Holy Marriage

Holy Marriage
Pesta Pernikahan



Pesta mewah pernikahan Anna dan Alan dilangsungkan di Bali, di sebuah hotel elit yang menyediakan berbagai menu hidangan serba wah. Dengan dekorasi dan hiasan menakjubkan, pesta berlangsung sangat meriah.


Wiliam tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas bagi satu-satunya anak lelakinya. Ia rela menghabiskan uang empat milyar untuk pesta pernikahan putranya itu. Seluruh keluarga besar Wiliam hadir. Tujuh turunan tidak ada yang absen. Clarita dan Stefi juga turut menyaksikan.


Sementara dari keluarga Anna, hanya Herlambang, Angel dan orang-orang terdekat yang hadir di sana, mengingat Herlambang tidak ingin ada banyak orang yang tahu tentang pernikahan Anna, sehingga ia tidak mengundang banyak orang dari pihaknya supaya kabar pernikahan Anna tidak sampai terdengar ke sekolahnya.


Tamu undangan yang hadir membanjiri hotel, berasal dari client, relasi, dan kolega yang datangnya bukan hanya dari warga negara Indonesia saja, tapi juga dari luar negeri. Baik Jerman, Itali, Kanada, dan masih banyak negara lainnya. Mayoritas dari negara Jepang, Korea dan Cina. Ratusan karyawan dari perusahaan MGN Group turut menghadiri acara tersebut. Wiliam sudah mempersiapkan kamar untuk para tamu undangan yang hadir di hotel itu.


Ruangan luas hotel yang disewa, dipadati ribuan orang. Vas-vas bunga yang menjejal di sudut ruangan itu akan menjadi saksi bisu betapa ramai dan meriahnya pesta pernikahan tersebut.


Dengan dilangsungkannya pesta tersebut di Bali, maka tidak satu pun guru atau murid di SMA Pancasila yang mengetahui bahwa Anna sudah menikah.


Alan tampak rileks dan memperagakan gaya dengan luwes sesuai perintah fotografer. Tapi Anna tampak begitu kaku dan kesulitan memperagakan ekspresi yang diminta, hingga sang fotografer berkali-kali memberi Anna wejangan agar Anna tetap tenang dan santai. Bahkan Anna sampai berkali-kali diberi minuman air mineral supaya ketegangannya menghilang, sampai-sampai Anna bolak-balik ke kamar kecil hanya untuk buang air kecil.


Sesungguhnya ada satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di benak Anna. Anna merasakan seperti ada yang berbeda ketika Alan diminta untuk memeluknya dari belakang. Rasanya pelukan itu terlalu kuat bahkan tangan kanan Alan sedikit menyentuh dada bawahnya. Alan sengaja atau gimana?


Anna merasa capek, ratu semalam ternyata melelahkan. Bahkan ia mesti memperagakan gaya aneh-aneh yang rasanya penuh dengan kepura-puraan. Andai saja pernikahan itu benar-benar pernikahan yang ia inginkan, tentu rasa lelah akan terbayarkan dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


Jari-jari tangan kiri Anna merekat erat di sela jari-jari kanan Alan. Ia menuruti dan mengikuti gerakan Alan tanpa sedikitpun pemberontakan saat Alan menyelipkan jari-jari hingga membuat jari-jari mereka menyatu. Sementara lengan kiri Alan melingkar manis di pinggang Anna, terpaksa tangan kanan Anna memegang pundak Alan, akan lucu jika tangan kanannya itu melenggang di udara. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang terkikis habis. Ya, mereka sedang berdansa bersama dengan para tamu lainnya yang juga ikut berdansa. Sebagian hanya berdiri menikmati minuman.


Tbc