
Colin terkejut melihat Alan, sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu terbaring tak sadarkan diri. Ya, sama seperti Reno, Colin adalah teman kuliah Alan.
Colin menutup hidung saat bau minuman beralkohol yang berasal dari kemeja Alan menyengat hidungnya. Kemudian pandangannya menyapu meja yang dipenuhi botol bermerk minuman keras.
“Ya Tuhan, apa ini? Alan kenapa? Sejak kapan Alan kenal minuman kayak gini?” Colin memegang kemeja depan Alan yang basah.
Reno hanya melepas napas tanpa menjawab.
“Alan nggak doyan mabuk-mabukan kayak gini, trus kenapa dia sampe mabuk gini?” Colin mengusap rambutnya menatap kondisi Alan yang memprihatinkan. Ia sangat mengenal Alan. Dan yang dilihatnya sekarang tidaklah seperti Alan yang ia kenal. “Mbet, ini pasti lo yang pengaruhi Alan. Tau nggak siapa yang demen banget ngehasut orang?”
“Setan.”
“Nah, lo tau itu.”
“Jadi lo bilang gue ini setan? Alan lagi dalam masalah berat, dia frustasi banget. Gue Cuma nggak tega ngeliat Alan sedih. Dengan begini, Alan lupa segalanya.”
“Masalah nggak akan selesai dengan cara minum. Emangnya setelah kita minum, masalah akan lari dari kita? Enggak, kan?”
“Seenggaknya terdapat manfaat juga dalam minuman itu.” Reno cengengesan.
“Ya, beberapa manfaat, tapi dosanya lebih besar dari manfaatnya. Mbet, berapa kali mesti gue bilang, minuman ini ngerusak badan, nggak baik untuk kesehatan. Haram hukumnya, Mbet. Dosa. Perbuatan setan. Dengan minuman itu, setan akan dengan mudah menimbulkan permusuhan dan kebencian, juga menghalangi manusia dari mengingat Allah. Inget Mbet, setiap yang memabukkan itu haram, dan sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram. Jangan anggep enteng minuman keras, karena saat seseorang minum, baik banyak ataupun sedikit, kalau Allah berkehendak, sewaktu-waktu Dia dapat mengambil nyawa orang tersebut. Mati dalam keadaan mabuk. Neraka tempatnya, Mbet. Lo nggak takut?”
Membayangkan neraka, Reno mengusap belakang lehernya yang meremang dengan telapak tangan. Mulai, Colin menyerangnya dengan kalimat-kalimat bernuansa religi. Bukan Colin namanya jika tidak menyangkutpautkan perkara hidup dengan agama.
“Dih, lo jangan nakut-nakutin gue, dong! Pake bawa-bawa neraka lagi. Serem amat. Belum mau mati gue.”
Colin meraih lengan Alan dan melingkarkan ke lehernya. “Bantu gue bawa Alan keluar.”
“Alan mau dibawa kemana?” Reno tidak bergerak.
“Loh, Alan lagi mabuk gini, gimana mungkin dibawa pulang? Bisa kena omel habis-habisan entar Alan sama keluarganya. Apa lagi Alan udah nikah, istrinya bisa ilfil sama dia nanti.”
“Di sini entar Alan tambah rusak. Mendingan dibawa pulang. Biar aja keluarganya tahu, biar mereka bisa ngarahin Alan ke jalan yang bener. Kalau dengan cara dimarahin sama keluarga bisa ngebuat Alan sadar untuk nggak nyentuh minuman kayak gini lagi, kenapa enggak? Ayo, bantu gue bawa Alan ke mobil!” titah Colin.
“Tapi...”
“Mbet, buruan!” titah Colin.
Reno tidak bisa membantah jika sudah ditatap setegas itu oleh Colin. Ia akhirnya membantu memapah tubuh Alan dan memasukkannya ke mobil milik Alan yang treparkir di depan rumah.
“Lo yakin mau nyetir sendiri?” tanya Reno melihat Colin yang sudah duduk di bagian kemudi.
“Tentu.”
“Biar gue aja. Lo kan lagi capek.”
“Gue nggak yakin lo akan bawa Alan ke rumahnya, bisa aja Alan dibawa ke hotel atau kemanapun yang menurut lo aman.”
Colin menyetir mobil dan meninggalkan pekarangan rumah Reno.
“Woi, tapi entar lo balik lagi ke sini, kan? Koper lo di rumah gue ini. Lo jadi nginep di rumah gue, kan?” teriak Reno ketika mobil melesat melewati gerbang.
Colin mengangguk. Ia tahu Reno tidak melihat anggukan kepalanya, tapi itu yang ia lakukan.
***
TBC