
Pagi itu, Anna tengah membuat susu hangat. Ia mengaduk susu yang sudah diberi air hangat dengan sendok.
“Tumben bikin susu sendiri, Non. Bukannya biasanya saya yang bikin ya?” Tanya Rina yang saat itu sedang meletakkan sarapan ke meja makan.
“Ini untuk Mas Alan.”
“Owalah… Tumben bikinin susu untuk Tuan Alan?”
Anna tersenyum. “Kamu jangan kebanyakan nanya. Bibirmu entar jontor.”
Sontak Rina menyentuh bibirnya sendiri dengan telapak tangan. “Dih, si enon bisa aja, masa bibir seksi begini dibilang jondor.”
“Jontor.” Anna membenarkan.
“Iya itu maksud saya. He heee…”
“Kamu ambil talam gih!” titah Anna.
“Oke.” Rina menghambur ke dapur dan kembali membawa talam. “Ini. Untuk apa, Non?”
“Untuk bawa makanan ke kamar.” Anna meletakkan makanan yang baru saja dimasak oleh Rina ke talam bersama dengan segelas susu, kemudian ia membawanya ke kamar.
Agak sulit siku Anna membuka knop pintu, namun ia berhasil melakukannya. Kemudian ia meletakkan talam ke meja. Ia melirik Alan yang masih tertidur pulas, bergulung dengan selimut. Pria yang tidur bertelanjang dada itu tidak bergerak saat Anna mengguncang lengannya. Nyenyak sekali dia. Nafasnya keras ekali udah kayak kucing minta dielus-elus. Ya ampun.
Anna mengguncang lengan Alan sekali lagi. “Akhir-akhir ini kamu jadi males kerja, males bangun pagi, males pergi ke kantor. Kamu lebih sering menghabiskan waktu dengan tidur. Ada apa sih? Mas Alan, bangun dong! Udah siang. Mentang-mentang perusahaan milik nenek moyang trus nggak mau bangun pagi. Kalo nggak mau bangun pagi, entar rejekinya keduluan dipatokin ayam.”
“Ayamnya dikandangin semua, mana mungkin bisa matokin rejekiku,” gumam Alan dengan suara tak jelas.
Anna tersenyum geli. Dasar pria aneh. Mau enaknya saja.
“Lihat deh aku bawain apa?” Anna mengambul mangkuk bubur dan emndekatkannya ke arah hidung Alan supaya pria itu mencium aroma sedap yang mengurai dari bubur hangat.
“Anna, ya ampun!” Alan mengusap wajahnya dengans sekali usap, berusaha membuat benda-benda itu menyingkir dari pandangannya.
Oh… Ya ampun, sial sekali si ganteng. Anna menggapai lengan Alan dan membimbing suaminya itu turun dari ranjang kemudian mengantarkannya ke kamar mandi.
“Sori Mas Alan, ini kayaknya memang kamu disuruh cepet-cepet mandi deh.” Anna nyengir menatap Alan yang mengusap wajahnya dengan air keras wastafel.
“Kamu sengaja ya?”
“Enggak. Suer. Aku nggak sengaja.”
“Kamu harus bertanggung jawab, Anna.”
“Bertanggung jawab gimana?”
“Lepasin semua selanaku. Ini kotor!” Alan balik badan kemudian menunjuk celananya yang kotor terkena tetesan bubur.
Anna mengangkat alis dan menelan. Melepaskan celana Alan? Kenapa anna malah kebayang yang enggak-enggak sekarang?
“Kenapa malah bengong? Ayo, lepasin!” titah Alan.
“Iya, iya.” Anna mendekati suaminya dan menjulurkan tangan ke arah resleting celana tersebut.
“Astaga, kamu buka begitu aja lama banget?” Alan sengaja protes, padahal Anna belum sampai semenit memegang resleting itu.
“Iya, ini entah kenapa resletingnya nyangkut.” Anna malah jadi gemetaran akibat tatapan mata Alan yang tegas sehingga resleting tak kunjung terbuka. “Kamu ngeliatinnya jangan kayak gitu juga kali. Aku kan jadi nggak nyaman. Udah ah buka sendiri aja.” Anna melenggang pergi dan menutup pintu kamar mandi, meninggalkan Alan yang tergelak.
TBC