
“Alan sering memotretmu dari jarak jauh. Dia bahkan selalu bersemangat setiap kali Papa ajak ke rumahmu. Kemudian dengan penuh keberanian, Alan mengatakan kalau dia ingin kamu kelak menjadi pendamping hidupnya, jika kamu sudah besar nanti. Begitu katanya,” lanjut Wiliam.
Ditengah kegundahannya, Anna menyungging senyum tipis. Seperti ada yang bermekaran dalam hatinya. Jika tidak ada mertua di hadapannya, saat itu ia ingin meloncat-loncat. Ya ampun, muka Anna bahkan kini sudah memanas. Diusianya yang masih kecil, ia tidak pernah ngeh dengan siapa saja yang datang ke rumah, termasuk Alan yang ternyata dulunya sering datang ke rumah, dan kemudian Alan tidak pernah lagi datang setelah Herlambang pindah rumah. Anna ingat wallpaper di ponsel Alan. Tidak salah, foto itu adalah foto masa kecilnya yang diambil dari jarak jauh.
Sungguh, cinta Alan kepada Anna memang aneh dan unik, begitu setia Alan menunggu Anna sampai beranjak dewasa. Diantara banyaknya wanita cantik di sekeliling Alan, Anna menjadi pilihannya.
“Itulah sebabnya Papa dan Ayahmu mengatur perjodohanmu dengan Alan jauh-jauh hari,” lanjut Wiliam. “Semua ini Papa lakukan demi satu-satunya putera Papa. Papa ingin Alan bahagia dan mendapatkan apa yang dia cintai. Makanya Ayah pasti marah jika, Alan menyakitimu, sementara kamu adalah wanita yang selama ini dia inginkan. Papa sempat emosi saat Rina mengadu kalau dia akan menemui Cintya, dan kamu malah mendukung hubungan Alan dengan wanita itu. Papa anggap kamu bersikap demikian karena takut pada Alan. Rina sempat menguping saat masuk kamarmu dan mengadukan semuanya pada Papa.”
Anna mengangguk, terbongkar sudah siapa dalang yang membelanya. Mungkin Rina bersimpati pada Anna karena menganggap sama-sama wanita, dan ia menginginkan keadilan untuk Anna.
“Kedengarannya mungkin Alan memiliki kelainan karena begitu terobsesi denganmu yang waktu itu bahkan masih bermain boneka, tapi Papa menganggapnya hal wajar. Dia rela menunggumu sampai usiamu matang.” William geleng-geleng kepala.
“Tunggu dulu Pa, pada awalnya, Kak Angel yang akan dinikahkan dengan Mas Alan, tapi Kak Angel menolak perjodohan itu karena dia udah punya calon suami. Dan aku menggantikan Kak Angel.”
Wiliam mengangguk-angguk. “Ini berarti Ayahmu sudah salah paham. Sejak awal, yang Papa maksud akan dijodohkan sama Alan itu ya kamu. Tapi Papa bersyukur, kesalahpahaman ini tidak mengubah apa-apa, karena kejadiannya sesuai dengan yang diinginkan.”
Wiliam mengingat beberapa tahun silam, waktu itu, Anna dan Angel sedang bermain di halaman rumah, Wiliam membicarakan hal serius pada Herlambang dan menunjuk Anna yang ia inginkan untuk menjadi menantunya jika Anna sudah besar kelak, tapi sepertinya Herlambang salah mengerti dan mengira kalau Angel yang ditunjuk Wiliam. Tanpa banyak tanya, Herlambang saat itu langsung mengiyakan permintaan Wiliam yang ingin menjodohkan Alan dengan salah satu puterinya. Tapi kesalahpahaman itu ternyata tidak mengubah harapan, Semua berjalan seperti yang diinginkan. Alan menikah dengan perempuan yang dia inginkan.
Anna bersyukur, ternyata pria yang sekarang merajai hatinya sudah mengharapkannya sejak lama.
Seorang suster melintas dan memasuki ruangan dimana Alan terbaring untuk mengontrol. Tak lama, seorang dokter menyusul masuk bersama beberapa orang suster lainnya dengan ekspresi gusar.
“Apa yang terjadi?” Anna histeris.
“Kami akan menangani Tuan Alan. Kondisinya drop,” jawab dokter singkat.
Di tengah perasaan yang berkecamuk, Anna berlari mengikuti para susuter yang mendorong bed.
“Maaf, Anda tidak bisa masuk, silahkan tunggdu di luar. Biarkan kami yang menangani.” Suster menutup pintu.
Anna terpaku menatap pintu yang membatasinya.
“Ya Allah, selamatkan Alan.”
William menepuk pundak Anna dua kali.
***
Tbc