Holy Marriage

Holy Marriage
Interogasi Dari Alan



Bulu kuduk Anna meremang mendengar kata-kata bernada penuh ancaman. Ternyata bukan hanya sorot mata Alan saja yang setajam elang, bahkan kata-katanya pun setajam silet. Apa jadinya jika Anna kelak menikah dengan pria es balok yang ternyata berdarah dingin? Ah, Anna kok jadi berpikir yang tidak-tidak? Ia merasa kaku menghadapi pria setajir Alan. Mulai dari tutur kata, sikap dan tingkah laku Anna tentu saja jauh berbeda dengan orang-orang yang selama ini Alan hadapi. Anna merasa rendah diri dan katrok sekali. Ia kesulitan menyeimbangkan sikap agar terlihat selevel dengan Alan.


Semua orang, bahkan teman-teman sekolahnya pasti menganggapnya beruntung karena bisa mendapatkan Alan. Tapi faktanya tidak. Anna malah seperti seekor semut yang ketakutan terinjak gajah.


“Kenapa diam?” desak Alan.


Anna sampai terlonjak mendengar pertanyaan itu. Gara-gara pikirannya melayang memikirkan sosok Alan, ia sampai kaget saat suara bariton itu mengguntur.


Pertanyaan Alan yang disertai tatapan tajam membuat Anna merasa terdesak dan harus menjawab jujur. Dari pada ketahuan belakangan seperti yang Alan katakan, mendingan jujur. Bisa saja Anna dicekik pakai garpu jika berbohong.


“Dia itu Rafa.”


“Siapamu?”


“Pacarku, dulu.”


“Dulu?”


“Iya. Sekarang enggak lagi. Kami udah putus.”


“Tepatnya mantan?”


“Iya.”


“Udah berapa lama kalian putus?”


“Baru seminggu lebih.”


“Dan kamu masih ngarepin dia?”


Kok, gue jadi kayak diintrogasi gini? Maksudnya apa? Apa Alan bakalan membatalkan pernikahan kalau gue memang masih kepikiran Rafa? Anna menebak-nebak dalam hati.


Anget? Martabak kali? Anna nyengir.


“Aku benci sama dia. Pokoknya benci banget. Aku kecewa, sakit hati. Dia selingkuh sama Joli, sahabatku.” Anna menggigit bibir usai menceritakan hal itu. Entah kenapa tiba-tiba lidahnya mencair saat mengungkapkannya.


“Dasar ABG. Bego dipelihara.”


“Apa? Kamu ngatain aku bego?” Anna mengangkat wajah dan kini menatap Alan.


“Jelas-jelas pacarmu selingkuh, dan kamu masih memikirkannya? Antara benci dan kecewa itu berbeda. Benci, emang sama sekali nggak suka. Sementara kecewa, perasaan itu muncul karena rasa sayang yang terkhianati. Rasa kecewa akan tetap diiringi oleh rasa sayang, bahkan malah semakin sayang saat semakin disakiti. Dan kamu, termasuk ke kategori yang kecewa, bukan benci.”


Anna diam menelan kata-kata Alan. Dan ia membenarkan semua yang dikatakan pria itu.


“Lelaki seperti Rafa pantas ditinggalin. Kamu nggak perlu cengeng dan melo.”


“Teorimu memang bener. Faktanya, cinta pertama itu sulit dilupain. Cinta begitu mudah saat hadir, tapi sulit untuk ngelupainnya. Jatuh cinta bisa terjadi beberapa kali dalam waktu yang singkat, tapi ngelupain orang yang kita sayang akan butuh waktu cukup lama. Bahkan mungkin seumur hidup. Entah kenapa aku masih sayang sama dia meski pengen bikin dia ngerasain hal yang setimpal.” Anna ngeles. Perasaannya terhadap Rafa memang masih hangat, bahkan kenangannya bersama Rafa masih tersimpan rapi di memori kepalanya. Memang benar Rafa telah menyakitinya, tapi entah kenapa perasaannya terhadap Rafa sulit melebur.


“Whatever. Simpan rapi-rapi perasaanmu itu ke mantanmu. Jangan sampai orang lain tahu. Cukup kamu yang tahu, paham?”


Anna mengernyit tidak paham.


“Kamu calon istriku, kuharap kamu memperlihatkan perhatian ke aku selayaknya calon suami di hadapan semua orang. Kamu bersedia menikah denganku karena ingin membalas dendam sakit yang kamu rasakan ke mantanmu bukan?”


Sebenarnya bukan hanya sebatas itu saja yang membuat Anna kini menjadi calon istri Alan. Tapi juga demi Angel dan Herlambang.


Tidak mendapat jawaban, Alan menoleh, menatap Anna yang menunduk merasa bersalah.


TBC