Holy Marriage

Holy Marriage
Tentang Foto



“Anna...” seru Reno.


“Pulanglah!” potong Anna. “Keputusan gue udah bulat. Apapun yang akan lo katakan, nggak akan ngerubah keputusan gue. Sia-sia lo buang waktu di sini.”


“Anna, dengerin gue dulu. Kasih gue kesempatan buat ngomong. Ini murni bukan dari Alan, tapi dari gue sendiri. Gue tau permasalahan lo beberapa detik sebelum Alan dalam keadaan koma.”


Koma? Alan sekarang koma? Kenapa Alan sampai bisa koma? Ah, Anna tidak mau memikirkan hal itu. Ia berusaha membuat hatinya beku, tidak perduli pada Alan. Untuk apa perduli pada orang yang sama sekali tidak memperdulikannya? Pengkhianat itu tidak perlu dikasihani, biarlah dia menanggung sendiri. Mungkin itu adalah hukuman atas perbuatannya.


“Jangan katakan apapun. Gue sekarang bukan siapa-siapa lagi di mata Alan. Biarlah Cintya yang mengurusinya. Gue menyerah.”


“Anna, lo bakalan nyesel kalo nggak mau dengerin penjelasan gue. Dan air mata nggak akan ngembaliin keadaan jika saja Alan meninggalkan dunia ini. Ingatkah waktu gue dateng ke rumah Pak William dan hampir saja mengungkapkan rahasia besar dalam kehidupan Alan? Itulah yang akan gue sampein ke lo.”


***


“Buruan, apa yang mau lo katakan?” ketus Anna saat ia sudah duduk berhadapan dengan Reno di sebuah warung makan. Dua gelas jus tersaji di meja.


Sialan, Reno telah membuatnya terpaksa berada di sana karena pria itu terus berteriak sebelum Anna keluar. Anna tidak mau ayahnya mengetahui masalah rumah tangganya, sehingga ia terpaksa mencari tempat aman untuk bicara dengan Reno. Tepatnya di sebuah rumah makan tak jauh dari rumahnya. Anna hanya perlu berjalan kaki utuk sampai di sana, sementara Reno mengendarai mobilnya.


“Sesungguhnya Alan sangat mencintai lo.” Reno meneguk jusnya tanpa melalui sedotan.


Anna tersenyum sinis. “Udah gue duga, pasti lo bakalan bilang begitu. Gue tau apa yang Alan lakukan sesaat sebelum gue memilih pulang ke rumah ayah gue. Apakah bercumbu dengan Cintya itu adalah salah satu bukti kalo dia cinta mati sama gue?”


“Hentikan omong kosong ini. Gue bakalan pergi kalo lo Cuma ngebahas hal masuk akal begini.”


“Tunggu, Anna!” Reno menarik lengan Anna, menahan wanita itu hingga Anna terpaksa kembali duduk. “Alan adalah pria paling angkuh yang pernah gue kenal, gengsinya terlalu tinggi, bahkan untuk mengakui cintanya ke orang paling dia cintai pun dia nggak mau demi menjaga harga dirinya. Apa itu namanya kalau bukan angkuh?”


“To the point. Gue masih nggak ngerti.”


“Lo tau foto siapa yang ada di walpaper Alan? Foto gadis kecil yang bertahun-tahun jadi walpaper di sana dan Alan nggak pernah mau menggantinya.”


“Foto Stefi atau Clarita mungin. Apa pentingnya gue tahu soal itu?”


“Itu adalah foto lo.”


Anna membelalak.


“Sejak lo masih ingusan, Alan udah jatuh cinta sama lo. Nggak ada cewek laen yang dia cinta selain lo. Satu-satunya orang yang dia sayangi Cuma lo. Sejak dulu, dia sering perhatiin lo dari kejauhan, dia selalu awasin lo sejak lo masih berusia dua belas tahun. Saat itu lo tinggal di rumah lama, sampai di rumah baru, dia tau alamat lo, dia tau semuanya tentang lo. Warna kesukaan lo, benda kesukaan lo, makanan kesukaan lo, tanggal lahir lo, nama lengkap lo, dia tahu semuanya. Alasannya apa? Dia cinta sama lo.”


TBC