Holy Marriage

Holy Marriage
Harapan Ortu



Alan dan Anna kembali ke mobil setelah urusan pembelian barang-barang bayi selesai.


“Mas!” panggil Anna ketika mereka sudah duduk di atas mobil yang melaju.


“Ya?” Alan menoleh dan menatap wajah cantik istrinya. “Kenapa kenapa?”


“Kalau aku lahiran, Mas harus nemenin aku, loh. Sehari sebelum aku lahiran, Mas wajib ada di sampingku. Jangan tinggalin aku!”


“Iya iya, sayang!” Alan mengangkat tangan kiringan dan mengusap pucuk kerudung Anna.


“Lihatlah, kamu belum lahiran aja, aku udah sisain waktu banyak buat kamu, ya kan?”


“Yang kubutuhkan pas lahirannya, Mas. Bukan sekarang.”


Alan tersenyum. “Jangan cemas, Baby! Apa sih yang enggak kukasih buatmu? Waktuku semuanya kamu ambil juga nggak pa-pa, dan aku nggak perlu bekerja. Kita habiskan waktu berduaan terus sepanjang hari.” Alan meraih tangan Anna dan mengecup singkat punggung telapak tangan istrinya itu.


“Preeeet!”


“Kamu kentut?”


“Hahaaa...”


“Abisnya bunyinya pret.”


Dering ponsel memutus perbincangan mereka. Alan mengambil ponsel dari saki celananya. William memanggil.


“Siapa?” tanya Anna.


“Papa,” jawab Alan kemudian menempelkan ponsel ke telinga setelah sebelumnya menggeser tombol hijau. “Ya, Pa?”


“Alan, kok kamu belum kasih kabar juga? Kapan Anna lahiran?” William terdengar antusias dan tidak sabar. Maklumlah, cucu pertama.


“Ooh...” William menghela napas. “Ya sudah, kamu jagain Anna, ya!”


“Iya, Pa!”


“Eeehh... Tunggu-tunggu, jangan dimatikan dulu!” suara serak seorang nenek menyahut dari seberang. Ponsel Wiliam sudah berpindah ke tangan nenek tentunya. “Alan, kalau istrimu sudah ada tanda-tanda melahirkan, kamu harus cepat memberi kabar kepada nenek. Ingat, ngasih kabarnya pas Anna sudah mulai merasa ada kontraksi, jangan pas sudah lahiran di rumah sakit. Nenek ingin memberi dukungan pada Anna.”


“Iya, Nek.” Tidak ada kata-kata yang bisa Alan ucapkan selain kata itu, neneknya itu cerewet sekali. Bagaimana bisa Alan menyela dengan banyak kalimat. Bahkan belum selesai Alan menutup mulut setelah mengucap kata Nek, neneknya itu sudah berbicara lagi.


“Kamu harus perhatikan kondisi istrimu, perempuan yang sedang hamil membutuhkan perhatian ekstra dari suaminya. Jangan sampai Anna punya beban pikiran, itu akan mempengaruhi kondisi janinnya. Ingatkan dia supaya mengkonsumsi makanan yang sehat, jangan sembarangan makan.”


Ya ampun, Alan menghela napas mendengar serentetan kalimat yang diucapkan neneknya. Bahkan sampai kini pikiran Alan melayang entah kemana-mana, neneknya itu belum selesai bicara, kayak sedang berpidato saja.


“Udah, Nek?” tanya Alan yang mulai jengah dengan pesan-pesan itu. Kini Alan mengerti dari mana asal sikap over protektif yang dia miliki.


“Bawa Anna pulang ke sini. Nenek mau ketemu.”


“Anna capek, Nek. Lain kali aja ya, Nek. Dadaaa Nenek imut yang comel.” Alan melempar ponsel ke dashboard sembari terkikik. Neneknya di sana pasti sedang ngomel karena teleponnya dimatikan sebelum dia selesai bicara.


“Nenek dateng ke rumah Papa William ya, Mas?” tanya Anna penasaran, sebab yang menelepon tadi Papa William, tapi kok berubah jadi nenek.


“Iya. Papa sama Nenek nungguin banget anak kita lahir. Udah berapa kali coba Papa nanyain kapan kamu ngelahirin?”


“Heheee... Masih lama lagi ya, Mas?”


“Aku sebenernya juga udah nggak sabar pengen jadi ayah.” Alan kembali mengecup punggung tangan Anna, kali ini cukup lama.


***


TBC