
“Ada apa ini? kenapa rumah ini jadi seperti kapal pecah begini?” kesal Alan mengamati kaleng minuman yang menggelinding di lantai, asbak yang menelungkup, gelas pecah, vas bunga yang berserakan di lantai.
Hati Anna mencelos mendengar pertanyaan bernada emosi dari Alan. Akhir-akhir ini Alan sering kali menunjukkan sikap tidak menyenangkan. Dulu, Alan selalu mengutamakan Azzam dalam hal apa pun, namun sekarang Alan kerap kesal setiap kali menghadapi kenakalan Azzam.
“Azzam nggak sengaja, Mas Alan. Azzam menarik ujung taplak, dan akhirnya barang-barang yang ada di atas meja pada jatuh semua,” terang Anna. Dia meraih tubuh Azzam dan melepaskan kain taplak dari tangan Azzam.
“Sudahlah, lain kali Azzam jangan dibiarkan main sembarangan,” tegas Alan.
“Perkataanmu itu seolah-olah menunjukkan kalau kamu menyalahkan Azzam. Azzam kan masih bayi, wajar dia bersikap begini. Azzam nggak tahu apa yang dia lakukan, akalnya belum jalan.”
“Akal Azzam memang belum jalan, tapi akalmu jalan, kan? Kamu tahu kalau Azzam suka bikin masalah, lalu kenapa kamu tidak menjaganya dengan benar? Selagi kamu ada di sisinya, maka ini juga menjadi tugasmu. Kamu ibunya, kan?”
Anna sontak terdiam mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Alan. Rasanya nyeri saat mendengar pria yang dia cintai mengucapkan kata-kata tajam. Mungkin bagi wanita lain ucapan seperti itu tidaklah masalah, namun bagi anna terasa berbeda karena selama ini Alan hanya menunjukkan perhatian dan kasih sayang. Tentu saja rasanya menyedihkan saat kasih sayang itu berubah menjadi ucapan yang menusuk.
“Hanya untuk urusan kecil begini saja kamu tidak bisa meng-handle. Lalu bagaimana untuk urusan yang jauh lebih besar dari ini? kamu memang tidak bisa menjadi ibu yang benar,” sambung Alan dengan tatapan datar.
Anna tidak menjawab. Dia menghambur naik ke lantai atas sambil menggendong Azzam. Telapak tangannya mengusap-usap punggung Azzam. Bocah kecil itu meletakkan kepalanya ke pundak Anna, sementara kedua tangan kecilnya direntangkan seakan sedang berpegangan pada tubuh Anna. Mulut kecilnya pun menguap.
Anna memasuki kamar Azzam. “Sayang, kamu bobok dulu ya!” Seperti biasa, Anna mengajak Azzam mengobrol sebagai bahasa Ibu yang mengajarkan anaknya bicara.
Anna menoleh ke arah Azzam. Didapatinya Azzam yang sudah terpejam, pulas.
Anna pun meletakkan tubuh Azzam ke kasur. “Bobok ya sayang!” Anna mengecup kening Azzam lalu menyelimuti tubuh bayi gemuk itu. jemari Anna menyentuh dagu Azzam dan mendorongnya ke atas untuk menutup mulut Azzam yang terbuka.
Anna ke luar kamar. “Jagain Azzam!” ucapnya saat berpapasan dengan Arni di pintu.
“Baik!” Arni mengangguk patuh lalu memasuki kamar Azzam.
Anna memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar Azzam, tak lain kamarnya sendiri. Dia langsung membaringkan tubuh dengan posisi miring, tepatnya membelakangi area tempat tidur yang dia sisakan untuk Alan. Tangannya terjulur menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya sampai ke leher. Matanya terpejam. Masih terngiang dengan jelas di telinganya perkataan menusuk dari Alan. Anna seperti tidak mengenal Alan yang penyayang dan penuh obsesi seperti dulu. Entah kenama Alan yang dulu, sekarang pria itu seperti diubah oleh nenek sihir menjadi pria yang hatinya beku. Anna menarik nafas dalam-dalam saat merasakan cairan melewati kelopak matanya yang sudah terpejam.
BERSAMBUNG
.
.
.