Ayah menjadi Ibu dan Bapak buat kalian. Ayah tidak mau mencari pengganti Ibu karena Ayah sayang sama kalian. Hidup Ayah hanya untuk kalian. Lihatlah ruangan ini, disinilah tempat kerja keras Ayah untuk kalian. Dan sekarang, Ayah minta bakti kalian kepada Ayah. Ini bukan maksudnya Ayah minta imbal balas jasa, tapi sudah sewajarnya seoarang anak berbakti pada orang tuanya.”
“Ayah, ngomongnya ngalor-ngidul, ini sebenernya Ayah mau ngomong apaan, sih?” Anna tidak sabar ingin mendengar inti permasalahan yang sebenarnya.
“Psst..” Angel menginjak kaki Anna. Kata-kata Anna kurang enak didengar.
Anna nyengir. Habisnya ia sudah tidak sabar.
Herlambang menatap sulungnya yang sudah lulus kuliah dan hampir setahun belakangan menekuni peternakan bebek.
“Angel, Ayah ingin kamu menikah. Ayah sudah punya calon suami untukmu. Menikahlah dengan keturunan keluarga William.”
Spontan Angel dan Anna terkejut. Kemudian keduanya saling pandang.
Bagaimana mungkin Angel menikah dengan lelaki yang tidak ia kenal sementara ia sudah memiliki calon imam yang soleh? Dan yang paling penting, sangat ia cintai.
Muka Angel langsung memucat. Ia menunduk dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia takut Ayahnya marah jika ia jujur dan mengatakan yang sebenarnya.
TBC
gimana part ini?
jangan lupa klik like dan sumbangin poin buat dukung cerita ini.
love,
emma shu