Holy Marriage

Holy Marriage
Thanks, Alan



“Lo belum tau siapa Alan, bukan?” Alan menatap Rafa sinis. “Alan William, pria kuat yang memiliki uang dan banyak mata-mata, gue bisa beli apa aja dengan uang kalo gue mau. Tapi gue nggak lakuin itu jika demi kebaikan, gue hanya lakuin itu untuk manusia-manusia licik kayak lo. Gue tau lo adalah dalang dibalik tercemarnya nama gue. Lo ambil foto-foto gue dari ponsel Cintya dan membeberkannya ke media, lo juga biang yang udah masukin sesuatu ke minuman gue sewaktu gue bertamu menemui Cintya di rumahnya, lo juga yang ngerekam kejadian antara gue dengan Cintya waktu itu, bukan? Dugaan gue ini bener, kan? Jawab!” gertak Alan keras.


Rafa mengerut takut.


“Gue kenal Cintya nggak akan sepicik itu, tapi entah kenapa adiknya bisa selicik lo. Nggak ada manusia licik di sekitar Cintya selain lo, lalu siapa lagi yang berani main-main sama gue kalau bukan lo?” Alan menjambak rambut Rafa hingga kepala pria itu mendongak mengikuti tarikan tangan Alan.


“Maaf. Maafin gue.”


Alan tersenyum sinis. “Keuntungan apa yang lo dapetin dari semua ini?”


“Gue masih sayang sama Anna. Gue ingin dia kembali ke gue.”


“Bodoh! Lo udah menyia-nyiakannya, kesmepatan terkadang nggak bisa datang dua kali. Lo tahu nggak siapa yang sedang lo usilin?”


“Iya, gue tau. Alan William.”


“Good. Lo harus segera kembaliin nama gue seperti semula. Terserah lo mau bilang apa ke media soal foto-foto itu, yang jelas gue mau nama gue baik. Paham?” Alan menepuk pipi Rafa dua kali sambil tersenyum.


Dahi Rafa berkerut. Mulutnya ingin menolak, namun tidak berani bicara saat pandangannya mengedar menatap pengawal Alan yang seram-seram.


“Gue bisa bertindak lebih kejam dari ini, semua gue lakuin demi istri gue. Gue sangat mencintai Anna. Juga anak yang dia kandung saat ini.”


“Hm.. sayangnya lo nggak ada pilihan lain, gue akan bikin muka lo rata kalau gue mau. Inget, gue bisa jauh lebih jahat sama manusia jahat. Sebaliknya, gue bisa jauh lebih baik sama manusia yang sangat baik. Jangan bikin gue mengotori tangan gue dengan menggali liang kubur buat lo.”


Rafa mnyipitkan mata, ketakutan. Alan tidak main-main, Alan sedang sangat marah.


***


Alan tersenyum menatap televisi yang menyorot wajah Rafa, pria itu mengaku minta maaf melalui media karena telah iseng mengedit foto Alan dengan sosok wanita yang sempat menggemparkan dunia maya. Ia mengaku iseng dan berkali-kali mengucapkan permohonan maaf.


Tak lama, Alan mengintip dari jendela ada banyak wartawan yang menunggu di depan rumah meminta penjelasan dari Alan, apakah ia akan menuntut Rafa atas pencemaran nama baik atau ada tindakan lain. Namun Alan memilih tidak menemi mereka. Ia hanya mengutus Reno yang buka suara, selayaknya juru bicara Reno mengatakan kalau Alan sudah memaafkan dan tidak perlu memperpanjang masalah.


Kembalinya nama baik Alan di mata media membuat namanya kembali melambung dan bisnisnya meroket naik.


Tak lupa, Alan merayakan kebahagiaan tersebut dengan membawa Anna jalan-jalan ke luar negeri. Negara yang menjadi tujuannya adalah, Mesir dan Turki. Banyak sejarah yang tertinggal di Negara itu, tentang para nabi, yang tentunya menambah wawasan Anna. Kebahagiaan anna benar-benar telah sempurna.


Terimakasih Alan. Satu kalimat itu terlintas dalam benak Anna.


***


TBC