
Alan mengurut pelipis, kepalanya masih agak pening. Tubuhnya yang bertelanjang dada tampak kedinginan oleh sapuan angin sejuk dari Ac. Kemudian ia terduduk di sisi ranjang, berusaha mengingat-ingat kejadian semalam. Ketika terbangun pagi, ia mendapati diri sudah terbaring di ranjang dan Anna tidur di kasur bawah. Yang pertama ia lakukan tadi adalah berlari ke kamar kecil dan muntah di wastafel. Setelah itu ia mandi air hangat yang sudah Anna sediakan di bathtub.
“Pusing?” Anna yang baru saja memasuki kamar, menyerahkan segelas susu kepada Alan. Ia sudah terlihat rapi mengenakan celana panjang dan baju lengan panjang warna biru muda serta tas selempang warna senada.
Alan meraih gelas itu dan meneguknya hingga habis.
“Plis, jangan lagi dekati minuman itu,” ucap Anna sembari meletakkan gelas kosong ke meja samping ranjang. Ia duduk di sisi Alan dan menyentuh tangan pria itu. “Aku takut kamu masuk neraka. Minuman itu haram, Alan. Semalem kamu nggak sadar gara-gara minuman itu. Apapun ceritanya, di mata agama aku adalah istri sahmu. Aku punya kewajiban untuk ngingetin kamu.”
Alan mengangguk.
“Apa Papa mengetahuinya?”
Anna menggeleng. “Kamu pulang jam satu malem. Aku cepet-cepet bawa kamu ke kamar supaya nggak ada yang tau kalau kamu mabuk.”
Anna membuka lemari dan mengambil sehelai kaos berwarna hitam lalu menyerahkannya pada Alan. Segera Alan mengenakan kaos itu.
“Apa kamu belum berhasil nyelesein masalahmu? Maksudku, apa urusan pernikahanmu dengan Cintya udah kelar?” Anna menatap wajah Alan yang sampai kini masih tersisa kesedihannya. Raut wajahnya benar-benar tidak bisa membohongi apa yang Alan alami.
“Belum. Itulah yang bikin aku stres. Cintya marah padaku. Dia menganggapku hanya memberi harapan palsu. Aku nggak mau kehilangan Cintya.”
Entah kenapa Anna melepas nafas lega. Hatinya bersorak mendengar penjelasan itu.
“Memangnya apa masalahmu? Kenapa kesulitan mengursu pernikahanmu?”
Anna mengalihkan pandangan ke lantai. Apa benar dirinyalah yang tidak mengijinkan Alan menikah lagi?
“Thanks, Anna. Kamu udah perhatian sama aku. Dan maaf, semalem aku pasti ngerepotin kamu.”
Mendengar itu, bayangan Anna langsung melayang pada kejadian semalam. Bukan hanya tubuh berat Alan saja yang membuatnya kesusahan, Alan bahkan muntah di bajunya.
“Nggak pa-pa, kok. Aku maklum. Tapi kamu mesti janji jangan sentuh lagi minuman itu.”
Alan mengangguk. Ia mematikan Ac dan membuka laci meja, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan korek. Asap yang berasal dari ujung batang rokok langsung beterbangan di ruangan itu, ditambah lagi asap yang disemburkan dari mulutnya.
Anna menghela napas menatap Alan yang berkali-kali menghisap rokok dan menyemburkan asapnya ke sembarang arah dengan kasar. Setiap kali Alan menghisap batang rokok, sepertinya ia terlihat lebih tenang.
Anna merampas batang rokok dari tangan Alan dan membuangnya ke lantai. Dengan cepat sepatu hitamnya menginjak puntung rokok yang masih panjang itu. Anna juga mengambil kotak rokok yang masih penuh beserta koreknya di dalam laci dan membuangnya ke tong sampah.
Alan diam saja melihat Anna yang sibuk membumi hanguskan barang-barang berbau nikotin itu.
Anna berdiri di hadapan Alan dengan tangan menyilang di dada. “Aku nggak suka laki-laki perokok.”
“Alasannya?”
TBC