
“Ayah sudah bicara serius dengan Pak Wiliam, dan kami akan menyegerakan pernikahan ini. Kamu mau lihat foto calon suamimu?” Herlambang membuka laci mencari foto lelaki yang disebut.
“Nggak perlu, Yah,” lirih Angel dengan muka sedih. Ia bingung bagaimana caranya menolak keinginan Ayahnya.
Anna melirik ke wajah Angel, ia menangkap pemandangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Mata Angel berair. Ya ampun, Anna sedih sekali melihat Angel yang hampir menangis.
“Yah, sebenernya Angel….” Ucapan Angel terputus. Ia benar-benar takut Ayahnya akan meradang dan mengeluarkan kata-kata amarah.
“Kenapa, Angel?” Herlambang mendekati Angel, merasa ada gelagat kurang menyenangkan. “Ayah mencarikan jodoh terbaik untukmu. Apa kamu mau tahu ciri-cirinya? Atau mau kenalan dulu dengannya? Tidak ada yang Ayah harapkan kecuali putri-putri Ayah mendapatkan lelaki yang baik. Dan itu adalah Alan. Dia pasti bisa menjadi pemimpin yang baik untukmu. Percayalah. Kamu nggak usah ragu.”
“Ta.. Tapi...”
“Kenapa? Katakan!” Herlambang mencoba bijak dalam meentukan sikap.
“Angel… Angel anu...” Angel kembali terdiam. “Anu, Yah. Angel nggak bisa menikah sama lelaki pilihan Ayah.”
Herlambang terkejut hingga ekspresi wajahnya berubah. Selama ini tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya Angel akan menolak kemauannya. Ia meyakini Angel adalah anak yang patuh dan penurut. Tapi keyakinannya tentang Angel ternyata salah. Angel yang selama ini dipandang diam dan patuh justru menolak kemauannya. Jawaban Angel benar-benar membuatnya hampir mati berdiri. Bagaimana tidak? Ia dan Wiliam sudah membicarakan pernikahan itu dengan matang. Bahkan mereka sudah menetapkan tanggal pernikahan. Semuanya sudah dirundingkan bulat-bulat.
“Kenapa, Angel? Kenapa kamu menolak kemauan Ayah?” Herlambang menatap sangar.
Angel diam dan menunduk. Seluruh tubuhnya sudah gemetar ketakutan. Suara Ayahnya yang mengguntur keras seperti bongkahan batu besar menimpa kepalanya.
Angel tiba-tiba bersimpuh di depan kaki Herlambang sebelum Ayahnya itumenghujaninya dengan sumpah serapah, sebelum ketakutannya benar-benar terjadi. Ia menangis sesenggukan.
“Yah, Angel nggak mau nikah jika bukan dengan Colin. Angel mencintai Colin, Yah. Kami udah janji untuk menikah dan membina rumah tangga. Kami sepakat memegang amanah, jangan jadikan Angel pendusta karena mengingkari janji yang udah sama-sama kami pegang. Kemungkinan dua tahun lagi Colin baru akan datang dan memenuhi janjinya untuk menikahi Angel, Yah. Angel sabar kok menunggu Colin. Angel mohon jangan nikahkan Angel sama Alan. Maafin Angel, Yah. Maafin Angel.”
“Jadi selama ini kamu pacaran? Ayah kan sudah melarang kalian berpacaran. Pacaran itu mengundang maksiat,” gertak Herlambang dengan urat rahang mengeras.
“Kak Angel nggak pacaran, Yah.” Anna menyahut demi membela Kakaknya, juga demi meredam kemarahan Ayahnya. “Kak Colin ada di Kalimantan sekarang. Antara Kak Angel dan Kak Colin nggak pernah berhubungan lebih kecuali saling menanyakan kabar lewat ponsel. Itu doang. Anna tau banget mereka nggak berbuat yang lebih. Didikan Ayah ke kami nggak gagal.”
Herlambang memejamkan mata, panik. Dilema akut. Antara tidak mau putrinya terluka atas keputusannya, hingga akhirnya Angel akan menjalani rumah tangga yang menyakitkan, juga tidak mau kesepakatannya dengan Wiliam dibatalkan. Rasanya malu sekali.
TBC
jangan lupa klik like dan sumbangin poin buat dukung cerita ini.
love,
Emma Shu