
Lantas sekarang apa yang akan mereka bicarakan sementara Alan hanya diam saja? Apakah Alan mendadak ilfil padanya karena ia adalah gadis SMA yang tidak punya nilai apa-apanya di matanya? Anna benar-benar tidak Pe De. Huh, apa jadinya jika lelaki setegas Alan menikah dengannya?
“Mmm.. Alan,” lirih Anna memberanikan diri. Sepuluh menit mereka berada di ruangan VIP dan tidak saling bicara, Anna mulai memiliki nyali untuk memulai.
Alan hanya mengangkat dagu tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
“Jadi lo yang namanya Alan?” Anna tidak menyangka ia akan menikah dengan lelaki yang memiliki nama awalan yang sama dengannya. Anna-Alan. Anna berusaha mengambil hal positif. Sepertinya tidak buruk jika ia menikah dengan Alan. Dia ganteng, postur badannya oke, tajir, tentu tidak malu-maluin jika dibawa ke kondangan. Rafa pasti akan guling-guling stres memikirkannya.
“Manggilnya jangan pakai lo-gue. Kita akan jadi suami istri, rasanya itu nggak sopan dan nggak enak didengar orang. Pakai aku-kamu aja.” Alan bicara dengan nada tenang.
Anna menarik nafas tenang. Itu artinya Alan setuju Anna menjadi pendamping hidupnya. Buktinya Alan mengakui kalau mereka akan menjadi suami istri.
Alan memutar bola mata ke arah kaca di sebelahnya, di luar ruangan tampak William, Laura dan Herlambang sedang berbincang serius dan kemudian tertawa riang.
“Alan!”
“Mas, Alan!” tegas Alan berusaha membenarkan panggilan.
Salah lagi, pikir Anna.
“Oh eh.. Iya. Mas Alan, umurmu berapa?” tanya Anna seperti detektif.
“Dua puluh delapan tahun.”
Beda sebelas tahun? Anna menggigit bibirnya sendiri.
“Sebenernya apa yang bikin elo, eh kamu eh Mas Alan mau mengikuti perjodohan ini?”
“Aku menuruti perintah orang tuaku.”
Alan menikah hanya sebatas alasan menuruti kemauan orang tua. Sedikitpun tidak terlihat keperdulian Alan dengan pernikahan yang akan berlangsung.
“Apa kamu suka dengan perjodohan ini?”
Alan menatap Anna dengan dahi bertatut, membuat Anna gelagapan mendapat tatapan seserius itu dan merasa ada kesalahan dengan pertanyaan barusan. Tatapan mata Alan memang tajam, siapa saja yang ditatap demikian jantungnya pasti merasa seperti ditusuk.
“Orang tuamu kayaknya ngebet banget pengen nikahin kamu sama anak Pak Herlambang?” lanjut Anna menyebut nama Ayahnya.
“Aku tahu apa? Tanyakan itu ke Ayahmu, dia pasti lebih tahu.”
Anna diam mendapat pernyataan tidak mengenakkan itu. “Untuk sekedar kamu ketahui, aku akan jelasin tentang aku. Aku adalah …”
“Anna Salsabila,” potong Alan sambil menatap jus yang sedang ia aduk menggunakan sedotan. “Dua bulan yang lalu umur genap tujuh belas tahun. Kelas dua belas di SMA Pancasila. Memiliki satu Kakak perempuan bernama Angel Afifa. Ibu sudah meninggal.” Tak lupa, Alan juga menyebutkan alamat rumah Anna, lengkap.
Anna melongo mendengar Alan menguraikan semua tentangnya.
“Gimana kamu bisa tahu?” Anna menatap Alan sungguh-sungguh.
Alan diam saja.
Untung saja Anna masih bisa bersabar. Ia paling benci dicuekin. Ditanyain malah diam saja. Anna mulai menebak-nebak sendiri, kemungkinan ayahnya sering membicarakan tentang anak kepada Wiliam. Dan kemudian Wiliam menceritakannya kepada Alan. Anggap saja begitu.
Dan yang lebih membuat Anna lega, Alan tidak membahas masalah di sekolah waktu itu. Alan juga tidak membahas kenapa justru adik yang menikah dengannya? Kenapa bukan Angel yang tentunya jauh lebih dewasa sebagai kakak Anna? Syukurlah Anna tidak perlu pusing memikirkan hal itu.
TBC