Holy Marriage

Holy Marriage
Si Gemil



“Anna!” Alan melenggang memasuki rumah. Siapa lagi yang dia cari di rumah jika bukan Anna. Beberapa kali memanggil nama Anna, namun tidak ada sahutan. Alan membuka jas dan melemparnya ke sandaran sofa, lalu melepas kancing ujung lengan kemejanya, kiri dan kanan. Tak lupa dia melipat ujung lengan bajunya itu, lalu membanting tubuh ke sofa. Satu kakinya naik ke meja. Matanya terpejam.


Alan menampik sesuatu yang menggerayangi wajahnya. Ah, menggangu saja. Sedang asiknya memejamkan mata, entah benda apa yang meraba-raba kulit wajahnya. Alan menarik sudut bibir saat emncium aroma bayi.


“Azzam!” sebut Alan sambil membuka mata. Dia membelalak melihat si kecil yang pipinya gembul itu memainkan sebuah bulu bekas mainannya ke wajah Alan. Bukan tingkah si kecil yang membuat Alan terkejut, tapi kaki si kecil yang berdiri di sisinya tanpa berpegangan apa pun. Apakah artinya Azzam sudah bisa berjalan?


“Hei, jagoan papa! Bagaimana bisa kamu ada di sini dan berdiri sendiri di sini?” Alan meraih tubuh Azam dan mendudukkan tubuh berat itu ke perutnya.


“Tuan muda Azzam memang sudah bisa berjalan, Tuan!” ucap baby sitter yang sejak tadi ada di sekitar sana. Hanya saja dia tidak berani mendekat ke arah Alan sehingga membiarkan saja saat Azzam mendekati papanya.


“O ya? Azzam sudah bisa berjalan?” Alan memegangi kedua tangan Azzam yang sejak tadi bergerak-gerak terus. “Berapa usia Azzam?”


Weh? Di sini siapa yang punya anak? Bagaimana bisa Alan sampai tidak tahu usia anaknya?


“Sepuluh bulan, Tuan. Sebentar lagi genap sebelas bulan,” jawab baby sitter.


“Sepertinya akhir-akhir ini aku jarang bermain dengan Azzam,” celetuk Alan menyadari waktunya yang akhir-akhir ini habis tersita di luar rumah. “Lihatlah, sepertinya baru kemarin papa menggendongmu saat baru lahir. Dan sekarang kamu sudah sebesar ini?” Alan memperhatikan tubuh putranya yang terlihat sangat cepat perkembangannya. Badan Azzam gemuk, tumbuh sangat subur dan kuat.


“Bagaimana mungkin kamu bisa bermain dengan Azzam, kamu kan jarang di rumah. Beberapa bulan terakhir ini, kamu juga sering ke luar negeri.”


Bukan baby sitter yang menyahut, melainkan Anna. Alan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang menyahutinya. Suara Anna sudah sangat dia kenal. Alan tidak menjawab.


“Dulu, kamu sering meluangkan waktu bersama aku dan Azzam. Meski pun disaat kamu udah janjian denganku untuk liburan dan keseringan janjimu itu batal, aku bisa maklum, kok. Tapi lama-lama kok aku jadi nggak kuat ya jauh-jauhan terus, kita jadi semakin berjarak,” kata Anna.


Alan tersenyum menatap wajah Anna. “Jadi maumu bagaimana, sayang? Oke, aku akan ikuti maumu,” lembut Alan membuat hati Anna basah mendengar nada bicara itu.


Sudah lama Anna tidak mendengar suara Alan yang memanjakannya begitu. Anna mengerucutkan bibirnay menatap suaminya yang tampak lelah. Dalam kondisi lelah pun, Alan masih bisa bersikap selembut itu kepadanya. Terkadang sikap Alan memang sulit ditebak, jika kemarin Alan sempat marah hanya karena sebuah alasan yang tidak dia mengerti, sekarang Alan bersikap selembut ini. Kelembutan sikap Alan memang tidak ada duanya, selalu bisa membuat Anna klepek-klepek. Hanya saja, Alan selalu saja tidak mau berterus terang, dia sanggup menyembunyikan rahasia seorang diri.


Anna duduk di sofa depan Alan. “Aku ingin kamu di rumah saat hari libur.”


Alan menurunkan kakinya ke lantai, kemudian bangkit duduk dan memposisikan tubuh Azzam dalam pangkuannya. Tubuh si kecil yang aktif itu terus bergerak-gerak di pangkuan Alan, sesekali Azzam juga menarik-narik kerah kemeja Alan.


“Aku akan usahakan. Tapi tidak bisa janji,” jawab Alan.


“Nah, itu artinya kamu nggak bisa penuhi permintaanku. Tadi kamu nanyain apa mauku, setelah dijawab tapi nggak dikabulkan.” Anna cemberut.


TBC


.


.


.