
Beberapa hari kemudian, di rumah sakit yang memiliki ciri khas aroma obat-obatan, Anna tampak setia menunggu Alan, duduk . Pria itu kini berada di ruang rawat setelah menjalani beberapa perawatan khusus oleh dokter yang juga khusus tentunya. Kondisi tubuh Alan sudah mendingan meski masih lemas. Jarum infus masih menusuk di punggung tangannya. Namun mukanya yang tadinya memucat, kini sudah sedikit lebih baik.
Sambil menyuapi Alan makan, Anna menceritakan semua yang sudah terjadi. Naga, alta, Dokter Alfian, dan semua yang terlibat dalam kejahatan, sedang diproses oleh hukum. Dan Alan hanya bisa menatap bangga pada sang istri setelah mendengar semua yang dikisahkan Anna, bahwa Naga adalah sumber petaka dalam hidupnya. Anna begitu gesit dan cerdas, hidup Alan terbebas dari incaran kejahatan atas kepintaran wanita itu.
Saat itu, proses hukum sedang berjalan. Alta, Naga, dokter Alfian akan menanggung dan memoertanggungjawabkan perbuatan mereka di muka hukum.
Alan sudah selesai makan. Anna kembali membantu tubuh Alan berbaring.
“Kamu harus lebih banyak beristirahat, sayang!” Anna tersenyum nmenatap wajah Alan, pria yang sangat dia cintai. Digenggamnya tangan Alan, diusapnya punggung tangan pria itu.
“Maaf, aku harus merepotkanmu.” Alan membalas tatapan Anna yang penuh dnegan cinta.
“Aku ini istrimu. Tentu ini sudah menjadi bagianku.” Anna yang duduk di kursi sisi ranjang, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Alan hingga jarak wajah mereka menjadi dekat.
“Aku minta maaf, terlalu ingin terlihat sempurna di matamu, tapi justru membuatku tanpa sadar mempertaruhkan nyawaku sendiri, juga impianmu untuk bisa hidup bahagia bersamaku sampai rambut kita beruban, nyaris saja kuhancurkan." Alan menyesali.
"Kita hanya perlu melihat masa depan, nggak perlu melihat masa lalu. Kita hanya perlu memperbaiki diri, jadikan masa lalu sebagai pengalaman untuk cermin." Anna menggenggam erat tangan Alan dan meletakkan punggung tangan pria iu ke pipinya.
Alan meraih kepala Anna, menarik kepala wanita itu dan mendekatkan wajah Anna ke wajahnya yang tengah berbaring di bantal. Terpaksa, kepala Anna pun mengikuti gerakan tangan Alan.
"Masih mau kan menciumku?" bisik Alan.
Anna tersenyum dan memusatkan pandangan ke bibir Alan. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, memiringkan kepala. Secenti lagi, bibir mereka bertemu.
Krek!
Pintu terbuka, seseorang mendorong dari luar.
Sontak Anna gelagapan dan memundurkan wajah, memberi jarak pandang diantara keduanya dengan muka memanas.
Kemudian menyusul William, Laura, Stefi dan sosok pria asing, yang tentinya adalah suami Stefi. Pria itu tampak enggan untuk dekat dengan Stefi. Dia juga selalu menjauh dari gadis itu, sangat canggung.
"Alan, bagaimana kondisimu?" Laura tampak lebih cerah dari sebelumnya.
"Lebih baik," jawab Alan.
"Kau beruntung memiliki istri seperti Anna, dia cekatan, sangat cerdas. Tuhan melindungimu melalui Anna." Laura melirik Anna.
Yang dilirik tersenyim simpul.
"Kau terlalu percaya pada Naga. Memang kepercayaan itu dibutuhkan dalam segala hal. Baik saat menjalin bisnis, persahabatan, pasangan, dan segalanya. Tapi kau juga perlu menaruh sedikit saja perhatian khusus pada orang-orang yang kau curigai. Naga begitu picik, dia rela menyingkirkan teman demi kepentingannya sendiri. Dia akan membusuk di penjara atas kasus perencanaan pembunuhan." William tampak berapi-api.
Alan tidak bisa banyak bicara. Dia mengaku salah sudah menyembunyikan masalahnya dari istrinya demi supaya terlihat sempurna di mata Anna.
"Inilah pentingnya saling terbuka pada pasangan. Jangan menyimpan masalah sendirian. Sampai-sampai sakit pun tidak mau memberitahukan istri," cibir William menghakimi.
Anna menyenggol lengan Alan, mengejek suaminya itu yang sedang dihakimi orang tuanya. Yang disenghol pasrah, ampun deh mengaku kalah.
"Azzam mana?" tanya William yang tidak mendapati cucunya di sana.
"Di rumah sama baby siter, nanti dia diantar ke sini sama Arni," jawab Anna.
Setelah cukup lama membesuk, akhirnya Wiliam pamit pergi, mengaku akan mengurus berkas ke pengadilan untuk kasus yang sedang dia urus. Laura dan anak-anak juga berpamitan.
Bersambung