Holy Marriage

Holy Marriage
Satu Pujian



“Alta, bisakah kamu ikut denganku?”


Setengah bertanya, namun juga setengah memerintah saat Anna mengajukan pertanyaan pada Alta.


“Tentu.” Alta mengangguk masih dengan ekspresi sedikit gugup. Ia mengikuti Anna menuju ke koridor. Keduanya kemudian beriringan. “Saya merasa gugup diajak bicara sama istrinya CEO. Ada apa gerangan sampai istri dari pejabat tertinggi di sini mengajak saya bicara?”


Anna tersenyum menatap gadis di sisinya. Gadis itu tampak sangat professional dari segi penampilan, cara bicara dan semuanya.


“Alasan apa yang membuatmu ingin bekerja di sini?” Anna bertanya dengan tatapan tertuju ke mata gadis di sisinya.


“Pak Naga. Ya, dia adalah pimpinan saya di perusahaan lama tempat saya bekerja. Beliau merekomendasikan saya bekerja di sini. Saya pikir Pak Naga dan para pteinggi di sini sudah saling kenal dekat. Perusahaan beliau mengalami masalah besar dalam hal keuangan, dan beliau tidak ingin saya terjebak di sana sehingga memilih untuk mengoper saya ke sini. Sebenarnya saya masih tetap ingin bekerja dengan Pak Naga, setidaknya mengabdi sampai titik jantung perusahaan berhenti berdetak sekalipun. Tapi sepertinya Pak Naga berbeda pendapat dengan saya. Ya sudah, mau bagaimana lagi.”


Mereka berhenti saat berada di sebuah ruangan luas, ruangan santai dimana Anna dulu pernah mengobrol santai saat menunggu Alan di sana.


Anna tidak duduk. Dia hanya berdiri saja.


“Aku tahu kamu memiliki kinerja yang bagus. Dan itu bisa dilihat cukup dengan sekilas aku memperhatikan cara kerjamu,” ucap Anna.


“Ibu berlebihan. Saya tidak semenakjubkan yang Ibu kira.” Alta tampak sungkan.


“O ya, kamu udah menikah?”


Alta kembali mengulumm senyum sungkan. “Belum.”


“Kenapa belum menikah? Kupikir kamu sudah cukup matang untuk menikah.” Perbincangan terdengar lebih akrab dengan topik yang lebih santai.


“Sepertinya belum ada yang cocok.”


“Jangan kebanyakan memilih, nanti banyak yang patah hati.”


Alta tertawa mendengar gurauan Anna. “Banyak orang yang bilang katanya saya ini mirip dengan istri Pak Alan. Jika dari segi fisik saja saya sudah mirip dengan Anda, saya juga pinginnya punya suami yang memiliki karakter seperti suami Anda. He hee…”


“Dia begitu penyayang, perhatian dan setia kepada satu wanita. Yaitu Anda. Saya bahkan sudah sangat hafal dengan kehidupan Anda karena keseharian Pak Alan selalu menceritakan tentang Anda.”


Anna termenung. Benarkah demikian? Lalu apa sebabnya Alan beberapa bulan yang lalu sempat berubah drastis?


“Anda beruntung, Ibu Anna. Pak Alan mencintai Anda dengan tulus,” sambung Alta. “Jaman begini, mungkin hanya ada satu diantara satu juta pria tajir, mapan, harta melimpah, uang bejibun tapi setia dan sayang pada keluarga. Dan itulah yang saya harapkan dari sosok seorang pria. Tapi apa ada lagi stok yang seperti itu?” Alta kemudian tertawa kecil.


Anna pun ikut tertawa. “Kamu bisa saja. Selektif deh kalau begitu. Pilih yang benar-benar baik. Wanita sepertimu pantas mendapatkan yang baik.”


“Makasih loh, Bu.”


“Sebelum Mas Alan menjalani cuti panjang ke luar negeri, apa yang terjadi di sini?” Anna ingin tahu alasan apa yang membuat Alan berubah pada masa itu. “Maksudku, apa ada masalah dengan kantor ini sampai-sampai Mas Alan meninggalkan kantor karena lelah mengurusnya, dia bahkan menyerahkan semua urusan kepada Reno.”


Alta berpikir.


“Aku mendapatkan perubahan dalam diri Mas Alan, sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Tapi aku tidak tahu apa itu,” lanjut Anna.


“Oh…” Alta masih tampak berpikir keras. “KEnapa tidak Ibu tanyakan langsung kepada pak Alan?”


“Mas Alan…” Anna berhenti bicara. “Katamu Mas Alan setia pada satu wanita kan?”


“Sangat setia.” Alta menjawab mantap.


“Tapi dia sempat menghindari keluarganya karena alasan yang aku tidak tahu. Mungkin kamu mengetahuinya?”


Alta tergugu, memaku di tempat.


TBC