Holy Marriage

Holy Marriage
Harapan Terbesar



Anna ingin bilang supaya Alan meninggalkan Cintya, lalu memulai hidup berumah tangga seutuhnya dengannya, tanpa ada orang ketiga. Tidak salah ia menuntut begitu bukan? Menuntut keutuhan rumah tangganya sendiri. Jika dulu ia ingin bercerai dari Alan setelah misinya berhasil, kini semuanya berubah dalam sekejap. Hatinya sudah dibolak-balik hingga kini jatuh cinta pada Alan. Namun Anna sadar, keinginannya itu sangatlah egois. Jika ia berada di posisi Cintya, pasti hatinya akan hancur lebur saat ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintai.


Alan menoleh saat mendengar suara isak tangis. Ia membelitkan handuk ke pinggang lalu mendekati Anna. Menatap air mata yang menetes di wajah wanita itu.


“Hei, kamu menangis? Maaf kalau aku tadi lancang padamu.” Alan mengusap air mata Anna, rautnya menunjukkan penyesalan.


Anna tidak memperdulikan. Tangisnya semakin tersedu saat elusan lembut mengenai rambutnya.


“Anna, plis, jangan menangis. Aku tau aku salah.”


Alan tidak tahu apa yang Anna rasakan. Begitu besar kegundahan yang Anna pendam dan hanya ia rasakan sendiri. Alan meraih tengkuk leher Anna, membawanya bangkit dan meletakkan kepala wanita itu ke lengan kokohnya yang tanpa lapis.


Anna memundurkan tubuh menjauhi Alan. Ia meraih baju dan mengenakannya.


“Kamu marah?” tanya Alan cemas.


“Aku nggak suka lelaki egois sepertimu, yang bisanya hanya memikirkan kepuasan dan kepentingan sendiri. Aku benci kamu.” Anna bingung harus bagaimana mengungkapkan apa yang sekarang ia rasakan. Hanya kekesalan dan kekecewaan yang kini ia tunjukkan, mungkin itu akan bisa sedikit mengurangi beban hidupnya.


Alan mengejar Anna dan memeluknya, berusaha mengambil hati Anna supaya tidak marah padanya.


Pelukan Alan benar-benar menghangatkan hati Anna. Anna damai dalam pelukan itu.


Usai shalat Isya, Anna berdoa, meminta agar Allah menunjukkan jalan terbaik kepadanya, supaya rumah tangganya damai oleh siraman rahmat Allah. Dan Anna memohon ampunan atas kesalahannya selama ini terhadap suaminya. Ia ingin memperbaiki diri dan menjadi istri yang baik.


“Assalamu’alaikum, Ayah!” Anna melempar tubuh ke atas ranjang dengan wajah girang. Meski hanya bicara melalui ponsel, rasanya seperti sudah bertatap muka.


“Wa’alaikumussalam, Anak Ayah!” sahut Herlambang dengan nada gembira di seberang. Getar suaranya menandakan kerinduan yang dipendam. “Semuanya baik-baik aja kan, Nak?”


“Baik, Ayah.”


“Alan mana? Masih kerja?”


“Iya. Belum pulang, Yah.”


“Ya sudah, kamu yang sabar, ya. Suamimu itu kan orang sibuk, jadi kamu mesti mengerti dengan kondisinya kalau dia jarang bersamamu.”


“Pasti, Ayah.”


“Ingat, Nak, jadilah istri yang baik! Sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab Alan. Dia pemimpinmu, bersama-samalah kalian saling membimbing, saling mengingatkan. Apapun yang menjadi kesalahan suamimu, perlu untuk kamu ingatkan dan kamu benarkan. Carilah wasilah untuk mendekatkan diri di jalan Allah. Dan inilah salah satu jalannya, taati suamimu.”


Hati Anna bergetar mendengar nasihat itu. Tekadnya semakin bulat untuk meluruskan tujuan rumah tangganya.


TBC