
Melihat Anna siuman, Rafa tidak jadi pergi dan kini berdiri mematung di belakang Alan.
“Aku nggak pa-pa, kan?” tanya Anna sembari memegang tangan Alan.
“Nggak pa-pa,” jawab Alan dingin. Tatapannya tidak bersahabat, tidak ada keteduhan dan tidak ada kehangatan. Bahkan Alan menarik tangannya hingga terlepas dari pegangan Anna.
“Makasih udah bawa aku ke sini, Mas Alan.”
“Aldi yang menggendongmu ke sini. Jadi, di kampus kalian sangat dekat? Ah, sudahlah bukan saatnya membahas itu. Setelah ini kamu udah boleh pulang. Stefi akan mengantarmu.” Alan balik badan dan berlalu pergi begitu saja.
Anna merasakan nyeri yang luar biasa melihat sikap dingin Alan. bahkan Alan menyuruhnya pulang bersama Stefi. Kenapa bukan Alan saja yang membawanya pulang? Bukankah Alan dating ke kampus untuk menjemputnya? Tapi ia membatalkan niatnya itu. Alan sedang marah padanya. Tapi kenapa harus marah? Apa gara-gara Aldi menggendongnya? Tapi itu bukan kesalahannya bukan?
“Heh, kecoa buntung! Ngapain masih di sini? Pergi sana! Bikin kotor kamar aja, deh,” celetuk Stefi pada Rafa yang masih berdiri seperti tunggul di sana.
Tanpa menggubris perkataan Stefi, Rafa mendekati ranjang tempat Anna berbaring dan tersenyum lebar. “Masih pusing?”
“Tinggalin gue, Raf!” ucap Anna.
“Oke, gue pergi. Jaga diri baik-baik. Di sekeliling lo ada banyak marabahaya.” Rafa mengerlingkan sebelah mata pada Stefi yang langsung disambut dengan mata melotot oleh Stefi.
Begitu mudahnya Rafa meninggalkan ruangan setelah Anna yang memerintah, padahal Stefi sudah susah payah mengusirnya sejak tadi.
Anna bangun dan duduk dengan gerakan pelan karena kepalanya masih agak pusing. Kemudian tangannya memegangi pelipis dan mata terpejam ketika merasakan bumi bergoyang-goyang.
“Hati-hati!” Stefi mendekati Anna dan memegangi bahu Anna untuk memberi kekuatan supaya Anna tidak tumbang lagi.
“Nggak pa-pa. Cuma pusing dikit.”
“Kamu pulangnya bareng aku. Jangan khawatir. Aku bakalan ngejagain kamu, kok.”
Hati Anna malah semakin tidak nyaman mendengar kalimat yang diucapkan Stefi. Seharusnya Alan yang mengucapkan kata-kata itu, tapi kenapa malah Stefi?
“Mas Alan marah sama aku ya, Stef?” Anna menatap Stefi sendu. Belum pernah sebelumnya ia menerima perlakuan seperti yang Alan lakukan sekarang. Dan tiba-tiba Alan menunjukkan sikap berbeda. Menghadapi sikap dingin seseorang yang dicintai itu lebih menyakitkan dari pada menghadapi kejamnya seseorang yang tidak dicintai.
Stefi menarik napas panjang, dan melepasnya pelan. Benar, Alan marah pada Anna. Dan Stefi melihat dengan jelas kekesalan Alan tersebut melalui ekspresi dan sikapnya yang dingin.
“Kak An, Kak Alan cuma lagi cemburu aja. Dia ngeliat Kakak digendong sama Pak Dosen ganteng, itu pasti bikin dia jeles. Jangan beranggapan sikap Kak Alan yang begini karena dia benci. Alasannya cuma satu, karena dia sayang sama Kak Anna.”
Anna mengangguk meski hatinya berkata lain. Sampai detik ini ia belum bisa megenani kepribadian suaminya snediri, ekspresi Alan sangat sulit ditebak. Jika Alan menyayanginya, kenapa Alan menyalahkannya? Dia dalam posisi tidak sadar saat digendong Aldi. Semua terjadi bukan atas kehendaknya. Seharusnya Alan tidak bersikap demikian. Meski kenyataannya ia tahu Alan hanya sedang merasa cemburu, tapi sikap Alan yang tidak biasa membuatnya merasa sakit.
TBC