
Tidak ada yang menolong, Anna pun bangkit sendiri. “Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Mas? Sikapmu angin-anginan. Baru saja aku bahagia atas kembalinya Mas Alanku yang dulu, eh sekarang kambuh lagi sikap anehmu ini.” Anna menyeletuk kesal. Ingin sekali dia mengetuki kepala Alan sepuluh kali, atau dipentokin saja kening suaminya ke sepatu seperti yang dialami Azzam supaya kembali normal. Sayangnya menganiaya suami itu sebagian dari dosa.
Alan diam saja.
“Kamu tuh aneh, Mas. Tiba-tiba saja berubah tanpa alasan. Marah-marah nggak jelas,” kesal Anna. Dia seperti sedang berbicara dnegan tembok. Semua perkataannya tidak ditanggapi.
Uugh… Anna kesal sekali. Jiwa emosinya kembali memberontak. Tidak heran jika Anna suka meninju, dia kan ahli bela diri.
“Okey, kalau kamu masih juga diam. Aku akan meninjumu, mau?” ancam Anna.
Masih tidak ada respon. Alan malah memalingkan wajah ke sandaran sofa hingga wajah tampannya itu sempurna tidak tampak di mata Anna.
“Jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti ada kabar penganiayaan istri terhadap seorang pengusaha kaya,” celetuk Anna lagi.
Kesal tidak ditanggapi, akhirnya Anna melangkah pergi meninggalkan Alan dengan langkah tertatih akibat bok*ngnya yang masih terasa nyeri akibat terhantam.
Anna memasuki kamar Azzam. Balitanya itu terbaring di kasur dengan pulas. Arni menunggu di sisi sambil mainan ponsel.
Anna mendekati kasur dan berbaring di sisi Azzam. Lebih baik menatap wajah Azzam yang menggemaskan dari pada menatap Alan yang menyebalkan.
Anna sadar sepenuhnya kalau awalnya Alan sangat mencintainya dengan rasa cinta yang berlebihan, namun apa yang dia jalani sekarang bukanlah kisah cinta di surga yang tentunya akan kekal, melainkan kisah cinta di dunia yang fana, yang tidak ada system kekal. Bahkan perasaan manusia pun bisa berubah.
Alan adalah pria kaya, tampan, mapan, dan memiliki segalanya. Dia juga dikelilingi wanita-wanita cantik. Ah, kenapa Anna secamas ini? Mungkinkah kecemasan Anna masuk akal? Anna tidak akan memikirkan hal-hal konyol jika Alan tidak berubah-ubah. Pria itu benar-benar seperti bunglon.
Kok, Anna jadi baper sekali? Apakah itu wujud dari perasaan sayangnya kepada Alan?
Plak!
Elah, kaki Azzam dengan manisnya mendarat di pipi Anna. Entah sejak kapan bocah itu berguling dan berputar saat tertidur hingga posisinya kini terbalik, kakinya ada di dekat kepala Anna, sedangkan kepala bocah itu menjauh. Tak heran, memang begitulah posisi Azzam saat tertidur. Jungkir balik tak karuan. Percuma posisi tidurnya diperbaiki, nanti juga bolak-balik sendiri.
Malah kadang Azzam pernah menggelinding jatuh dari spring bed ke lantai. Ukuran spring bed yang mencapai ketinggian dua puluh lima centi membuat kepala Azzam membentur lantai dengan suara cukup kuat, tapi bocah itu tidak menangis. Dia hanya melek sebentar dan merangkak mencari tempat nyaman, kemudian melanjutkan tidurnya, masih di lantai.
Sengaja Anna tidak memasang spring bed di atas ranjang karena mengantisipasi terjatuhnya Azzam dari kasur, dan ternyata benar, Azzam sering menggelinding jatuh ke lantai.
Anna tidak bisa marah mendapat tendangan dari kaki Azzam. Melihat bentuk wajah Azzam yang pulas menggemaskan itu saja, Anna sudah tersenyum gemas. Dan itu mengobatinya dari kemarahan apa pun.
TBC