Holy Marriage

Holy Marriage
Jatuh Cinta Pada Alta



“Sayang, kamu sudah bangun?” Anna mengalungkan lengannya ke leher Alan.


Semakin panas dingin tubuh Alan dibuatnya.


“Hei, kenapa kamu dingin sekali?” Anna mengusap-usap dagu suaminya, kemudian mengusap dada Alan yang berlapis kaos.


Alan memang berusaha menampilkan ekspresi datar sejak tadi. Ia heran kenapa Anna mendadak agresif. Apakah Anna juga merindukannya sama seperti dia yang juga merindukan Anna? Entah sudah berapa lama ia tidak bercinta dengan Anna. Sudah lama. Alan pun lupa. Sepertinya sewaktu berada di luar negeri.


Anna duduk di pangkuan Alan dan menempelkan pipinya ke dada Alan. Dengan wajah mendongak dia berkata, “Aku sayang sama kamu.”


Tak tahan, Alan pun mengangkat tangannya dan merangkul punggung Anna. “Berapa lama aku tertidur?”


“Apa kamu merasa terlalu lama saat tidur?”


“Sepertinya begitu.” Alan memeluk tubuh Anna.


“Dua malam kamu tertidur, sayang. Dan baru siang ini kamu bangun. Ada apa? Kamu kelelahan?” Anna mengecupi dagu Alan.


Dua malam? Alan sampai tidak menyadari hal itu. Dia pikir malah sudah mati saat tidak bangun juga.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku?" Alan mempertegas suaranya dengan tatapan tajam.


"Aku tahu kamu lelah, aku nggak mau mengganggumu. Dan sepertinya kamu juga nggak sehat, jadi kubiarkan saja." Anna berbicara dengan entengnya. "Kamu bahkan nggak terbangun saat aku mengganti seluruh pakaianmu."


Sepulas itukah tidurnya? Alan tidak yakin bisa sampai sepulas itu saat tertidur akibat rasa sakit yang benar-benar telah menyita tenaganya.


Alan membalas ciuman Anna saat wanita itu mulai mendaratkan ciuman ke bibirnya. Tangan Alan mengelus punggung Anna.


Namun detik berikutnya, Alan melepas pelukan dan menjauhkan tubuh Anna darinya hingga keduanya berjarak.


"Menjauhlah dariku!" seru Alan dengan sorot tajam.


"Kenapa?" Anna polos sekali.


"Aku bosan." Alan kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur.


"Oke. Aku menjauh, sayang!" Anna tersenyum dan menuruni kasur.


Alan heran dengan sikap Anna yang terlihat masih terus mesra dan bahkan tidak kesal saat diperlakukan dengan buruk. Anna mengganti pakaian di hadapan Alan dengan santainya. Sesekali wanita itu melempar senyum saat pandangannya bertemu dengan mata Alan.


"Aku udah sipain air hangat di bath tub untukmu mandi. Aku juga akan bawakan makanan ke sini untukmu kalau kamu sedang malas turun ke bawah." Anna kembali mengulas senyum kemudian melangkah keluar kamar.


Usai mandi dan memakai pakaian rapi, Anna muncul membawa makanan dan minum untuk Alan ke kamar.


"Taraaa... ini aku bawain makanan spesial untukmu. Pastanya enak banget, loh. Ayo, makan!" Anna meletakkan makanan ke meja.


Alan merasakan perutnya keroncongan, lapar sekali. Tapi ia tidak ingin menyenangkan hati Anna dengan memakan masakan istrinya itu.


"Aku tidak mau memakan makanan hasil masakanmu. Aku mau makan di luar saja," ucap Alan sambil melangkah menuju pintu.


"Oke, deh. Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau makan. Biar untuk Rina aja." Anna masih tersenyum, tanpa sedikit pun merasa kesal.


Ada apa dengan Anna? Alan bingung. Wanita itu tidak tersinggung, tidak kesal dan tidak marah meski mendapat perlakuan demikian.


"Sayang!" Anna berjalan mengikuti Alan di belakang.


Masih saja Anna memanggil dengan sebutan sayang.


"Sayang, kamu dengar aku kan?" Anna mengikuti Alan.


Alan tidak menghiraukannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Anna.


"Bukan urusanmu!" ketus Alan. "Aku ingin bertemu dengan sekretarisku. Alta terlihat lebih menarik dibanding dirimu. Aku bosan denganmu, Anna." Alan mulai mengucapkan kata-kata yang menurutnya bisa membuat Anna menangis dan mulai membencinya.


"O ya? Kamu yakin dia lebih menarik dari aku?" Anna masih tersenyum manis tanpa sedikit pun menampilkan kekesalan. Wanita itu berdiri menghadang langkah Alan. "Aku mau ikut kamu. Aku. mau mendampingimu."


Alan benar-benar tidak mengerti dengan sikap Anna sekarang. aneh. Bukannya marah, malah bersikap semakin romantis.


"Aku ingin mengatakan satu hal padamu," tegas Alan.


"Iya, bicara saja!" Anna tersenyum.


"Aku jatuh cinta pada Alta, dan aku ingin menikahinya."


"Tidak masalah." Senyum Anna masih mengembang. "Menikahlah dengan siapa pun, aku akan mengijinkannya asalkan kamu nggak meninggalkanku. Satu saja syarat dariku untuk mengijinkanmu melakukan apa saja, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi dariku." Anna menghambur memeluk Alan erat. "Satu saja permintaanku pada Tuhan di setiap doaku, agar kamu tetap bersamaku sampai kita menua, bukankah Tuhan yang sudah memberi sakit, maka Tuhan pula yang berkuasa mengangkat sakit itu. Percayalah, sakitmu itu nggak akan bisa memisahkan kita."


Alan membeku di tempat.


TBC