Holy Marriage

Holy Marriage
Siaga s2



Rengekan Azzam di box membuat Alan terbangun. Sekilas Alan melirik jam dinding, pukul 01.15 am. Ia menoleh Anna yang menggeliat dan terbangun akibat suara Azzam.


“Biar aku aja.” Dengan sigap, Alan melompat turun dari ranjang dan mencegah Anna turun dari ranjang. Alan meraih tubuh Azzam dan mengecek pampers yang dikenakan puteranya. Alan sudah sangat paham, di jam-jam segitu, Azzam pasti merengek saat merasa tak nyaman. Tidak ada alasan lain selain dia terkencing dan membuat pampersnya basah.


“Ooh… Minta ganti pampers ya, sayang!” Alan mengambil satu pampers dari rak lalu mengganti pampers Azzam dengan telaten. Itulah yang Alan lakukan setiap malam. Ia tidak ingin melihat istrinya lelah, atau skeedar terganggu tidurnya. Biarlah Alan yang kelelahan dari pada Anna yang harus menanggung beban sendirian. Sudah cukup perjuangan Anna mengandung anak yang akan meneruskan generasi Alan, sudah cukup rasa sakit yang Anna tanggung saat melahirkan puteranya, jangan ditambah lagi. Kecuali Azzam ingin menyusu, barulah Alan membangunkan Anna. Itu pun Alan ikut melek menunggui anna sampai selesai menyusui Azzam. Setelah Anna selesai menyusui, Alan akan mengambil alih Azzam dan kembali meletakkan Azzam ke box.


Dan sekarang, lihatlah mata Azzam malah melek lebar. Bayi menggemaskan itu malah tertawa-tawa menatap papanya. Dia ngoceh snediri, mengangkat kakinya dan memegangi ujung kaki yang terbungkus kaus kaki.


“Bobok lagi ya, sayang! Papa ngantuk!” Alan tersenyum menatap pipi tembem puteranya.


Bukannya tidur, Azzam malah tertawa dan terus mengoceh. Terpaksa Alan menemani Azzam, melayani puteranya bermain meski sebentar-bentar ia menguap akibat kantuk yang menyerang dengan hebatnya. Beginilah resiko memiliki anak.


“Sstt… Mamamu lagi tidur, jangan kenceng-kenceng ketawanya. Anak papa ngegas banget, sih?” Alan mencubit pipi gemil anaknya.


Azzam menjawab dengan ocehan dan tawa, kemudian menelungkup dan mengotak-atik gambar alas tidurnya.


“Ya ampun, kapan tidurnya, Nak? Kok, malah main, sayang?” Alan menelentangkan tubuh Azzam, namun Azzam malah menjerit karena menolak ditelentangkan. Ia masih ingin bermain.


“Pssst sst…” Alan melirik Anna yang tertidur di ranjang, khawatir istrinya itu akan terganggu. Alan menggendong tubuh Azzam dan membawanya keluar kamar supaya jeritan Azzam yang tidak bisa direm tidak mengganggu Anna.


Alan membawa Azzam ke kamar bayi, kamar tempat Azzam bermain dan istirahat saat siang hari bersama Arni.


Dengan gesit, Azzam merangkak mengejar mainannya. Lalu duduk manis memainkan mobil-mobilan.


Satu jam berlalu, Azzam belum juga terlihat mengantuk. Malah kepala Alan yang terayun-ayun akibat ngantuk berat.


“Kalau main terus, kapan tidurnya, Baby?”


Melihat Azzam yang masih asik bermain, Alan akhirnya menggendong Azzam dan membawanya jalan-jalan ke lantai bawah. Dnegan diajak jalan-jalan, Alan berharap Azzam akan mengantuk dan tertidur. Benar saja, tak lama kemudian Azzam tertidur di gendongan Alan.


Alan membawa Azzam kembali ke kamar bayi dan ia membangunkan Arni, memberitahukan baby sitternya itu kalau Azzam ditidurkan di kamar itu. Arni siap menjaganya. Alan kemudian kembali ke kamarnya dan menyelusup masuk ke selimut, lengannya memeluk Anna.


Anna tersenyum merasakan sentuhan hangat lengan kekar suaminya. Ia bangga pada Alan, yang siap berjaga tengah malam untuk mengurus anak. Alan, sosok pekerja keras yang begitu sayang dan perhatian pada anak dan istri.


Anna membalas pelukan Alan dengan mengelus punggung tangan pria itu.


“Met bobok, sayang,” bisik Alan membuat sudut bibir Anna tertarik.


TBC