Holy Marriage

Holy Marriage
Salah Pegang



Sesampainya di kamar Azzam, pertama-tama William langsung mengecup kening putranya yang tidurnya jumpalitan. Lanjut mengecup pipi cucunya itu penuh takzim. Rasa sayangnya begitu besar sampai-sampai dia tidak pergi jika sudah melihat wajah tembem putranya itu. jempolnya mengelus sebentar ke pipi tembem cucunya, kemudian dia membenarkan posisi tidur Azzam.


Akibat tubuh Azzam tergerak oleh tangan William yang tengah mengangkatnya, Azzam malah terjaga, tidurnya terusik. Detik berikutnya, jerit tangis membahana memenuhi rumah.


Anna beregas menuju kamar, menyusul William dan menghambur mendekati putranya yang sedang menangis sambil menjejak-jejakkan kakinya tak tentu arah.


Ya ampun, Azzam kalau ngamuk nggak ketulungan.


Tentu saja William bingung harus melakukan apa dan akhirnya hanya diam saja melihat tingkah cucunya.


Anna segera meraih tubuh Azzam dan menanangkan dnegan pelukan, membenamkan kepala bocah itu ke dadanya sambil berkata, “Sayang, cup cup, Nak. Ini mama, sayang. Boboklah!”


Sekilas manik mata Anna melirik William yang berdiri tegak seperti orang kebingungan. Ya ampun, papa. Plis deh jangan gangguin Azzam dulu, kalau tidurnya terganggu, ya begini akibatnya. Ngamuk. Nah, kalau sudah mengamuk, papa juga nggak bisa mengatasinya. Udah tahu cucunya tukang ngamuk, eh malah digangguin tidurnya. Sekarang Anna-lah yang kuwalahan menenangkan Azzam.


Bocah itu kelojotan, menendang-nendangkan kaki ke udara. Tangisnya masih pecah.


Duh.. perasaan dulu Anna ngidamnya bagus-bagus deh, tapi kok Azzam bisa begini banget ya? kata William, masa kecilnya Alan juga seperti itu. walah, jadi sifat Alan menurun ke anaknya. Repot.


Setelah hampir sepuluh menit membujuk dan menenangkan dengan segala cara, akhirnya Azzam kembali tertidur. Masih dengan keplaa di lepukan Anna. Pelan-pelan, Anna meletakkan kepala Azzam ke bantal dan menyelimutinya sampai dada.


“Azzam memang suka mengamuk kalau tidurnya terganggu, Pa,” lirih Anna dengan suara setengah berbisik, suara keras hanya akan menggangu tidur Azzam. Ia sedang berusaha memberi kode kepada mertuanya bahwa anaknya itu tidak bisa diganggu disaat sedang tertidur.


William mengangguk. “Ya sudah Anna, papa pulang dulu.” Suara William menggelegar.


Duh! Anna mengeluh dalam hati. Padahal tadi Anna sudah sangat pelan saat mengeluarkan suara supaya tidak mengganggu Azzam, eh papa mertua suaranya kayak geledek. Tentu saja Azzam mengamuk.


Lagi-lagi, jadi kerjaan Anna. Dengan segera, Anna menggendong tubuh Azzam dan memeluknya erat sambil melirik mertuanya yang melenggang pergi.


Di dalam gendongan Anna, tubuh Azzam memberontak. Menangis-nangis. Terpaksa Anna menurunkan tubuh Azzam. Bocah itu pun berdiri sambil menangis sekeras-kerasnya dengan mata terpejam.


Anna hanya bisa menyaksikannya tanpa berbuat apa-apa. Ditolongin pun, bocah itu tetap saja mengamuk. Ya sudah, dibiarkan saja.


Azzam kini membuka matanya sambil terus menangis, berjalan menuju ke pintu dan keluar kamar. Diikuti oleh Anna.


Azzam menuju ke sofa. Dengan susah payah, bocah itu berusaha dan berjuang keras memanjat sofa. Satu kakinya sudah berhasil naik ke atas, satunya lagi kesulitan naik karena ukuran sofa yang jauh lebih tinggi dibanding pinggangnya. Kini spearuh tubuhnya sudah berada di atas sofa, hanya tinggal satu kakinya saja yang masih menggelantung.


Anna membiarkan saja, hanya melihat dari jarak beberapa meter tanpa menolongnya.


Setelah lelah bergerak, Azzam meletakkan kepala ke sofa, membiarkan satu kakinya menggelantung dan tertidur dengan nafas keras.


Anna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya.


Tuhan, anaknya kok unik begini ya? besar nanti jadi apa?


Tbc